Renungan Ramadhan H23: Corona Membawa Hikmah

Oleh Ali Farkhan Tsani, Direktur Islamic Center Ma’had Tahfiz Daarut Tarbiyah Indonesia (DTI Foundation) Bekasi Jabar

 

Boleh jadi satu hal yang dipandang keburukan, ada sisi kebaikannya. Tinggal tergantung dari sudut mana kita melihatnya saja.

Musibah sekalipun, walau kelihatannya menyedihkan, menyesakkan dan membuat susah. Namun pasti ada hikmahnya di balik semuanya.

Justru terkadang, dengan ujian berbagai musibah dan bencana, Allah sedang menyiapkan kita ke tempat yang mulia di sisi-Nya. Allah bermaksud hendak menerima kita sebagai hamba-Nya, jika dengan musibah itu kita beristighfar, bertaubat, dan mengakui segala kesalahan kita, dan mengakui segala kemahabesaran Allah.

Sebaliknya, terkadang seorang diuji dengan kesenangan, seperti harta yang banyak, istri, anak-anak, kedudukan, jabatan dan lainnya. Namun  bukan tambah mulia di sisi Allah, jika tidak menjadikannya untuk taat kepada Allah.

Karenanya, kita mesti yakin kepada ketentuan dan kekuasaan Allah, bahwa apa yang ditakdirkan Allah terjadi niscaya akan menimpa manusia atau sesuatu, tidak meleset sedikit pun. Sedangkan apa yang tidak ditakdirkan oleh-Nya pasti tidak akan menimpa seseorang atau sesuatu.

Termasuk mewabahnya virus Corona (Covid19) yang mendunia saat ini. Allah pasti memberikan bebagai hikmah di balik semuanya. Misalnya keluarga menjadi lebih dekat karena banyak di rumah, yang biasanya masing-masing sibuk sendiri-sendiri.

Negara atau komunitas jadi sadar pentingnya ketahanan pangan mandiri, tanpa bergantung pada impor. Terutama karena pembatasan atau lockdown seara luas.

Dunia pendidikan pun beralih ke metode daring atau online untuk proses pembelajarannya. Memaksa insan-insan pendidikan bisa mengguakan teknologi informasi yang sederhana seperti digunakan pada media sosial.

Apalagi ini bulan suci Ramadhan. Di beberapa masjid yang lingkungannya masuk zona merah, tentu ada sang abi atau ayah mendadak menjadi imam shalat tarawih di rumahnya. Lalu ada sedikit kultum dari kakak yang lagi liburan dari mondoknya. Lanjut tadarus keluarga. Sahur dan buka pun jadi lebih sering bareng-bareng.

Masih banyak lagi hikmahnya bila mau diurai satau demi satu dari segi politik, ekonomi, sosial, budaya, lingkungan dan sebaganya.

Semua tidak ada yang sia-sia, asal kita mau berfikir mengambil berbagai hikmah dan sisi positifnya, seraya berhusnudzan dan taqarrub kepada Allah. Juga berdzikir, mengingat akan kemahabesaran-Nya, serta kekerdilan diri kita masing-masing yang tak boleh bersikap sombong sedikitpun.

Allah mengingatkan kita di dalam ayat:

 إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَءَايَٰتٍ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ ()ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًا سُبْحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّار

Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS Ali Imran 190-191).

Nah, hari-hari menjelang berakhirnya bulan suci Ramadhan, bulan pengabulan doa-doa, marilah kita perbanyak bermunajat kepada Allah untuk segala kebaikan dunia akhirat.

Terutama doa, “Semoga Allah segera angkat wabah virus Corona ini dari bumi Indonesia pada khususnya dan dunia pada umumnya.” Aamiin. (A/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)