Renungan Ramadhan H1 : Momentum Terbaik

Oleh Ali Farkhan Tsani, Direktur Islamic Center Ma’had Tahfiz DTI Bekasi Jabar, Alumni Mu’assasah Al-Quds Ad-Dauly Sana’a Yaman

 

“Marhaban Yaa Ramdhan,” selamat datang wahai bulan suci Ramadhan. Selamat datang bulan Al-Quran, bulan ampunan dan bulan penuh keberkahan.

Walau sekarang masih dalam situasi wabah Corona. Namun tidak mengurangi penghormatan kita kaum Muslimin terhafap keutamaan dan kemuliaan Ramadhan.

Walau mungkin masjid/musholla di sekitar tidak menyelenggarakan shalat tarawih karena pembatasan dan pencegahan virus Covid-10. Juga tidak ada lagi buka bersama di masjid. Namun, kita bisa melaksanakannya di rumah. Kita masih bisa mengirimkan santunan Ramadhan ke nomor-nomor rekening lembaga-lembaga amal sosial.

Terlebih ibadah puasa Ramadhan itu hendak mengantarkan kita ke tempat terpuji dan tertinggi di sisi Allah, yaitu derajat takwa. Seperti firman Allah:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa”. (Q.S. Al-Baqarah [2] : 183).

Di dalam Tafsir Ibnu Katsir menyebutkan, melalui surat Al-Baqarah ayat 183 ini, Allah berbicara kepada orang-orang beriman dan memerintahkan puasa kepada mereka. Karena itu, ayat ini disebut juga dengan seruan panggilan untuk orang-orang beriman (an-nida lil mukminin).

Adapun ujung ayat ini merupakan tujuan puasa, yakni mempersiapkan diri untuk menjadi orang yang bertakwa kepada Allah (la’allakum tattaqun).

Karena tu, marilah momentum Ramadhan ini kita jadikan sebagai kesempatan terbaik meningkatkan ibadah dan amal-amal kebajikan.

Ini kesempatan One Day One Juz, karena terbuka waktu banyak di rumah. Saatnya banyak waktu mendalami ilmu-ilmu keislaman, baik melalui buku maupun media sosial, dsb.

Termasuk peluang memperbanyak karya-karya tulisan untuk mencerahkan umat. Terlebih bagi wartawan atau penulis, jika biasanya mengirim tiga berita misalnya. Maka, Ramadhan saat dilipatgandakan pahala kebaikan, setidaknya bisa mengirim dua kali lipatnya.

Juga para juru dakwah bisa menggunakan media social untuk menyampaikan tausiyahnya secara online. Demikian pula guru-guru memberikan materinya kepada murid-muridnya secara online.

Jadi, tidak ada istilah libur dalam kebaikan. Justru menambah kualitas kebajikan. Tidak juga memperbanyak tidur karena beralasan, tidurnya orang puasa itu badah.

Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah.” Begitu hadits yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi. Namun seperti disuraikan Syaikh Al-Albani, di dalam hadits tersebut terdapat Ma’ruf bin Hasan, perowi yang dho’if (lemah). Juga dalam hadits ini terdapat Sulaiman bin ‘Amr yang lebih dho’if dari Ma’ruf bin Hasan.

Tentu kita tidak ingin mengurangi produktivitas amal pada bulan termulia Ramadhan ini. Sebab momentumnya tidk akan terjadi dua kali dalam setahun. Tahun depan pun belum tentu kita menjumpainya.

Semoga Allah memberikan kita kekuatan dan kesehatan lahir batin untuk dapat beribadah dan beramal kebajikan sepanjang bulan Ramadhan. Aamiin. (A/RS2/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)