Rizki yang Sejati

Jika kita ditanya, untuk apa kalian bekerja? Tentu kita menjawab mencari rizki. Memang rizki adalah sesuatu yang paling dibutuhkan manusia untuk bekal hidup di dunia. Akan tetapi, kita sering saksikan sebagian manusia dalam mencari rizki hingga ia harus bekerja keras, siang dan malam, namun masih merasa kekurangan. Di sisi lain, ada orang yang ia hanya bekerja sekadarnya, tapi hidupnya berkecukupan, bahkan bisa berbagi kepada orang lain yang membutuhkan.

Atau kita mungkin menyaksikan, ada orang yang memiliki kekayaan berlimpah, rumahnya megah, mobilnya mewah, akan tetapi ia masih merasa kekurangan. Ia masih merasa hidupnya susah, pikirannya gelisah, hatinya resah, galau dan merana. Sementara ada orang yang hidup sederhana, gajinya kecil, rumah (kontrakan) nya mungil, tinggal di desa (daerah) terpencil, tapi ia merasa senang, pikirannya tenang, dan rumah tangganya pun bahagia.

Lantas rizki seperti apa yang sebenarnya membuat seseorang bahagia? Sebelum kita membahas lebih jauh tentang rizki sejati, yang membuat seseorang merasa tenteram dan bahagia, terlebih dulu, marilah kita pahami konsepnya dan bagaimana menyikapinya sehingga hidup kita selamat di dunia dan akhirat.

Konsep Rizki

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa salam menjelaskan:

إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ ……ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ

“Sesungguhnya salah seorang dari kalian dihimpun penciptaannya di perut ibunya, lantas diutuslah malaikat dan meniupkan ruh padanya. Dan ia diperintah untuk menuliskan empat ketetapan, (yaitu) menulis rizki, ajal, amalan dan apakah ia (nanti) celaka atau bahagia …”.

Dari hadits di atas, Allah sebenarnya telah menentukan rizki seseorang. Dengan kata lain, rizkinya telah tertulis kadar dan ukurannya. Hanya memang Allah tidak menjelaskan kepada manusia secara rinci tentang hal itu supaya manusia bersemangat dalam mencari rizki dan karunia Allah serta memperoleh keutamaan selama hidup di dunia untuk menjadi bekal hidup di akhirat kelak.

Hadits di atas juga bukan berarti kita lantas berpangku tangan dan menjadi pengangguran. Akan tetapi agar mereka berusaha dengan cara yang baik dan benar, sesuai dengan kaidah dan perintah yang telah Allah gariskan dalam Al-Quran.

Perlu dipahami pula bahwa rizki adalah segala sesuatu yang memberi manfaat yang Allah halalkan untuk makhluk-Nya (manusia). Rizki terbagi menjadi dua hal. Pertama yang nampak oleh mata (bisa dilihat) dan bisa dirasakan bisa berupa pakaian, makanan, rumah, dan lainnya. Kedua berupa sesuatu yang tidak nampak, tapi bisa dirasakan seperti kesehatan, ilmu pengetahuan, keselamatan dan lainnya.

Anggapan bahwa rizki itu hanya berupa uang, harta benda atau materi saja merupakan anggapan yang tidak tepat. Rizki dalam Islam melingkupi semua apa yang ada dalam kehidupan manusia berupa waktu, kesehatan, kesempatan, kecerdasan, istri, anak, orang tua, tetangga, teman, lingkungan, hujan, tanaman, hewan piaraan dan masih banyak sekali yang lainnya.

Rizki seseorang tidak akan tertukar dengan orang lain karena seseorang memang sudah ada jatahnya masing-masing. Allah sudah tetapkan rizki kita dengan kadar yang tepat. Oleh karenanya, dalam mencari rizki tidak perlu dengan cara-cara kotor, curang, dzalim karena kita tidak akan mendapat sesuatu kecuali memang itu sudah ditetapkan Allah.

Walaupun berlimpah kekayaan yang dimiliki, kedudukannya begitu tinggi, di mana-mana punya asisten pribadi, namun jika bukan rizkinya, maka ia tidak akan bisa menikmati, bahkan akan menjadi beban baginya selama di dunia dan akhirat. Kekayaan dan kekuasaan yang ada padanya hanya akan menjadi petaka baginya.

Kekayaan bukan tanda kemuliaan, kemiskinan bukan tanda kehinaan

Jika sekiranya kekayaan merupakan tanda kemuliaan seseorang, niscaya Allah  Karena orang kafir tidak akan mendapat rizki karena kedurhakaannya. Akan tetapi karena saking tidak berharganya dunia ini di hadapan Allah, maka siapapun, entah dia beriman atau kafir akan mendapat rizki sesuai dengan hasil usahanya di dunia.

Namun, kaya bisa saja sebagai istidroj (pembiaran dalam kesesatan) dari Allah, yaitu hamba yang suka bermaksiat dibuat terus terlena dengan ia dilapangkan rizki. Contohnya adalah Qarun dengan melimpahnya harta.

Sementara itu, miskin pun bisa jadi sebagai adzab atau siksaan agar seorang hamba menyadari kesalahannya dan kembali ke jalan yang benar.

Akan tetapi, kekayaan dapat mengantarkan seseorang kepada kemuliaan jika dengan hal itu didasari dengan keimanan yang benar kepada Allah, ia bisa lebih dekat dengan Allah, berjuang memuliakan kalimah Allah dan berinfak membantu sesama.  Contohnya adalah Nabi Sulaiman Alaihi salam.

Kemiskinan juga bisa menjadi sarana kemuliaan apabila dengan kemiskinan itu, ia semakin dekat dengan Allah, menyadari kekurangan dan kelemahannya di hadapan Allah serta selalu beribadah, menyembah serta memohon pertolongan-Nya. Contohnya adalah Nabi Ayub Alaihi salam.

Kedekatan dengan Sang Pencipta

Dalam sebuah kisah, ada seseorang yang datang menghadap kepada Tabi’in Hasan Al-Basri, mengadukan kisahnya. Ia menceritakan bahwa, dirinya merasa jarang beribadah, jarang mengingat Allah, jarang berinfak, namun rizkinya malah mengalir dengan lancar. Semakin ia jauh dari mengingat Allah, semakin rizkinya mengalir dengan deras. Lantas ia bertanya, termasuk golongan manakah aku ini?

Lantas Hasan Al-Basri bertanya: “Apakah kamu melaksanakan shalat tahajud malam tadi?”. Ia menjawab: “Tidak”. Hasan Al-Basri kemudian berkata: “Demi Allah kamu telah kehilangan rizki yang terbesar yaitu kedekatan dan kemesraan bersama Allah Sang Pencipta. Sesungguhnya, kekayaan berupa materi itu tidak ada harganya sama sekali di sisi Allah, akan tetapi kedekatan seorang hamba dengan Penciptanya itulah rizki yang sejati”.

Ikhwan dan akhwat semuanya, kita dipertemukan dengan Ramadhan ini sebenarnya merupakan rizki yang tiada ternilai dengan materi duniawi. Kesempatan untuk kita dapat beribadah, medekatkan diri, beramal shaleh dan “bermesraan” dengan Rabb kita saat malam Ramadhan adalah rizki sejati yang Allah berikan kepada hamba-hambanya yang terpilih.

Semoga dengan Ramadhan ini, kita bisa meraih derajat takwa di sisi-Nya, merengkuh keselamatan dari siksa api neraka dan berlimpahnya pahala dan rahmat dari Allah Sang Pencipta alam semesta. (A/P2/B05)

Mi’raj News Agency (MINA)