Renungan Zanjabil: Kenali COVID-19, Kemenangan Anda Raih

Oleh: Prof. Dr. Abdurrahman Haqqi, Dosen di Universiti Islam Sultan Sharif  Ali (UNISA) Brunei Darussalam asal Bogor Indonesia

KNOW thy self, know thy enemy. A thousand battles, a thousand victories,” kata ahli strategi perang China, Sun Tzu yang hidup antara 544 – 496 SM. Dengan pekataan lain  bermakna “Kenalilah dirimu sendiri, kenalilah musuhmu. Ribuan peperangan, ribuan kemenangan.”

Sun Tzu jika kita lihat masa hidupnya berarti hidup sekitar 500 tahun selepas Nabi Sulaiman AS yang wafat pada tahun 975 SM dan 1115 tahun sebelum Nabi Muhammad SAW dilahirkan pada tahun 571M, bulan April.

Sebagai pengenalan ringkas, Sun Tzu merupakan seorang jendral China yang hidup dalam peradaban China kuno. Dia juga merupakan seorang penyusun strategi militer yang ditujukan untuk peperangan dan juga seorang ahli falsafah ulung. Sun Tzu adalah penulis buku “The Art of War,” sebuah karya yang berpengaruh terhadap falsafah barat dan timur.

Mengetahui pihak musuh adalah suatu keharusan untuk memenangi peperangan. Ini juga yang dilakukan Rasulullah SAW dalam Perang Badar tahun 2H, bulan Ramadhan.

Sebelum terjadi peperangan di Badar, Rasulullah SAW telah mengutuskan Talhah Bin Ubaidillah dan Said bin Zaid untuk mengumpulkan informasi tentang kafilah Abu Sufyan.

Mereka mengumpulkan informasi yang perlu dan kembali ke Madinah untuk menyampaikan pada Rasulullah.  Baginda bergerak bersama-sama para pengikutnya. Baginda menuju ke Badar tetapi terlebih dahulu baginda mengutus Ali bin Abu Talib, Zubir bin Al-Awwam dan Saad Bin Abi Waqqas bersama beberapa orang lain ke Badar mengumpulkan informasi terbaru tentang orang Quraisy serta musuh mereka.

Informasi yang diperoleh dari dua orang anak lelaki yang menjelaskan tentang tempat persinggahan orang Quraisy.

Rasulullah bertanya berapa ekor binatang yang disembelih untuk makanan mereka setiap hari, anak-anak itu menjawab 9 atau 10 ekor. Dengan kebijaksanaan Rasulullah SAW, baginda dapat menebak jumlah tentara musuh ada 900 hingga 1.000 orang tentara. Akhirnya kemenangan memihak Rasulullah SAW dengan hanya 313 pengikut baginda.

Rasulullah SAW tidak bertanyakan langsung berapa jumlah tentsra Quraisy tapi hanya bertanya berapa ekor binatang disembelih setiap hari.

COVID-19 merupakan musuh kemanusiaan pada hari ini. Ribuan manusia telah menjadi korban. Hal ini akan bertambah jika umat manusia tidak bersatu dalam memerangi dan mencegahnya.

Sudah banyak kajian dilakukan dan ada juga obat-obatan yang kita ketahui dan juga cara-cara untuk melawan dan membendung COVID-19 termasuk “social or physical distancing” yang dalam ucapan ‘Amr ibn al-‘Ash adalah: “Wahai sekalian manusia, penyakit ini menyebar layaknya kobaran api. Jaga jaraklah dan berpencarlah kalian dengan menempatkan diri di gunung-gunung.”

Sun Tze juga berkata: “Bertempur dan menaklukkan musuh dalam peperangan bukanlah kehebatan paling tinggi; kehebatan tertinggi terjadi ketika Anda mampu menghentikan musuh tanpa perlawanan.”

Ucapan di atas ada makna sebuah hadis Nabi Muhammad SAW yang artinya: Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Bukanlah orang yang kuat itu yang pandai bergulat, tapi orang yang kuat adalah orang yang dapat menahan nafsunya ketika ia marah.” (HR Bukhari)

Bisakah kita menghentikan COVID-19 daripada merebak tanpa perlawanan darinya? Hal ini telah terbukti dalam strategi Amr ibn al-‘Ash di Syam 1423 tahun yang lalu di mana wabah thaun sudah kehabisan korban kerena tidak dijumpai lagi manusia yang saling berdekatan. Dan “social or physical dinstancing” merupakan seruan pasukan medis sekarang yang sedang berjibaku melawan COVID-19.

Mari kita sukseskan perlawanan kita melawan serangan virus COVID-19 dengan bertawakal kepada Penciptanya, Allah Subhanahu Wata’ala. Semoga berjaya.

Wallahu a’lam.

Semoga bermanfaat.

Bandar Seri Begawan, 31 Maret 2020.

(AK/B4/R1/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)