Ridha Allah, Puncak Tujuan Hidup

Oleh: Hamidah Juariah, Wartawan Kantor Berita MINA

Tujuan akhir dari sebuah perjalanan seorang mukmin adalah mencari Ridha Allah Subhanau Wa Ta’ala. Dengan itu, seorang mukmin akan mudah untuk memasuki surgaNya.

Jika hidup di dunia yang diinginkan kesenangan duniawi, Allah akan berikan, namun yang ada akan berujung pada ketidakpuasan, kekecewaan juga penyesalan, jika yang dicari adalah ridha Allah maka akan berujung pada kebahagiaan dan ketentraman hidup.

Untuk menggapai Ridha Allah adalah dengan kita melakukan segala amalan yang diperintahkan dan disukai oleh Allah.

Dalam sabdanya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyebutkan hal-hal yang diridhoi dan dimurkai Allah Subhanau Wa Ta’ala

 إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلاَثًا وَيَسْخَطُ لَكُمْ ثَلاَثًا يَرْضَىلَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِاللَّهِ جَمِيْعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَأَنْ تُنَاصِحُوا مَنْ ولاَّهُ اللَّهُ أَمْرَكُمْوَيَسْخَطُ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ وَإِضَاعَةَ الْمَالِ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ

Artinya: Sesungguhnya Allah itu ridha kepada kamu pada tiga perkara dan benci kepada tiga perkara. Adapun (tiga perkara) yang menjadikan Allah ridha kepada kamu adalah: 1) Hendaklah kamu memperibadati-Nya dan janganlah mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, 2) Hendaklah kamu berpegang-teguh dengan tali Allah seraya berJama’ah dan janganlah kamu berfirqah-firqah, 3) Hendaklah kamu senantiasa menasihati kepada seseorang yang Allah telah menyerahkan kepemimpinan kepadanya dalam urusanmu. 

Dan Allah murka kepadamu tiga perkara,

1) Dikatakan mengatakan (mengatakan sesuatu yang belum jelas kebenarannya), 2) Menghambur-hamburkan harta benda, 3) Banyak bertanya (yang tidak berfaidah).”

(HR Ahmad, Musnad Imam Ahmad dalam Musnad Abu Hurairah, Muslim, Shahih Muslim: II/6. Lafadz Ahmad).

Dari hadits tersebut, kita dapat melakukan amalan untuk mendapatkan ridha nya Allah dan menjauhi segala yang menjadi murkaNya.

Salah satu diantara keistimewaan dari ridha adalah melahirkan rasa tenang dihati kita. Tenang saat menghadapi perkara yang sulit dalam hidup, karena percaya ketika Allah mendatangkan suatu kesulitan pasti akan ada kemudahan. Sebagaimana Firman Allah Q.S Al Insyirah ayat 6

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Artinya: “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

Dari ayat tersebut, memberikan kabar gembira untuk kita yang tetap optimis ketika berada di saat-saat yang sulit.

Ustaz Hanan Attaki, berpesan, jika kita berada di saat yang sulit, hal itu bukan sesuatu yang diinginkan, dan kita tetap ingin ridha, maka katakanlah “Semoga akan ada kebaikan didalam nya”.

Dengan begitu, kita sudah berprasangka baik kepada Allah, Allah sesuai dengan prasangka hambanya. Apabila sudah berprasangka baik atau buruk, maka kita akan mendapatkan apa yang kita prasangkakan.

Saat ini, kita masih berada di bulan suci Ramadhan yang merupakan bulan penuh berkah, berarti kita harus mencari sesuatu yang sekiranya di ridhoi oleh Allah Subhanau Wa Ta’ala. 

Seperti, Bulan Ramadhan menjadi bulan diturunkan nya Al Qur’an kita membacanya sebulan penuh, kita sholat tahajud, bersedekah, berbagi kebahagiaan dengan orang yang kekurangan, menjelang akhir Ramadhan kita tingkatkan ibadah kita, yang dengan itu kita menggapai ridha Allah di bulan Ramadhan.

Jika bulan Ramadhan, menjadi bulan diijabahkannya doa bagi mereka yang meminta, maka sungguhkan doa kita untuk diri sendiri juga keluarga, dan tak lupa kita do’akan saudara-saudara Muslim yang tertindas oleh musuh-musuh Allah dimanapun berada, untuk selalu diberikan pertolongan.

Ridha Allah kepada hambaNya, Ia melihat dan menyukai hambaNya yang menjalankan perintah dan menjauhi laranganNya.

Rabi’ bin Khutsaim Radiyallahu Anhu berkata “Apa saja yang tidak ditujukan untuk meraih Ridha Allah maka akan sia-sia”.

Semoga kita tergolong menjadi hamba yang selalu mencari keridhaan Allah dan menjalankan sesuatu hanya untuk meraih RidhaNya. (A/Hju/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)