Renungan H-4 Ramadhan : Jiwa yang Kehausan dan Kelaparan

Oleh Ali Farkhan Tsani, Duta Al-Quds, Alumni Mu’assasah Al-Quds Ad-Dauly Sana’a, Yaman, Da’i Pesantren Al-Fatah Cileungsi, Bogor, Jabar

 

Fisik memerlukan konsumsi makanan dan minuman yang halal dan bergizi. Sehingga badan dapat tumbuh sehat, kuat dan fit untuk beraktivitas.

Fisik untuk tampil baik dan menarik, juga perlu berpakaian yang bagus, dilengkapi dengan jam tangan dan kadang cincin.

Masih belum cukup, fisik perlu kendaraan, rumah, dan aksessories lainnya. Jabatan, pangkat, harta dan semua fasilitas, melengkapi penampilan kerjanya.

Itu semua fisik, materi, dan kasat mata. Karena manusia bersifat fisik, maka itu semua dicarinya, bahkan dikejarnya untuk mendapatkannya.

Namun, setelah tiba masanya, ajal jatuh tempo. Tidak bisa dimajukan atau dimundurkan walau sedetik. Semua peninggalan fisik itu tidak ikut masuk ke liang lahat. Hanya seonggok badan di dalam tanah seukuran manusia berbaring saja.

Yang tetap ada ada ruhnya, yang akan menerima ganjaran pahala dan dosa dari apa-apa yang pernah dikatakan dan diperbuatnya semasa hidupnya.

Herannya, banyak manusia lalai dari memelihara, merawat dan memfasilitasi ruhnya atau jiwanya dengan konsumsi yang sepadan.

Kalau fisik perlu makanan fisik. Maka, ruh atau jiwa waktu hidupnya memerlukan konsumsi non-materi. Jiwa perlu diisi dengan Al-Quran, dzikrullah dan amalan-amalan jiwa.

Di antaranya, Allah menyebutkan di dalam ayat-Nya:

إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُہُمۡ وَإِذَا تُلِيَتۡ عَلَيۡہِمۡ ءَايَـٰتُهُ ۥ زَادَتۡہُمۡ إِيمَـٰنً۬ا وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu (yang sempurna imannya) ialah mereka yang apabila disebut nama Allah (dan sifat-sifatNya) gementarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menjadikan mereka bertambah iman dan kepada Tuhan mereka jualah mereka berserah”. (QS Al-Anfal [8]: 2).

Jiwa orang beriman itu senang dengan dzikrullah, menyebut nama-nama Allah. Jiwa orang beriman itu senang membaca dan mendengarkan ayat-ayat Al-Quran. Jiwa orang beriman itu seang dengan ketaatan.

Maka, kalau di dalam jiwa seseorang tidak ada atau sedikit konsumsi dzikrullahnya, bacaan Qurannya, dan sejenisnya. Maka, dipastikan jiwanya akan kehausan dan kelaparan. Tidak ada ketenangan dan keteguhan iman. Enggan beribadah dan kikir bersedekah. Karena, jiwanya gersang dan tandus.

Kalau itu dibiarkan, seperti badan tanpa makanan dan minuman. Ibarat tanaman tanpa siraman air dan pupuk. Lama-lama layu, tidak berkembang, sakit, dan mati.

Memang, kadang ada orang untuk memperoleh ketenangan, ia mendengarkan musik-musik instrumentalia, bermeditasi dalam waktu yang lama, atau berfoya-foya, bercanda ria, berbuat maksiat semena-mena.

Namun, ibarat makanan. Ya itu asupan jiwa juga. Tapi makanan yang tidak sehat, tidak bergizi bahkan cenderung dapat menjadi racun.

Saat ini, di tengah ujian dan musibah virus Corona yang mengglobal. Saatnya kita lihat ke dalam jiwa iman kita masing-masing. Saat ini Allah berikan kesempatan kita untuk memperbaiki jiwa kita, memberikan konsumsi yang bergizi.

Dalam beberapa hari jelang Ramadhan, ada baiknya kita mulai biasakan One Day One Juz, dzikrullah, doa pagi petang, dan sejenisnya. Menunjukkan bahwa kita sangat mendambakan Ramadhan tiba. Dan nanti akan kita tingkatkan pada bulan suci Rmadhan.

Ya, semoga kita dapat menyempurnakan perbaikan jiwa, ruh, iman kita pada bulan penuh ampunan Ramadhan ini. Aamiin. (A/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)