Rouhani : Sanksi Baru AS Takkan Dapat Patahkan Perlawanan Iran

Teheran, MINA – Berbicara kepada kepala Bank Sentral Iran Abdolnasser Hemmati pada Jumat (9/10), Presiden Hassan Rouhani mengatakan sanksi baru AS yang menargetkan lembaga keuangan Iran tidak akan dapat mematahkan perlawanan Iran.

“Orang Amerika tidak bisa mematahkan perlawanan rakyat Iran dengan menciptakan rintangan dan masalah dalam penyediaan obat dan makanan,” kata Rouhani.

Dikutip dari Anadolu Agency, pernyataan itu muncul sehari setelah Pemerintah AS mengumumkan sanksi baru yang menargetkan 18 bank Iran di bawah “kampanye tekanan maksimum”.

Langkah tersebut dilakukan beberapa pekan sebelum pemilihan presiden di AS, bertujuan untuk memotong saluran keuangan yang tersisa antara Teheran dan dunia dengan memasukkan seluruh sektor perbankan Iran ke dalam daftar hitam.

Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengatakan langkah itu berupaya memblokir akses Iran ke dolar AS.

“Program sanksi kami akan berlanjut sampai Iran menghentikan dukungannya terhadap kegiatan teroris dan mengakhiri program nuklirnya,” katanya dalam sebuah pernyataan.

Rouhani, menyebut langkah itu “kejam dan tidak manusiawi”, mengatakan Pemerintah AS telah “melakukan segala yang bisa” terhadap rakyat Iran, tetapi tindakan tersebut gagal mematahkan tekad rakyat Iran.

“Waktu sudah menunjukkan bahwa tindakan-tindakan AS  tersebut terbukti tidak efektif,” ujarnya seraya mengimbau masyarakat dunia agar mengutuk tindakan AS.

Dalam sambutannya, Hemmati mengatakan sanksi baru AS terhadap Iran adalah langkah politik yang tidak akan memiliki “dampak ekonomi, sambil menambahkan bahwa tindakan tersebut “akan direkam dalam memori orang Iran”.

Hemmati mengatakan meskipun ada kampanye tekanan maksimum AS terhadap Iran, mereka telah berhasil menyediakan obat-obatan dan makanan kepada rakyat, tanpa membiarkan kekurangan.

“Bank Sentral berkoordinasi dengan swasta akan melakukan segala upaya untuk terus menyediakan makanan dan obat-obatan kepada masyarakat dan tidak akan ada tekanan pada masyarakat,” ujarnya.

Dia juga mengatakan, sanksi baru tidak membatalkan pengecualian yang diberikan untuk perdagangan kemanusiaan, yang memungkinkan Iran menggunakan mekanisme SWIFT untuk pembelian komoditas esensial dan obat-obatan.

Sanksi baru itu datang saat Iran bergulat dengan gelombang ketiga virus corona, dengan infeksi baru dan kematian menyentuh rekor tertinggi setiap hari.

Sanksi baru tersebut telah menarik kecaman dari banyak pejabat senior Iran. Pada Kamis malam, Menteri Luar Negeri Javad Zarif mengatakan pemerintah AS berusaha untuk “meledakkan saluran kami yang tersisa untuk membayar makanan dan obat-obatan”, menambahkan bahwa Iran “akan selamat dari kekejaman terbaru ini”.

Pemerintah AS telah meningkatkan tekanan terhadap Iran sejak menarik diri dari perjanjian nuklir 2015 pada Mei 2018, diikuti dengan penerapan kembali sanksi.

Sejak awal tahun ini, ketegangan telah meningkat secara mengkhawatirkan dengan pemerintahan Trump mengumumkan kampanye “tekanan maksimum” untuk mencekik saluran keuangan Iran.

Bulan lalu, setelah permintaan perpanjangan embargo senjata terhadap Iran ditolak oleh Dewan Keamanan PBB, AS mengumumkan pengaktifan kembali semua sanksi PBB terhadap Iran.

Dalam beberapa pekan terakhir, harga komoditas penting di Iran telah meroket dengan nilai mata uang Iran yang turun ke rekor terendah. (T/R7/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)