Risalah Kemenangan Al-Aqsha Bag.1 (Oleh: Ali Farkhan Tsani)

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Duta Internasional Al-Quds

Wahai Umat Islam… Selamatkanlah Al-Aqsha sebelum kita kehilangannya. Saudara lelakiku… Saudara perempuanku… Pernahkah kita mendengar seruan Al-Aqsha yang mulia?

Ini adalah panggilan dari tanah yang terus tergali oleh tangan-tangan kotor penjajah. Di antara upaya pengeboman dan penyerbuan yang masif. Dan setelah ancaman pembuatan terowongan bawah tanah dan gempa buatan… Apakah panggilan ini sudah kita terima?

Ini adalah panggilan dari pojok tanah Al-Quds yang penuh berkah negeri para Nabi. Bukankah ini masjid kiblat pertama kita, tempat umat ruku dan sujud menghadap Sang Khaliq?

Bukankah pula ini tempat mula pertama Nabi kita tercinta menerima perintah shalat fardhu? Tatkala saat itu baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menemui Tuhannya di Sidratul Muntaha.

Surat Al-Isra dan Surat Al-Najm pun telah mengabadikannya untuk kita.

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Artinya: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Isra [17]: 1).

وَلَقَدۡ رَءَاهُ نَزۡلَةً أُخۡرَىٰ (١٣) عِندَ سِدۡرَةِ ٱلۡمُنتَهَىٰ (١٤) عِندَهَا جَنَّةُ ٱلۡمَأۡوَىٰٓ (١٥) إِذۡ يَغۡشَى ٱلسِّدۡرَةَ مَا يَغۡشَىٰ (١٦) مَا زَاغَ ٱلۡبَصَرُ وَمَا طَغَىٰ (١٧) لَقَدۡ رَأَىٰ مِنۡ ءَايَـٰتِ رَبِّهِ ٱلۡكُبۡرَىٰٓ (١٨)

Artinya: “Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu [dalam rupanya yang asli] pada waktu yang lain, [yaitu] di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Nabi Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Nabi Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” (QS An-Najm [53]: 13-18).

Al-Aqsha Sharif telah kembali memanggil kita dengan panggilan yang semakin lirih dan merintih.

Tempat suci rumah Allah, tatkala Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengimami seluruh Nabi dan Rasul utusan Allah. Tempat Maryam ketika berkhidmat di mihrabnya, demi mencintai Tuhannya. Tempat Nabi Ibrahim ketika mengunjunginya, longmarch memenuhi seruan Rabbnya.

Kini, yang katanya “Al-Aqsha Haqquna”, hak milik kita semua umat Islam. Namun nyatanya masih menjadi hak jajahan Zionis Israel tanpa peri kemanusiaan.

Apakah kita hendak menyakiti perjalanan malam penuh berkah, ketika Allah menghibur Nabinya tercinta, Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dalam Isra wal Mi’raj itu? Apakah pula kita mulai kehilangan konsentrasi dan fokus ke arah Nabi dan para Khalifah sebelumnya yang membidik panah perjuangannya ke Masjidil Aqsha? Sementara bangsa Yahudi bukan hanya terus membidiknya, tetapi sudah menusukkan anak panahnya ke jantungnya.

Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, serta meneguhkan kembali niat dan tekad kita dengan berbagai daya dan upaya untuk membebaskan wakaf sayyidina Umar bin Khattab itu.

Wahai Umar bin Khattab, izinkanlah kami meraih kembali kunci-kunci kota Iliya yang dahulu engkau telah membebaskannya.

Wahai Bilal bin Rabbah, izinkanlah kami mengumandangkan seruan azan, persis seperti ketika engkau dahulu kala menyerukannya untuk terakhir kali di Kota Tua ini.

Wahai para syuhada Al-Aqsha, Imaduddin Zanky, Nuruddin Mahmoud hingga Shalahuddin Al-Ayyubi. Perkenankanlah pena dan pedang perjuangan kami meneruskan jejak-jejak bersejarahmu. Untuk membebaskan pilar peradaban terkini yang masih tercengkeram pendudukan.

Kini, di manakah itu umat Islam yang katanya mencintai dan hendak meneruskan risalah Nabinya, Muhammad Shallalhu ‘Alaihi Wasallam. Apakah secuil “Al-Aqsha Haqquna” masih ada di sisi dalam hatinya? Apakah jeritan “Al-Quds Lana” masih terdengar di telinga batinnya? Ataukah kesibukan dunia, fatamorgana harta duniawi, sanak-saudara telah melupakannya?

Sungguh Al-Aqsa Syarif akan terus menyeru kita semuanya. Dan akan terus menyeru, “Wahai Umat Islam, selamatkan aku sebelum kau kehilangan aku.“ (A/RS2/P2)

Rujukan Inspirasi : Risalah Nashratul Aqsha. Dr. Sa’ad Athiyah Fayadh.

Mi’raj News Agency (MINA)