Renungan H-5 Ramadhan : Mengharap Ridha Allah

Oleh Ali Farkhan Tsani, Duta Al-Quds, Alumni Mu’assasah Al-Quds Ad-Dauly Sana’a, Yaman, Da’i Pesantren Al-Fatah Cileungsi, Bogor, Jabar

 

Hidup berganti dari satu harapan ke harapan berikutnya. Hari ini kita berharap anak pertama kita diterima kuliah di perguruan tinggi favorit. Besok kita berharap segera punya rumah tingkat.

Belum selesai satu hajat, kita berharap suami kita naik promosi. Kita berharap istri kita semakin shalihah. Kita berharap ini, itu….. dst.

Umumnya harapan-harapan itu sifatnya duniawi, materi dan yang kasat mata. Jarang kita berharap yang sifatnya ukhrawi. Terutama berharap (roja’) kepada Allah.

Imam Al-Ghazali menggambarkannya, berharap yang benar itu ibarat seorang menanam benih tanaman yang baik di tanah yang subur. Kemudian ia menyiraminya. Ia berharap tanaman itu dapat tumbuh dan kelak bisa memetik hasilnya.

Sedangkan berharap yang salah itu menanam benih kualitas rendah di tanah yang tandus dan tidak pernah menyiraminya. Lalu ia berkata, “Saya berharap Allah menumbuhkannya.”

Adapun tanda-tanda seorang hamba itu berharap kepada Allah, paling tidak ada dua tandanya:

Pertama, ia taat kepada Allah. Perbuatan taat menunjukkan dirinya berharap Allah berkenan menilainya dengan baik. Termasuk perbuatan taat adalah dengan gemar melakukan kebaikan-kebaikan.

Maka, bagaimana mungkin ia berharap pahala, ridha dan surga Allah. Namun ia tidak melakukan ketaatan. Ia tidak pula suka berbuat kebajikan?

Allah telah menegur kita di dalam kalam suci-Nya :

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Artinya: “Maka, barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shaleh dan janganlah mempersekutukan dengan apapun dalam beribadah kepada Tuhanya.” (QS Al-Kahfi : 110).

Kedua, dengan berdoa kepada Allah. Berdoa artinya memohon, mengajukan, merajuk, mengharap. Maka, tiap selesai shalat misalnya, seorang hamba itu setelah berdzikir dan bershalawat, ia akan berdoa kepada Allah. Berharap shalat diterima Allah.

Tiap dia akan melakukan pekerjaan apapun, ia akan berdoa kepada-Nya. Mau makan ia berdoa, mohon keberkahan. Selesai maka ia pun berdoa menyampaikan pujian.

Akan bekerja ia berdoa, bertawakkal kepada Allah dan mohon bimbingan rezki yag halal. Selesai bekerja ia pun kembali berdoa mohon ampunan atas kekhilafan.

Maka, orang yang jarang berdoa menunjukkan ia tidak berharap kepada Allah. Ia tidak berharap apakah amalnya diterima. Ia juga tidak berharap mau diampuni atau tidak ya terserah.

Nah, tidak sampai sepekan, bulan ampunan, bulan penuh harapan, Ramadhan segera tiba. Kita tentu sekali lagi berharap, Allah panjangkan umur kita, sehatkan badan kita, dan kuatkan iman kita untuk dapat memaksimalkan ibadah di bulan Ramadhan, di tengah wabah pandemi Corona. Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin. (A/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)