Rudi Hendrik, Jurnalis dan Guru Ngaji (Oleh: Sakuri)

Rudi Hendrik tetap menjalankan tugas jurnalistiknya meski tidak bisa berjalan karena penyakit radang sendi pada tahun 2018. (Foto: Rudi Hendrik/MINA)

Oleh: Sakuri, Waliyul Imaam Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Wilayah Jabodetabek

Rudi Hendrik, pria berdarah Bugis, kelahiran Desa Siwa, Kecamatan Pitumpanua, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, 39 tahun lalu, memiliki multitalenta, jurnalis, novelis dan dengan obesinya ingin selalu bersama Al-Quran, mau mengubah lingkungannya yang eks lokalisasi Dadap Ceng In, Kabupaten Tangerang, Banten, mejadi kampung Al-Quran.

Upaya itu sudah dimulainya dengan mengadakan pemberantasan buta huruf Al-Quran melalui Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) Ats-Tsalji.

Selain menyandang profesi sebagai jurnalis produktif yang piawai memilah, memilih dan mengolah olahan pada dapur redaksi Kantor Berita Islam Mi’raj News Agency (MINA), namanya juga tidak asing lagi bagi para pendengar Radio Silaturrahim yang mengudara pada 720 AM, di acara Bedah Berita MINA (BBM) yang rutin muncul sepekan sekali setiap Jumat malam itu.

“Saya menjadi jurnalis MINA adalah spesial,” kata Rudi yang beristrikan Rambat Lestari dan sudah dikaruniai empat orang anak, Tsalji Dzakira Fasabbih (16), Khairu Mujahid (12), Barada (8), dan Gazza Fathul Aqsa (5).

Menurutnya, karena ia dan sejumlah temannya menjadi jurnalis di kantor berita Islam karena Allah dan Rasul-Nya. Apa yang Rudi lakukan dengan pena dan ketikan jari jemarinya di atas papan board laptop ataupun gatget adalah bagian dari perjuangan dalam upaya membebaskan Masjid Al-Aqsa dari penjajah Zionis Yahudi, termasuk kepeduliannya terhadap nasib umat Islam global.

“Ketika sebagian Muslimin berjihad dengan senjatanya di negeri-negeri konflik, maka kami berjihad dengan pena dan tinta,” katanya dengan semangat pada penulis.

Baginya seorang jurnalis yang mujahid, misinya adalah pengemban tugas kenabian, yaitu penyampai kabar gembira dan pemberi peringatan kepada manusia.

Sebelum mengenal dunia jurnalistik, ia terjun di dunia pernovelan. “Saya sudah membuat sejumlah novel. Untuk membuat novel itu lebih manfaat, tentu cerita islami yang mengandung pembelajaran agama harus ada di dalamnya. Sehingga kelak ketika saya sudah wafat, karya itu masih bisa memberi manfaat,” tuturnya dengan memproyeksikan masa depan kelak.

Karya-karyanya adalah tiga novel Muslimah Bintang Tujuh, buku pertama berjudul “Bintang Turun ke Langit”, buku kedua “Cinta Seleher Botol”, dan buku ketiga “Masnaini, Muslimah Rakayasa”. Buku pertama sudah naik cetak. Ada pula novel perjuangan “Cinta Para Pencinta Al-Aqsha”.

Pendidikan Al-Quran di TPQ Ats-Tsalji di malam hari. (Foto: Rudi Hendrik/MINA)

Namun, obsesinya yang utama adalah berusaha tidak lepas dari Al-Quran. Sejak Agustus 2019 ia diminta oleh sejumlah orangtua untuk mengajari khusus anak mereka yang usia remaja tapi belum bisa baca Al-Quran atau huruf Arab. Awalnya hanya tiga anak. Karena keprihatinan itulah ia luangkan waktu sesempatnya untuk mengajar mereka. Namun, karena izin Allah semata, jumlah murid yang mau mengaji kepadanya semakin bertambah hingga puluhan anak.

Dan baru belakangan ini ia menyimpulkan, “Dengan cara ini Allah mengabulkan doa yang menjadi salah satu obsesi saya, yaitu selalu bersama Al-Quran, meski saya adalah orang yang memiliki hafalan lemah dan belum fasih dalam membaca Al-Quran. Saya sangat berharap, saya dan istri, serta anak-anak saya didekatkan dengan Al-Quran,” kata Rudi penuh harap.

Tsalji yang berarti salju adalah nama anak pertamanya yang sedang mengenyam pendidikan madrasah aliyah di pesantren. Pemberian nama itu terinspirasi dari bacaan doa iftitah yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Salju salah satu benda yang berwarnah putih bersih dan bisa dijadikan alat untuk bersuci. Dan kini nama itu diabadikan menjadi nama Taman Pendidikan Al-Quran Ats-Tsalji (TPQ Ats-Tsalji).

“Saya berharap, dengan melekatnya nama putri saya sebagai nama pendidikan Al-Quran ini, ia memiliki keterikatan dan mau turut terjun dalam mendidik Al-Quran bagi generasi Islam di masyarakat umum, khususnya di daerah lingkungan bekas lokalisasi besar di Dadap Ceng In ini. Terlebih putri saya ilmu Al-Qurannya sudah lebih baik dari saya yang baru bisa sebatas mengajarkan anak-anak agar bisa membaca saja. Semoga kelak, lulus dari pendidikannya ia bisa mengamalkan ilmu Al-Quran, ilmu terbaik yang Allah turunkan ke muka bumi ini,” katanya penuh yakin kepada Allah.

Sementara itu, guru pengajarnya baru dua orang. Meski kondisi ekonomi pribadi Rudi sangat terbatas, tetapi sedikit pun ia tidak mengambil bayaran dari seluruh anak didiknya. Itupun ia harus membayar satu pengajar saja, per dua pekan Rp200 ribu. Sementara ini untuk mengajar anak-anak masih bisa ditangani berdua, karena tidak semua anak hadir mengaji setiap hari, pasti ada saja yang lebih memilih tidak masuk karena kurangnya perhatian dan dukungan orangtua.

Jika ke depannya dua orang guru sudah tidak efektif, ia akan coba merekrut pengajar lagi jika dana yang dimiliki TPQ-nya memungkinkan untuk itu.

Sejumlah penginapan dibangun di lingkungan Dadap Ceng In, Kelurahan Dadap, Kecamatan Kosambi, Kab. Tangerang, membuktikan bahwa kegiatan prostitusi masih tumbuh. (Foto: Rudi Hendrik/MINA)

Kondisi ekonomi keluarga murid-murid di TPQ Ats-Tsalji bervariasi, tetapi kebanyakan mereka miskin. Namun Rudi tidak melihat ekonomi mereka, keinginannya hanya berusaha ikhlas mengajarkan Al-Quran.

“Beberapa hamba Allah yang dermawan membantu, apakah itu dalam bentuk uang atau dalam bentuk langsung menyumbangkan Al-Quran dan buku Iqra,” katanya penuh rasa syukur.

Semetara itu, di lingkungannya masih jauh dari kata islami, terlebih bekas lingkungan hitam yang masih ada sisa-sisa kehitamannya. Tidak heran jika ada murid TPQ yang diantar oleh ibunya yang memakai rok mini dan bertato. Anak-anak itu dari anak yatim hingga anak yang ditinggal ke penjara oleh ayahnya.

Meski demikian patut disyukuri, setidaknya masih ada kepedulian orangtua untuk membuat anaknya menjadi baik dengan mengenal Al-Quran.

Sebagian murid juga orangtuanya adalah buruh kerang hijau yang penghasilannya kisaran Rp.50 ribu sehari, bahkan bisa kurang.

“TPQ ini murni didanai dan didukung oleh para dermawan secara individu,” kata Rudi yang hidupnya bersahaja itu.

Awalnya tidak terpikir tentang masalah donasi. Namun, ketika ada seorang dermawan berinisiatif membantu memberi dan mengumpulkan donasi untuk TPQ, barulah terpikir untuk menjadikan TPQ ini sebagai salah satu ladang amal jariah bagi para dermawan atau donatur. Sehingga, TPQ Ats-Tsalji jadi lahan anak-anak menuntut ilmu dan tempat para hartawan dan dermawan untuk menyalurkan hartanya sebagai tabungan untuk akhirat.

TPQ Ats-Tsalji menerima donasi untuk kelangsungan anak-anak yang hingga sekarang mencapai 90 lebih yang berada di lingkungan bekas lokalisasi senang belajar Al-Quran, melalui Bank BCA Nomor Rekening 5310175741 atas nama Nurhana.

Semoga dengan menyalurkan donasi dan kontribusinya akan tercatat sebagai orang yang dikategorikan seperti sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Quran dan mengajarkannya.” (Hadits)

(A/RS5/P1 )

Mi’raj News Agency (MINA)