Saat Kabar Suka-Duka Diterima Relawan Indonesia di Gaza

Relawan MER-C Indonesia bekerja di atap Rumah Sakit Indonesia (RSI). (Foto: Ayub/MER-C)

Oleh: Rudi Hendrik, jurnalis Mi’raj News Agency (MINA)

Tidak mudah berada di Jalur Gaza, sebuah kantong wilayah pantai seluas 365 km persegi di Palestina yang diblokade darat, laut dan udara oleh penjajah Israel sejak tahun 2007. Terlebih bagi mereka yang berasal dari negeri yang damai kemudian datang ke Jalur Gaza untuk masa yang cukup lama.

Sebanyak 28 relawan Ponpes Al-Fatah asal berbagai daerah di Indonesia, sejak 23 Februari 2019 berangkat ke Gaza atas nama lembaga medis kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang berbasis di Jakarta.

Bermodal semangat jihad membantu rakyat Palestina di Gaza dan berbekal kesabaran, para relawan harus meninggalkan anak dan istri untuk masa waktu sedikitnya satu tahun.

Banyak kisah yang dihadapi dalam kondisi jauh dari keluarga, seperti kehadiran putra dan putri dari istri tercinta, serta harus tabah menerima kabar duka yang datang dari keluarga yang ditinggal di Tanah Air.

Seperti yang dialami oleh Osama, relawan asal Singkawang, Kalimantan Barat. Hari Jumat, 23 Agustus, istrinya di kampung harus melahirkan putranya tanpa suami berada di sisi.

Relawan yang baru saja memimpin kepanitiaan penyaluran kurban Muslim Indonesia untuk Palestina itu, dikaruniai anak keempatnya melalui operasi cesar yang prosesnya berjalan dengan lancar. Berat si bayi 2,9 kg.

Bayi laki-laki itu rencananya akan diberi nama Zayyan Nurohman.

Osama bersama 28 relawan Indonesia lainnya sedang bertugas membangun Rumah Sakit Indonesia (RSI) tahap dua di Beit Lahiya, Gaza utara, Palestina. Rumah sakit yang dibangun dan didanai oleh rakyat Indonesia itu sedang ditambah dua lantai untuk memperbesar kapasitasnya. RSI sudah tidak bisa menampung jumlah pasien warga Gaza yang semakin banyak jumlah setiap hari, terlebih jika ada serangan udara dari penjajah Israel ke wilayah kecil itu.

“Kebahagiaan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata, walau jarak memisahkan kami,” kata Osama di Gaza kepada MINA melalui pesan WhatsApp-nya.

“Berkat doa dan dukungan moril dari ikhwan dan akhwat, istri kami tenang dan tegar walau suaminya tidak ada disampingnya saat melahirkan anak keempat,” katanya.

Selain Osama, ada dua relawan lainnya yang dianugerahi putra saat mereka masih berada di Gaza yang diblokade Israel.

Relawan bernama Doni Novrizal asal Palembang dikaruniai anak pertama pada bulan Juli dan istri Hidayatullah asal Lampung melahirkan putra keduanya pada Maret.

Selain kabar gembira, kabar duka pun diterima dua relawan lainnya beberapa waktu sebelumnya.

Relawan Lutfi Paimin asal Singkawang pada Mei lalu harus menerima kabar bahwa ibunya telah meninggal di saat ia belum bisa pulang ke Tanah Air.

Demikian pula relawan Sodikin Slamet Dapen asal Brebes, ia hanya bisa menerima kabar bahwa ayahandanya telah wafat di kampung halaman pada Juli lalu.

Pembina jaringan Ponpes Al-Fatah Indonesia Imaam Yakhsyallah Mansur berpesan kepada para relawan RSI yang melakukan jihad profesional di Gaza agar tetap meningkatkan kesabaran dan terus melaksanakan tugasnya dengan baik.

“Ujian mesti sulit, kalau tidak sulit bukan ujian, maka hasilnya bermutu. Kalian akan mendapatkan keutamaan sabar yang salah satunya diberi kabar gembira oleh Allah berupa shalawat, rahmat, dan muhtadun atau petunjuk dari Allah,“ pesan Imaam Yakhsyallah melalui sambungan telepon kepada para relawan. (A/RI-1/RS3)

 

Mi’raj News Agency (MINA)