Jakarta, MINA – Nilai tukar rupiah kembali mengalami pelemahan dan menembus level Rp17.706 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa pagi (19/5).
Pelemahan ini memperpanjang tekanan terhadap mata uang Garuda di tengah meningkatnya ketidakpastian global serta kekhawatiran pasar terhadap kondisi ekonomi dan geopolitik internasional.
Data perdagangan pasar spot menunjukkan rupiah melemah sekitar 36 poin atau 0,20 persen dibandingkan posisi penutupan sebelumnya. Tekanan terhadap rupiah terjadi seiring menguatnya dolar AS di pasar global serta meningkatnya permintaan valuta asing untuk kebutuhan impor, pembayaran utang luar negeri, dan aktivitas ekonomi internasional lainnya.
Pelemahan rupiah juga dipengaruhi meningkatnya ketegangan geopolitik dunia, termasuk konflik Iran-Israel yang memicu kenaikan harga minyak global.
Baca Juga: DPR Sahkan UU Pelindungan Ketenagakerjaan, Hak Pekerja Diperkuat
Kondisi tersebut mendorong investor global cenderung mengalihkan aset ke instrumen yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS. Sejumlah analis menilai situasi ini memberi tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Bank Indonesia (BI) sebelumnya menyatakan telah meningkatkan intervensi di pasar valuta asing guna menjaga stabilitas rupiah.
Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan cadangan devisa Indonesia masih berada pada level yang memadai untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional, meskipun tekanan terhadap rupiah masih berlangsung dalam beberapa pekan terakhir.
Di tengah pelemahan rupiah, perhatian publik juga tertuju pada dampaknya terhadap harga barang impor, biaya perjalanan luar negeri, hingga potensi kenaikan inflasi domestik. Namun pemerintah menilai fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat.
Baca Juga: Kemenag Dukung Amil Zakat Profesional dan Bersertifikat
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menyatakan kondisi ekonomi nasional tetap terkendali dan kebutuhan pangan serta energi masyarakat masih aman di tengah gejolak nilai tukar.
Sementara itu, sejumlah ekonom memperkirakan BI berpotensi menaikkan suku bunga acuan dalam waktu dekat untuk meredam tekanan terhadap rupiah dan menjaga kepercayaan pasar.
Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga stabilitas sistem keuangan nasional di tengah volatilitas global yang masih tinggi dan tekanan pasar keuangan internasional yang belum mereda. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Forum Zakat Soroti Perlindungan dan Profesionalisme Amil
















Mina Indonesia
Mina Arabic