Rusia: Oposisi Diizinkan Tinggalkan Ghouta Timur

Pejuang oposisi dari kelompok Tentara Islam di Ghouta Timur. (Foto: Army of Islam, via AP)

Ghouta Timur, MINA – Militer Rusia mengatakan pada Selasa (6/3), oposisi Suriah diizinkan meninggalkan daerah kantong Ghouta Timur melalui koridor kemanusiaan bersama keluarga dan senjata apinya.

“Kali ini koridor kemanusiaan terbuka tidak hanya untuk warga sipil Ghouta Timur tetapi juga untuk pejuang dengan keluarga mereka,” kata perwira militer Rusia Vladimir Zolotukhin di Ghouta Timur, demikian Nahar Net melaporkan.

“Anggota kelompok bersenjata ilegal diperbolehkan membawa senjata pribadi,” tambahnya, tanpa menjelaskan pilihan apa yang tersedia bagi oposisi yang tiba di zona yang dikuasai pasukan Pemerintah Suriah tersebut.

Moskow telah mengelola sebuah koridor dari wilayah Ghouta Timur yang dikepung selama delapan hari, dengan “jeda kemanusiaan” setiap hari antara pukul 09:00 hingga 14:00 waktu lokal, dimaksudkan mendorong warga sipil meninggalkan zona perang tersebut.

Namun rencana tersebut, yang juga seharusnya memberi kesempatan bantuan makanan dan medis untuk menjangkau mereka yang membutuhkan, sebagian besar gagal bekerja, karena wilayah di luar kekuasaan pasukan Pemerintah tetap berada di bawah pengeboman.

Moskow menuduh kelompok oposisi di Ghouta Timur memblokir warga sipil untuk menggunakan koridor tersebut.

Militer Suriah mengatakan, hari Senin (5/3), hanya 13 orang yang bisa keluar dari daerah kantong tersebut bersama dengan konvoi PBB.

Zolotukhin mengatakan bahwa penembakan dari daerah yang dikuasai oposisi di daerah tersebut menghantam sebuah rumah sakit di pinggiran kota Damaskus, Senin, tapi serangan di koridor tersebut mereda pada hari Selasa.

Lebih dari 780 warga sipil, termasuk 170 anak, telah terbunuh sejak pasukan Pemerintah Suriah melancarkan serangan di Ghouta Timur pada 18 Februari.

Menurut lembaga pemantau Observatorium Suriah untuk HAM (SOHR), pada Selasa pagi, pasukan Pemerintah menguasai 40 persen Ghouta Timur. (T/RI-1/RS2)

Mi’raj News Agency (MINA)