Renungan Ramadhan H20: I’tikaf Mensucikan Diri

Oleh Ali Farkhan Tsani, Direktur Islamic Center Ma’had Tahfiz Daarut Tarbiyah Indonesia (DTI Foundation) Bekasi Jabar

 

Ada satu ibadah pada bulan suci Ramadhan yang biasanya dilakukan oleh kaum Muslimin, yaitu melaksanakan i’tikaf di masjid, terutama pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Hal ini sebagaimana disunnahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan diikuti para sahabatnya yang mulia dan umatnya yang setia menghidupkan sunnah Nabinya.

I’tikaf kiranya dapat dijadikan sebagai sarana muhasabah (evaluasi diri), memperbanyak mengingat Allah (tadzakkur), dan memikirkan karunia-Nya (tafakkur) untuk memelihara dan meningkatkan kualitas takwa.

Karenanya, i’tikaf disyariatkan dalam rangka mensucikan jiwa (tazkiyatun nafs) dengan berkonsentrasi untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah pada waktu yang sangat terbatas, hanya sepuluh hari dari 365 hari dalam setahun. Namun memiliki nilai yang amat tinggi di sisi Allah.

Untuk itu, seorang yang sedang beri’tikaf hendaknya menyibukkan diri dengan dzikir, istighfar, tilawah Al-Qur’an, shalat, munajat dan berdoa kepada Allah serta amal ibadah dan perbuatan baik lainnya. Ia juga harus menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak bermanfaat yang bisa menodai kesempurnaan i’tikafnya.

Sehingga diharapkan setelah i’tikaf, iman dan jiwa seseorang akan lebih fresh dan dapat menjalani aktivitas kesehariannya dalam menjalani sisa hidupnya menuju kampung akhirat.

Tentu pada masa pandemi Corona saat ini, memang masih ada yang terkendala melaksanakannya, mengingat mungkin zona merah virus masih berlaku di daerah tersebut.

Namun tentu tazkiyatun nafs, mensucikan diri, beribadah lainnya masih dapat dilakukan walaupun terpaksa harus di rumah karena kondisi darurat.

Dengan i’tikaf ini diharapkan menjadi penyempurna ibadah puasa Ramadhan kita. Seperti Allah sebutkan di dalam ayat :

ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى الَّيْلِ وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللهِ فَلاَ تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللهُ ءَايَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ…..

Artinya: “……kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf di dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.” (QS Al-Baqarah [2]: 187).

Tentang i’tikaf ini, Syaikh Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah mengingatkan, untuk menjaga hati tetap istiqamah dalam rute perjalanan setahun, memerlukan kekhusyuan pensucian diri secara berkala, agar tidak kusut. Kusutnya hati tidak akan sembuh kecuali dengan secara khusus menghadapkan diri kepada Allah. Dan i’tikaf pada akhir bulan suci Ramadhan, itulah momen terbaiknya.

Karena itu, dengan mohon petunjuk dan pertolongan Allah, marilah kita upayakan dapat menyempurnakan puasa Ramadhan kita dengan beri’tikaf pada sepuluh hari yang akhir Ramadhan di masjid, sesuai kadar kemapuan dan situasi kita di tempat masing-masing. Semoga Allah memudahkan niat dan langkah kita dalam kebaikan pada bulan suci Ramadhan ini. Aamiin Yaa Robbal ‘Aalamiin. (A/RS2/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)