Ridha Allah Ta’ala

Oleh Bahron Ansori, wartawan MINA

Konsekuensi hidup bagi seorang muslim yang sudah mengakui bahwa Tuhannya adalah Allah Ta’ala, maka wajib baginya ridha kepada-Nya. Dalam tataran praktek, maka seorang muslim harus ridha atas semua yang Allah ridhai. Bukan sebaliknya, ridha kepada yang tidak diridhai Allah dan tidak ridha kepada apa yang diridhai Allah.

Seorang muslim yang sudah ridha kepada Allah Ta’ala sebagai Tuhannya, maka ada beberapa hal yang dia harus lakukan dalam mengaplikasikan wujud ridhanya, antara lain sebagai berikut.

Pertama, ridha atas semua kehendak Allah. Seorang muslim yang sudah ridha kepada Allah sebagai Tuhannya, maka dia juga harus ridha atas semua ketentuan Allah yang ditetapkan atas dirinya, seperti: kehendak-Nya menciptakan seseorang dalam satu jenis kelamin tertentu, lahir dari orangtua/keluarga tertentu, pemberian rizki tertentu, berjodoh dengan orang tertentu, mengalami kejadian tertentu, dan lain-lain. Itulah semua yang disebut al-qadha-u wal qadar.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata tentang qadha dan qadar, “Para ulama’ berbeda pendapat tentang perbedaan antara kedua istilah tersebut. Sebagian mengatakan bahwa Qadar adalah kententuan Allah sejak zaman azali (zaman yang tak ada awalnya), sedangkan Qadha’ adalah ketetapan Allah terhadap sesuatu pada waktu terjadi.”

Dia menegaskan, “Pendapat yang dianggap rajih (unggul/kuat) adalah bahwa kedua istilah tersebut bila dikumpulkan (Qadar-Qadha’), maka mempunyai makna berbeda, tapi bila dipisahkan antara satu dengan yang lain maka mempunyai makna yang sama.” (Lihat: kitab Al-Qadha’ wal Qadar).

Beriman dan menerima qadha dan qadar adalah tuntutan keimanan. Ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang apa itu iman, beliau menjawab:

أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

“Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk“ (HR. Muslim).

Sikap kita di hadapan qadha dan qadar Allah Ta’ala ini adalah la yas’alu ‘amma yaf’alun (tidak bertanya terhadap apa-apa yang telah dilakukan-Nya). Semuanya mengandung hikmah, dan kewajiban kita adalah mengimaninya.

Allah Ta’ala menjelaskan salah satu hikmah qadha dan qadar ini dengan firman-Nya,

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

(kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,” (QS. Al-Hadid, 57: 22-23).

Kedua, ridha kepada apa-apa yang Allah kehendaki atau Allah tetapkan atas alam- di ‘alamut tajribah (alam kehidupan) ini berupa sunnatullah fil kauni (ketentuan Allah di alam semesta).

وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا

“…dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (QS. Al-Furqan, 25: 2).

Terhadap ketentuan Allah Ta’ala di alam ini, seorang muslim boleh melakukan al-bahtsu (pembahasan/kajian), karena ia mengandung tanda-tanda kekuasaan Allah Ta’ala yang dapat mengokohkan keimanan kita pada-Nya.

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal..” (QS. Ali Imran, 3: 190).

Dalam ayat lain, Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Tuhan Kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah Kami dari siksa neraka.’” (QS. Ali Imran, 3: 191).

Pembahasan dan pengkajian ini juga dilakukan dalam rangka al-intifa (pemanfaatan/memakmurkannya) sebagaimana dingatkan  Allah Ta’ala melalui lisan Nabi Shaleh ‘alaihissalam,

وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا ۚقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖهُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ ۚإِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ

“…Shaleh berkata: ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (do`a hamba-Nya).’” (QS. Huud, 11: 61).

Ketigaridha kepada apa-apa yang Allah kehendaki dari kita  di alam nyata ini berupa at-taqdirus syar’iy (ketentuan syari’at). Allah Ta’ala menghendaki kita tunduk pada agama dan syariat-Nya sebagai bukti penghambaan kepada-Nya.

Allah Ta’ala berfirman,

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ

“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu : ‘Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah-belah tentangnya’. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).” (QS. Asy-Syura, 42: 13).

Dalam ayat lain, Allah Ta’ala berfirman,

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’am, 6: 153).

Dalam perkara at-taqdirus syar’iy ini wa hum yus’alun (mereka [manusia] akan ditanya/dihisab),

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ

“Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai.” (QS. Al-Anbiya, 21: 23).

Semoga Allah Ta’ala senantiasa memudahkan kita untuk merasa ridha kepada setiap yang Allah tetapkan, baik dari diri dan alam ciptaan-Nya. Wallahu a’lam.(A/RS3/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)