Rumah Sakit Sis Al-Jufri dan Upaya Menangkal Kristenisasi

Oleh Widi Kusnadi, wartawan MINA

Bagi warga Palu, Rumah Sakit (RS) Sis Al-Jufri tentu saja tidak asing di telinga mereka. Rumah sakit itu bisa dibilang punya peran besar dalam menampung korban gempa bumi dan tsunami yang beberapa waktu lalu menghantam warga Palu dan sekitarnya. Di rumah sakit itu pula para korban mendapatkan bantuan medis secara maksimal.

Jika dilihat dari namanya, RS Sis Al-Jufri diambil dari nama pendirinya yaitu seorang ulama yang teguh dan konsisten dalam berjuang menyiarkan Islam khususnya di bumi Indonesia Timur. Dia adalah Sayid Idrus Salim Al-Jufri. Selain dikenal sebagai ulama yang hanif dan konsisten, ia juga berperan aktif dalam membendung upaya kristenisasi yang dilancarkan para misionaris.

Lokasi RS Sis Al-Jufri cukup strategis; terletak di kawasan religi jalan Sis Al-Jufri, kota Palu, Sulawesi Tengah. Di sana, terdapat Yayasan Al-Khairat yang menaungi semua lembaga pendidikan, mulai dari MI (SD) hingga perguruan tinggi. Di kawasan itu juga terdapat beberapa masjid dan mushala yang kesemuanya di bawah naungan Yayasan Al-Khairat. Kini, yayasan itu memiliki banyak cabang, tidak hanya di Sulawesi Tengah saja, tapi di beberapa provinsi lain di timur Indonesia.

Ketika gempa terjadi di Palu, 28 Sepetember 2018 lalu, gedung rumah sakit ini tidak mengalami kerusakan berarti dan saat ini menjadi rumah sakit tempat rujukan pasien untuk operasi besar karena kondisi bangunan yang masih kuat, peralatan yang cukup dan ruang operasi yang tetap bisa digunakan.

Setelah mendapat restu dari pemilik rumah sakit itu, seorang dokter yang juga aktifis lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), Andi Fajar Wella yang memasuki Palu di hari kedua pasca gempa segera melakukan koordinasi dengan tim dokter Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta dan lembaga lainnya yang terkait untuk mengoperasikan rumah sakit ini sehingga bisa menjadi rujukan bagi para pasien operasi bedah, khususnya para korban gempa.

Sejarah Singkat RS Sis Al Jufri

Cucu dari Habib Sis Al-Jufri, Habib Saggaf Al-Jufri menceritakan kepada wartawan MINA, setidaknya ada tiga alasan mengapa masyarakat Muslim di kota itu harus memiliki rumah sakit Islam.

Pertama, pendirian rumah sakit itu berawal dari desakan masyarakat Muslim kepada Yayasan Al-Khairat yang ia kelola agar segera mendirikan sebuah rumah sakit Islam, sehingga dapat memberi kenyamanan bagi Muslim yang ingin berobat. Desakan itu bukan tanpa alasan, sebab  saat itu ada dua rumah sakit milik non-Muslim yang sudah beroperasi di kota itu, yaitu RS Bala Keselamatan dan RS Advent. Sementara rumah sakit Islam belum ada.

Menurut Habib Saggaf, setiap warga Muslim yang berobat di dua rumah sakit itu, akan selalu mendapatkan ceramah, sesuai dengan misi kaum Nashrani itu. Tak jarang, ceramah-ceramah yang mereka sisipkan itu justeru berpotensi mengikis keimanan warga Muslim yang datang berobat. Tentu saja jika semacam itu dibiarkan terus, maka menurut Habib Saggaf akidah umat Islam di Palu cepat atau lambat akan rusak. Hal ini harus segera diantisipasi dengan mendirikan lembaga kesehatan berciri khas Islam.

“Ini tanggung jawab kita bersama untuk menyelamatkan akidah umat Islam dari berbagai kemungkinan hal-hal yang dapat merusaknya. Kalau kita tidak bergerak, maka akan berat pertanggungjawaban kita di hadapan Allah kelak,” kata Habib Saggaf kepada MINA.

Melihat situasi yang tak nyaman itu, maka ia segera menghubungi koleganya baik yang ada di Indonesia, maupun di Timur Tengah untuk bersama-sama membantu pendirian rumah sakit Islam di kota Palu itu. “Bismillah, dengan izin Allah semata, rumah sakit itu bisa berdiri, memberi layanan kesehatan kepada masyarakat sekaligus menjaga akidah mereka dari bujuk rayu dan iming-iming agama lain,” paparnya.

Kedua, tidak sedikit di antara masyarakat Muslim yang tidak memiliki kemampuan finansial untuk berobat di rumah sakit berbayar. Sementara kesehatan mereka merupakan prioritas utama. Maka, adanya rumah sakit Islam merupakan kebutuhan mendesak untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat, khususnya umat Islam di kota Palu.

Meskipun pemerintah sudah membuat program-program pelayanan kesehatan, tapi keberadaan rumah sakit Islam yang mampu menampung masyarakat kurang mampu jika mereka hendak berobat tetaplah mutlak diperlukan.

Hingga hari ini, banyak pasien di RS Al-Jufri yang membayar sesuai dengan kadar kemampuannya.  Bagi mereka yang memang tidak ada biaya, maka pihak rumah sakit tidak memungut biaya alias gratis, bahkan untuk masalah akomodasi kebutuhan lainnya selama di rumah sakitpun dibantu.

“Pihak rumah sakit akan menggratiskan bahkan membantu meringankan beban pasien yang kurang mampu secara fianansial. Yang terpenting para pasien bisa terobati dengan maksimal sehingga benar-benar sembuh,” tambah Habib.

Begitulah memang sebenarnya visi-misi RS Al-Jufri yang didirikan untuk memberi layanan kesehatan kepada semua lapisan masyarakat, khususnya yang tidak mampu agar kehidupan mereka bisa berjalan tanpa harus dipusingkan dengan biaya kesehatan. Sebab sejatinya, membangun rumah sakit merupakan aktifitas sosial. Keberadaan sebenarnya bukan berorientasi kepada keuntungan, tapi bagaimana ikut membantu pemerintah membangun masyarakat yang sehat, baik jasmani maupun rohaninya.

Keiga, Universitas Al-Khairat saat ini sudah memiliki fakultas kedokteran. Tentunya hal ini memerlukan tempat bagi mereka (para mahasiswa) untuk belajar melalui prakter langsung menghadapi pasien. Keberadaan rumah sakit Islam ini menjadi sangat penting bagi mereka yang belajar menimba ilmu di Fakultas Kedokteran Al-Khairat, terutama untuk para mahasiswa dan dosennya dalam proses pembelajaran.

Para mahasiswa dapat mendalami ilmunya dengan berhadapan dan menangani langsung para pasien dengan aneka macam penyakit yang diderita. Dengan demikian, mereka akan lebih cepat mengusai ilmu-ilmu di bidang kedokteran. Sementara, para dosen bisa lebih maksimal memberikan pengarahan dan bimbingan kepada mahasiswa dengan tersedianya rumah sakit dan pasien yang tidak jauh dari tempat mereka mengajar.

Dari data Universitas Al-Khairat, hingga saat ini, Fakultas Kedokteran Al-Khairat sudah meluluskan tiga angkatan dengan ratusan mahasiswa yang hari ini masih menimba ilmu di tempat itu. Tentu saja, saat-saat seperti sekarang, keberadaan RS Sis Al-Jufri dan para dokter Muslim lulusan Universitas Al-Khairat menjadi sangat penting. Harapannya, bukan saja fisik yang bisa disembuhkan, tapi jauh tak kalah penting bisa membantu juga menguatkan akidah umat.

Sekali lagi, kehadiran para dokter lulusan Al-Khairat yang dididik dengan nuansa dan semangat Islami, diharapkan mampu melahirkan rasa peduli yang tinggi dan lebih baik lagi untuk melayani masyarakata Muslim maupun non-Muslim, terlebih saat-saat seperti ini ketika musibah gempa dan tsunami baru saja datang menghampiri. (A/P2/RS3)

Mi’raj News Agency (MINA)