Rusia Salahkan Oposisi Tidak Terapkan Gencatan Senjata, Tapi Dibantah

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov (Foto: World Bulletin)

Jenewa, MINA – Rusia menyalahkan oposisi penguasa daerah kantong Ghouta Timur karena tidak menerapkan gencatan senjata dan menghalangi bantuan agar tidak dikirim ke warga sipil yang memerlukan, tapi tudingan itu dibantah oleh pihak oposisi.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan hari Rabu (28/2) di Jenewa, militan perlu bertindak sekarang karena Rusia menerapkan “koridor yang aman”.

Menghadapi Dewan Hak Asasi Manusia PBB, Lavrov mengatakan, Moskow akan terus mendukung pasukan Suriah dalam mengalahkan “ancaman teroris”.

Zeina Khodr wartawan Al Jazeera melaporkan dari Beirut, Lebanon, oposisi di Ghouta Timur menolak klaim yang dibuat oleh Lavrov.

“Mereka (oposisi) menyangkal hal ini dengan mengatakan, mereka tidak mengebom koridor keamanan, dan orang tidak ingin pergi karena mereka tidak memiliki jaminan keamanan, tidak ada pemantau internasional,” lapor Khodr.

Ia menambahkan dengan mengutip perkataan sumber oposisi di Ghouta Timur, warga tidak mau menyeberang ke wilayah pemerintah, karena tidak ada jaminan bahwa mereka tidak akan ditangkap, ditahan, atau dipaksa masuk wajib militer.

“Yang diinginkan orang adalah gencatan senjata yang langgeng,” tambahnya.

Ghouta Timur telah menjalani pengeboman udara terus-menerus sejak Ahad, 18 Februari, ketika pesawat tempur Suriah yang didukung Rusia meningkatkan operasinya melawan pejuang oposisi di daerah tersebut.

Menurut lembaga pemantau Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR), lebih  dari 550 warga sipil terbunuh, menjadikan serangan terbaru itu yang paling dahsyat dalam perang tujuh tahun Suriah. (T/RI-1/RS1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)