Renungan Ramadhan H9: Menjaga Lisan

Oleh Ali Farkhan Tsani, Direktur Islamic Center Ma’had Tahfiz Daarut Tarbiyah Indonesia (DTI Foundation) Bekasi Jabar

 

Pepatah mengatakan, “Memang lidah tak bertulang.” Sehingga lidah mudah saja berkata, kadang kata-kata yang dihasilkannya baik, seringkali buruk.

Orang pun pandai bersilat lidah. Sehingga kadang keburukan dipandang kebaikan, hingga banyak pengikutnya. Sebaliknya, seringkali justru kebenaran dicap keburukan, agar orang ramai menjauhinya.

Pepatah lain menyebutkan, “Mulutmu harimaumu.” Menunjukkan ketajaman lidah dapat mengganas bak harimau mau menrkam mangsanya. Ujaran kebencian, firnah, adu domba, perkataan hoaks, dan sejenisnya, acapkali diucapkan seseorang. Baik sadar atau tak menyadarinya.

Ada juga peribahasa yang mengatakan, “Bahasa menunjukkan bangsa,” menunjukkan bahwa kata-kata seorang, unggahan di media sosial, juga tulisan-tulisannya, itu menunjukkan jatidirinya.

Orang yang suka berkata jorok, lebih menjurus ke pornografi, dan kotor, ya itulah pribadinya.

Sebaliknya, kalimat santun, khusyu, tawadhu lagi menyejukkan juga menunjukkan kepribadianya.

Nah, puasa Ramdhan, sesuai maknanya, menahan atau mencegah, di samping menahan diri dari makan, minum dan hal-hal yang membatalkannya. Juga menahan diri dari berbuat maksiat dan dari berkata-kata buruk, sia-sia dan tak berguna. Itulah hakikat puasa.

Karena itu, soal lisan ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengingatkan orang-orang yang berpuasa:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Artinya: “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengerjakannya, serta berlaku bodoh, maka tidak ada keperluan bagi Allah terhadap meninggalkan makan dan minumnya”.  (HR Bukhari dari Abu Hurairah).

Pada hadits lain diingatkan:

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ الظَّمَأُ وَكَمْ مِنْ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلاَّ السَّهَرُ

Artinya :”Betapa banyak orang yang berpuasa, tidaklah memperoleh  apa-apa baginya dari puasanya selain lapar, dan betapa banyak orang yang shalat, tidaklah memperoleh apa-apa baginya dari shalatnya kecuali lelah”. (HR Ad-Darimi dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu)

Kata kuncinya adalah menjaga lisan saat berpuasa, nanti akan terbiasa ketika usai puasa.

Memang puasanya tidak batal, selama tidak makan dan minum. Namun berkurang atau kosong nilainya sebab lisan yang sia-sia berucap.

Semoga kita dapat menjaga lisan kita dari perkataan tak berguna, dan semoga Allah menerima ibadah puasa kita dan amal lainnya pada bulan Ramadhan ini. Aamiin. (A/RS2/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)