Romantisme Keberkahan, Balada Para Pendakwah (Oleh: M.Waliyulloh)

Oleh; M. Waliyulloh

 

Allah Subhanahu Wataala memberikan keterangan yang begitu santun dalam sebuah ayat surat Al-Baqarah tentang himbauan berinfaq untuk sekelompok orang yang terhalang tenaga dan waktunya di jalan Allah.

لِلۡفُقَرَآءِ ٱلَّذِينَ أُحۡصِرُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ لَا يَسۡتَطِيعُونَ ضَرۡبٗا فِي ٱلۡأَرۡضِ يَحۡسَبُهُمُ ٱلۡجَاهِلُ أَغۡنِيَآءَ مِنَ ٱلتَّعَفُّفِ تَعۡرِفُهُم بِسِيمَٰهُمۡ لَا يَسۡـَٔلُونَ ٱلنَّاسَ إِلۡحَافٗاۗ وَمَا تُنفِقُواْ مِنۡ خَيۡرٖ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌ

“(Apa yang kamu infakkan) adalah untuk orang-orang fakir yang terhalang (usahanya karena jihad) di jalan Allah, sehingga dia yang tidak dapat berusaha di bumi; (orang lain) yang tidak tahu, menyangka bahwa mereka adalah orang-orang kaya karena mereka menjaga diri (dari meminta-minta). Engkau (Muhammad) mengenal mereka dari ciri-cirinya, mereka tidak meminta secara paksa kepada orang lain. Apa pun harta yang baik yang kamu infakkan, sungguh, Allah Maha Mengetahui”. (Al-Baqarah:273)

Ayat ini menyiratkan empati psikologis yang sangat dalam. Tersirat pula tentang harkat (pride) dan martabat (dignity) individu beriman yang terjaga kehormatannya. Orang yang memilih Uhsiru Fi Sabiilillah matanya rabun oleh kemilau harta dunia, telinganya tuli dari desiran rayuan dunia, bahkan seluruh tubuhnya ba’al dengan kenikmatan dunia. Justru hatinya luluh dan luruh untuk mengabdikan hidupnya di jalan Allah. Akhirat lah yang menciptakan ketakutan (khauf) sekaligus harapan (roja’). Sebegitu takut dosanya menggelincirkan nasibnya tanpa batas. Sebegitu berharap menerima rahmat kebahagiaan kekal dan abadi.

Takut dan harap membentuk perilaku mahluk langit meskipun kakinya terseok menapak bumi karena terlilit kemiskinan, kefakiran dan kesusahan hidup. Keadaan itu tak merisaukannya. Kesukaran dan kesempitan justru membuatnya semakin bersyukur.

Tekad hidupnya lebih fokus pada tabungan amal dibandingkan tabungan uang. Ia rela mengabdi dan mempersembahkan raga dan jiwa di jalan Allah. Tidak hanya diri, keluarganya pun harus terbawa dan terlibat menapaki jalan panjang perjuangan dan pengorbanan.

Kacamata umum melihat bahwa Uhsiru Fi Sabilillah sebagai pilihan hidup nyeleneh. Ada yang menganggap tidak rasional, kejam, dzalim terhadap anak istri, pelarian atau karena tidak ada kerjaan atau anggapan-anggapan lain. Cara pandang itulah yang membuatnya terhalang untuk memahami jalan hidup mereka apalagi membantu meringankan kecuali yang tersisa rasa sinis dan pandangan merendahkan.

Apa yang terlihat secara lahiriah berubah jadi persepsi buruk, jahat dan fasik. Bagi yang punya pikiran itu, coba benturkan kepala di tembok untuk sekedar mencairkan otak yang tumpul. Atau memastikan apakah otak itu masih ada memenuhi setiap rongga di tengkorak kepala. Bagi yang punya perasaan seperti itu ada baiknya berkaca dan menghitung betapa Allah telah menitipkan begitu banyak nikmat rezeki dan kelapangan agar hatinya tidak beku membatu.

Sesekali rasanya perlu masuk dapur mereka untuk mengintip persediaan makannya, atau menelusur hari-hari mereka bagaimana mereka memenuhi kebutuhan hidup. Kalau kita yang belum bisa seperti mereka fasih menghitung kebutuhan harian yang bikin kita sakit kepala. Maka seharusnya kita juga piawai mengestimasi kebutuhan hidup harian mereka.

Uang dapur, beras dan bumbu-bumbu. Uang sekolah untuk anak pertama, kedua ketiga. Belum lagi biaya berobat kalau kalau asam urat encok datang atau istri tiba-tiba demam meriang, atau anak panas karena radang. Sungguh kita harus melihat langsung bagaimana mereka cukup makan.

Saya banyak belajar dari mereka karena pada suatu hari saya jumpai salah satu orang yang saya kenal lebih memilih untuk uhsiru fi sabilillah. Kalau sudah begitu pasrah bongkokan menjadi tekad.

Rumahnya begitu sederhana. Setelah bertahun tahun menumpang di rumah kosong, ia tetap bermimpi punya rumah sendiri. Tapi dari mana uangnya? Alhamdulillah diijabah untuk beli material secukupnya. Gali-gali, pasang pasang dilakukan sendiri. Genteng tak terbeli asbes dirasa cukup. Full bata tak mampu cukup setengah saja disambung triplek dan papan. Jendela tak tertutup kaca utuh, potongan kaca bekas yang disusun jadilah. Lantai kasar hanya menggunakan terpal bekas spanduk sebagai pengganti karpet plastik. Urusan belum selesai, lisrik dan air menumpang dari tetangga dan ikut membayar tagihan semampunya.

Singkatnya dengan kondisi apa adanya ia boyong istri dan 6 anaknya. Kebutuhan primer, makan harian, pakaian, kesehatan, biaya pendidikan urusan belakangan. Bisyaroh 600 s.d 700 ribu rupiah harus cukup mengkover semua kebutuhan. Saya sendiri bertaruh uang segitu pasti tidak cukup. Menurutnya Allah lah yang mencukupkan. Kata ‘cukup’ adalah kata yang mahal, di dalamnya ada keyakinan dalam kepasrahan dan kepasrahan dalam keyakinan. Kata itu juga berlaku saat anak anaknya sakit. Obat, paracetamol, antibiotik, antiinflame, jadi barang istimewa tak terbeli.

Kata ‘cukup’ dan ‘pasrah’ melegitimasi cara lain berobat. Baluran bawang daun jarak untuk penurun panas dan antibiotik. Batuk cekoki dengan sereh jeruk nipis dan madu. Sebegitu banyak pilihan cara untuk kesembuhan anaknya dari apa yang tersedia selama tidak harus membeli. Sering terlihat meski kuyu dan layu tapi tetap aktif, tetap bermain dengan hiasan ingus, tangannya jadi tisu, wajahnya tetap polos dan ceria.

Melihat itu saya jadi berfikir bahwa keterbatasanlah yang melahirkan keyakinan dalam kepasrahan atau kita mengenalnya dengan tawakkal. Tawakkal perlu diteriakkan melalui perkataan, tapi tawakkal baru berproses dalam situasi dan kondisi ketidakpastian. Di sisi lain mereka punya list dan daftar kegiatan dakwah dan amal sholeh. Berangkat tanpa niat pamrih. Ketika ada panggilan amal sholeh, seberapapun jauhnya jarak dan waktu yang diperlukan dijalani. Mereka berupaya merajut pakaian ikhlash agar ringan langkahnya. Harapannya hanya untuk meraih ganjaran dan ridha Allah. Biarlah urusan sakit, sehat, risau, galau, ada beras tidak ada beras, ada uang tidak ada uang Allah yang akan urus. Yang terpenting baginya bisa amal sholeh mengurusi ummat.

Faktanya kita memang sering jadi ummat yang ‘kurus’ iman dan ukhuwwah. Kedatangan mereka, amal sholeh mereka, dianggap beban. Bahkan untuk memberikan sekedar amplop honor secukupnya kita masih memicingkan mata. Istilah dan anggapan ustaz honor, ustaz amplop sudah busuk bersemayam dalam benak kita. Padahal mereka berharap pun tidak apalagi meminta.

Memang untuk urusan ini kita jadi super perhitungan. Padahal untuk kebutuhan sendiri atau bahkan membayar sesuatu yang berbau maksiyat kita royal tidak ketulungan. Harta itu silahkan hitung sampai jumlah desimal tapi ingat tanggung jawab akan lebih berat menghadapi perhitungan akhirat. Peduli, hargai dan sayangi orang yang Uhsiru Fi Sabilillah. Mereka begawan hati yang sudah terbungkus pakaian ikhlash. Mereka tidak minta dikasihani. Mereka alergi meminta dan mengemis karena urusan dunia sudah mereka anggap selesai. Justru urusan hitung menghitung kita yang akan hadapi. Dari mana harta didapatkan dan untuk apa harta dibelanjakan. Urusan dunia tidak pernah selesai apalagi di akhirat langkah menggapai surga terseok oleh hisab harta yang digunakan hanya untuk kesombongan, bangga bangga dan kesenangan diri.

Gunakan uang yang kita punya, persilakan kendaraan yang kita miliki, manfaatkan fasilitas kita untuk menopang dakwah. Jangan permalukan mereka dengan harta yang disayang sayang, takut berkurang, takut rusak, takut kotor, takut rugi. Jika perasaan itu ada maka sesungguhnya ia adalah orang dengan mental miskin dan bakhil.

Pada hakikatnya, keuntungan harta yang kita bagi buat mereka adalah memang milik mereka. Hanya saja kita sering terlalu gede rasa atau pura pura lupa. Bersedekahlah, berbagilah untuk orang yang mensedekahkan dirinya di jalan dakwah sembari berharap doa dari bibir mereka untuk rizki dan kehidupan kita agar selalu dalam rahmat dan keberkahan. Aamiin. (A/R12/P1).

Mi’raj News Agency (MINA).