Risalah Kemenangan Al-Aqsha Bag. 3

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Duta Internasional Al-Quds

Mengapa Masih Belum Peduli?

Mengapa masih banyak orang yang tidak peduli dengan luka-luka bangsa Palestina? Derita yang melanda situs-situs suci Kota Islam Al-Quds?

Bukankah masalah Al-Aqsha adalah prioritas utama perjuangan umat? Apakah umat ini tidak memahami sejarah dan geografi dunia Islam?

Padahal ini negeri penuh berkah yang menandai kemuliaan, kehormatan, dan kekuatan sejati. Negeri Para Nabi penyebar wahyu Ilahi.

Mengapakah para khatib tidak mengambil peluang dakwah Al-Aqsha melalui mimbar-mimbar yang Allah titipkan kepadanya.

Mengapakah para penulis dan jurnalis tidak mengambil kesempatan seruan Al-Aqsha melalui goresan penanya, ketikan laptopnya. Untuk mengingatkan orang-orang muda tentang masalah nyata dan tugas mereka terhadap Al-Aqsha dan kewajiban mengembalikannya ke pangkuan Muslimin.

Sementara para pejuang, kaum Muslimah, murabithun, bahkan anak-anak Palestina senantiasa menekan musuhnya melalui dakwah, demo, boikot, jihad dan perundingan, untuk membuat mereka dalam posisi mempertahankan diri.

Sejarah sudah mencatat nama-nama mereka sebagai bagian dari pejuang Al-Quds, melalui revolusi yang diberkati dan operasi perang darat yang unik dan kualitatif. Merangsek dari terowongan-terowongan yang menakutkan musuh-musuhnya.

Para da’i dan pemuda di sana telah bangkit dalam kegiatan-kegiatan massa mereka, baik melalui mimbar maupun media untuk kemerdekaan Palestina dan pembebasan Al-Aqsha.

Penulis pernah tersenyum dan tertawa bersama pemuda-pemuda Palestina di lapangan futsal di ibukota Shana’a, Yaman, beberapa tahun lalu.

Semangat bertandingnya, walau sekedar persahabatan, menunjukkan semangat perjuangan tiada henti, sampai waktu berakhir.

“Ya semangat jihad tiada akhir bagi orang beriman adalah kunci untuk mendapatkan kemenangan,” begitu kira-kira makna semangat mereka.

Lalu terbersit pertanyaan, bagaimana dengan pemuda-pemuda di negeri-negeri lainnya? Sesemangat merekakah? Atau terlalaikan oleh permainan, pergaulan dan pergulatan hidup mudanya masing-masing? Sehingga bagaimana memperjuangkan Al-Aqsha, terbersit saja mungkin belum.

Secercah cahaya itu tentu akan selalu ada, mendung tak selamanya kelabu, di balik awan ada cahaya mentari yang tetap akan bersinar setelah awan itu menepi.

Para aktivis di lembaga maupun komunitas kemanusiaan kepalestinaan dan ke-Alaqsha-an.

Insya-Allah masih banyak anak-anak muda yang sibuk dan menyediakan energinya untuk aktif dalam kegiatan-kegiatan aksi solidaritas Al-Aqsha dan Palestina. Dari manapun, suku bangsa manapun dan agama apapun.

Karena, siapapun yang tidak peduli dengan urusan umat ini, maka ia bukan dari umat ini pula. Seperti disebutkan di dalam hadits:

مَنْ لَمْ يهْتَمَّ بِأمْرِ المُسْلِميْنَ فَلَيْسَ مِنْهُمْ

Artinya: “Barangsiapa yang tidak memperhatikan urusan kaum Muslimin, maka dia bukan golongan mereka.” (HR Ath-Thabrani).

Sudah menjadi kewajiban kita semua saling berjamaah dan menguatkan antar kaum Muslimin dalam setiap perjuangan, wabil khusus dalam meraih “Al-Aqsha Haqquna”. Aamiin. (A/RS2/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)