Revitalisasi Guru di Era Digital (Refleksi Hari Guru ke-77)

Peneliti Senior ISDS, M. Aminudin.(Dok. pribadi)

Oleh: M. Aminudin, Peneliti Senior Institute for Strategic and Development Studies (ISDS)*

Beberapa media online nasional dan lokal pada 14 November 2022 melansir berita Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek) Nadiem Makarim bersama CEO Tesla Motors, Elon Musk yang berdialog dengan 400 mahasiswa se-Indonesia dalam acara “Intergenerational Dialogue for Our Emerging Future” pada momen KTT G20 di Bali.

Pada kesempatan itu Elon Musk antara lain menegaskan, pekerjaan-pekerjaan masa depan yang akan banyak diminati umat manusia adalah Artificial Intelligence (kecerdasan buatan). Analisa Elon Musk itu sejalan dengan pendapat Ketua Eksekutif Forum Ekonomi Dunia Klauss Schwab yang memberi gambaran lebih konkret.

Perubahan yang muncul pada Revolusi Industri 4 .0 ditandai dengan berkembangnya kecerdasan buatan, penerapan teknologi nano di berbagai bidang, dan rekayasa genetis.

Kecerdasan buatan akan membuat efisiensi pekerjaan, tetapi banyak menggusur tenaga kerja manusia. Perkembangan Revolusi 4.0 tentu harus direspons oleh dunia pendidikan, terutama oleh para guru yang secara formal adalah ujung tombak transfer sains kepada anak didik.

Kecerdasan buatan itu sendiri adalah bagian integral teknologi digital yang berkembang pesat di dunia dalam satu dasawarsa ini, dan dalam kaitan ini para guru sedang dihadapkan pada perkembangan teknologi yang berdampak ganda.

Di satu sisi perkembangan teknologi informatika, terutama teknologi digital yang jika dikuasai secara baik akan banyak membantu tugas belajar-mengajar, tetapi jika tidak dipahami dan tidak dikuasai  dengan baik peran guru bisa terpinggirkan dalam proses transfer ilmu pengetahuan kepada anak didik.

Karena itu perlu adanya peningkatan kompetensi guru secara lebih masif dan sistemik, khususnya di bidang penguasaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK).

Isu penguatan literasi teknologi digital di dunia pendidikan perlu menjadi perhatian, terlebih menjelang akhir November 2022, tepatnya 25 November 2022, dimana bangsa Indonesia merayakan Hari Guru Nasional ke-77, sehingga saat ini merupakan momen yang tepat untuk melakukan refleksi reorientasi peran guru di tengah perubahan teknologi yang berkembang cepat.

Guru harus pro aktif belajar tiap hari, baik bersama instruktur, belajar sendiri, ataupun belajar dengan koleganya dalam asosiasi guru. Peran guru di era revolusi industri 4.0 semakin penting dan vital.

Para ahli teori pendidikan sering menyebutnya sebagai Pendidikan Era Revolusi Industri 4.0 untuk menggambarkan berbagai cara mengintegritaskan teknologi siber, baik secara fisik maupun non fisik dalam pembelajaran.

Pendidikan Era Revolusi Industri 4.0 adalah fenomena yang merespons kebutuhan revolusi industri dengan penyesuaian kurikulum baru sesuai situasi saat ini. Kurikulum tersebut harus mampu membuka jendela dunia melalui genggaman, contohnya memanfaatkan internet of things (IOT). Di sisi lain pengajar juga memperoleh lebih banyak referensi dan metode pengajaran.

Dalam atmosfir era digital, guru tidak hanya mengajar, namun sekarang harus menguasai sumber-sumber dimana anak didik bisa belajar. Anak-anak bisa belajar dari mana saja, dan guru harus memberi arahan atau mengarahkan.

Dengan kata lain, guru berfungsi sebagai penghubung sumber belajar atau “resource linker”. Guru juga berperan sebagai fasilitator dalam pembelajaran. Peran guru memfasilitasi dan mencari narasumber yang relevan, sementara siswa harus belajar dengan siapa, kemudian memerlukan fasilitas apa.

Dalam kaitan ini guru sebaiknya didorong untuk beradaptasi dengan teknologi e-learning. E-learning dapat meningkatkan interaktivitas antara guru dengan peserta didik, selain antara peserta didik dengan peserta didik lainnya, ketika proses pembelajaran berlangsung. E-learning memungkinkan interaksi yang berbeda dengan pembelajaran konvensional atau tatap muka.

Pada pembelajaran konvensional, kita sering menemukan peserta didik yang tidak berani atau tidak mempunyai kesempatan untuk menyampaikan pendapat atau mengajukan pertanyaan ketika sedang berdiskusi. E-learning memungkinkan peserta didik untuk lebih berani, karena mereka tampil secara tidak langsung.

Sementara itu transformasi teknologi menyebabkan menjamurnya startup di sektor pendidikan yang sedikit banyak melihat celah bisnis di sektor ini.

Berdasarkan kajian Price Waterhouse Cooper (PwC), penilaian keadaan digital Indonesia berada di tahap berkembang, ditandai adanya beberapa konten edukasi secara online serta integrasi kemampuan digital dalam kurikulum formal.

Menurut Plt. Direktur Ekonomi Digital, Nizam Waham, inisiatif-inisiatif pendorong digitalisasi pada sektor pendidikan meliputi aplikasi edukasi, distribusi konten digital, strategi pelatihan e-teacher, nilai dan identitas nasional serta forum guru digital.

Pembelajaran digital dapat menghilangkan kantung-kantung putus sekolah dan rendahnya kinerja tenaga kependidikan di daerah, serta meminimalisir kesenjangan pendidikan antara daerah terpencil dan perkotaan.

Dari ungkapan di atas, tampak bahwa teknologi digital memberi harapan lebih baik bagi dunia pendidikan. Untungnya sedari awal Mendikbudristek Nadiem Makarim sangat concern pada penerapan teknologi digital. Setelah dilantik menjadi menteri sebelum Pandemi Covid-19 dia langsung melontarkan prioritas penggunaan teknologi digital di dunia pendidikan.

Hingga saat ini,  menurut keterangan Mendikbudristek, lebih dari 1,6 juta guru telah menggunakan Platform Merdeka Mengajar yang membuka akses pada pengembangan diri secara lebih mandiri dan sesuai kondisi. Kemudian, terbentuknya lebih dari 3.500 komunitas belajar para guru dan terkumpulnya lebih dari 55 ribu konten belajar mandiri.

Disebutkan, setidaknya terdapat lebih dari 92 ribu konten pembelajaran telah diunggah oleh guru untuk menginspirasi sejawatnya. Jadi, para guru dibantu untuk bisa saling menginspirasi dan mengapresiasi.

Disebutkan pula bahwa lebih dari 141 ribu sekolah telah terbantu dalam mengetahui kondisi literasi, numerasi, karakter siswa, serta kualitas pembelajaran mereka melalui Rapor Pendidikan.

Para guru dan kepala sekolah saat ini menjadi lebih memahami 280 indikator dari Asesmen Nasional dan membantu mereka untuk melakukan refleksi dan perbaikan dengan Rapor Pendidikan, kata Mendikbudristek.

Tranformasi teknologi pendidikan saat ini juga telah membantu terfasilitasinya pengembangan diri lebih dari 724 ribu mahasiswa melalui program Kampus Merdeka, bergabungnya lebih dari 2.700 mitra industri ke dalam Kampus Merdeka, dan bergabungnya lebih dari 43 ribu praktisi ke dalam program Praktisi Mengajar.

Kemajuan di atas secara formil tentu menggembirakan, tetapi tetap harus ada kerja keras untuk bergerak maju karena penerima manfaat baru menjangkau sekitar 50 persen kalangan pemangku pendidikan di Indonesia.

Oleh karena itu diperlukan kiat-kiat kreatif untuk memacu transfer teknologi, terutama e-learning atau digital ke dunia pendidikan Indonesia. Adalah sangat penting untuk terus meningkatkan pengetahuan (knowledge) dan skill para guru menyangkut teknologi informatika itu.

Dalam kaitan ini pula setidaknya terdapat empat kompetensi yang diharapkan dimiliki oleh  kalangan guru atau pengajar.

Pertama, keterampilan berpikir kritis dan problem solving atau pemecahan masalah. Dibutuhkan kemampuan memahami suatu masalah serta mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya sehingga dapat dielaborasi dan memunculkan berbagai perspektif untuk menyelesaikan masalah.

Para guru atau pengajar juga diharapkan mampu meracik pembelajaran dengan mengolah materi pelajaran yang rumit menjadi mudah dipahami oleh anak-anak didik.

Kedua, keterampilan berkomunikasi dan berkolaborasi. Keterampilan ini tidak luput dari kemampuan berbasis teknologi informasi, sehingga pengajar dapat menerapkan kolaborasi dalam proses pengajaran.

Ketiga, kemampuan berpikir kreatif dan inovatif. Diharapkan ide-ide baru dapat diterapkan pengajar dalam proses pembelajaran sehingga memacu siswa untuk beripikir kreatif dan inovatif. Misalnya mendeskripsikan materi pelajaran yang rumit dan panjang menjadi grafis yang sederhana dan mudah dimengerti atau bentuk audio visual.

Keempat, meningkatkan literasi teknologi dan informasi. Diharapkan para guru atau pendidik terus memperkaya referensi dalam pemanfaatan teknologi dan informasi guna menunjang proses belajar-mengajar sehingga tidak terkungkung pada “text book” yang mungkin kurang update terkait dengan perkembangan ilmu pengetahuan terkini.

Khusus penerapan elearning, menurut kajian Dewan Teknologi Informasi Komunikasi Nasional (Wantiknas), penerapannya mempunyai kelebihan, antara lain:

Pertama, dapat diakses dengan mudah, Cukup menggunakan smartphone atau perangkat teknologi lain seperti laptop yang terhubung dengan internet, anda sudah bisa mengakses materi yang ingin dipelajari. Dengan menerapkan e-learning anda dapat melakukan kegiatan pembelajaran di mana saja dan kapan saja.

Kedua, biaya lebih terjangkau. Tentunya kita semua ingin menambah ilmu pengetahuan tanpa kendala keuangan. Dengan bermodalkan paket data internet, anda dapat mengakses berbagai materi pembelajaran tanpa khawatir ketinggalan pelajaran apabila tidak hadir.

Ketiga, waktu belajar fleksibel, Biasanya kebanyakan orang yang ingin belajar lagi tidak memiliki waktu yang cukup. Salah satu alasannya mungkin karena waktu yang dimilikinya sudah digunakan untuk bekerja. Pembelajaran berbasis digital atau e-learning ini adalah solusinya. Waktu untuk belajar bisa dilakukan kapan saja tanpa terikat dengan jam belajar.

Keempat, wawasan yang luas. Dengan menerapkan e-learning tentunya anda akan menemukan banyak hal yang semula belum anda ketahui. Hal ini disebabkan beberapa materi pelajaran yang tersedia pada e-learning belum tersedia dalam media cetak seperti buku yang sering digunakan dalam metode belajar-mengajar konvensional.

Tetapi di samping kelebihan di atas, penerapan e-learning mempunyai kekurangan. Pertama, keterbatasan akses internet. Salah satu kekurangan metode pembelajaran e-learning adalah terbatasnya akses internet.

Jika anda berada di daerah yang tidak mendapatkan jangkauan internet stabil, maka akan sulit bagi anda untuk mengakses layanan e-learning. Ini tentunya masih banyak terjadi di Indonesia mengingat beberapa daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) masih belum terjangkau akses internet.

Selain itu harga pemakaian data internet juga masih dirasa cukup mahal untuk beberapa kalangan masyarakat Indonesia. Hal ini menyebabkan kemampuan untuk memanfaatkan e-learning masih dianggap sebagai suatu keistimewaan.

Kedua, berkurangnya interaksi dengan pengajar. Beberapa metode pembelajaran e-learning bersifat satu arah sehingga menyebabkan interaksi pengajar dan siswa menjadi berkurang serta akan sulit bagi anda untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut mengenai materi yang sukar dipahami.

Ketiga, pemahaman terhadap materi. Materi yang diajarkan dalam e-learning direspons berdasarkan tingkat pemahaman yang berbeda-beda, tergantung kepada kemampuan si pengguna.

Beberapa orang mungkin dapat menangkap materi dengan lebih cepat hanya dengan membaca, namun ada juga yang membutuhkan waktu lebih lama sampai benar-benar paham. Bahkan ada juga yang membutuhkan penjelasan dari orang lain agar dapat memahami materi yang dipelajari.

Keempat, minimnya pengawasan dalam belajar. Kurangnya pengawasan dalam melakukan pembelajaran secara daring membuat pengguna e-learning kadang kehilangan perhatian atau kurang fokus.

Dengan adanya kemudahan akses, beberapa pengguna cenderung menunda-nunda waktu belajar. Maka, perlu kesadaran diri sendiri agar proses belajar dengan metode daring menjadi terarah dan mencapai tujuan.

Khusus dalam upaya menutupi kelemahan metode digital dunia pendidikan sebagaimana dikemukakan di atas, maka, bagaimanapun pendidikan konvensional tatap muka harus diperkuat seperti janji Mendikbudristek.(AK/RS1/R1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)

*M. Aminudin adalah Peneliti Senior Institute for Strategic and Development Studies (ISDS), Staf Ahli Pusat Pengkajian MPR-RI tahun 2005/Staf Ahli DPR-RI 2008/Tim Ahli DPD-RI 2013.