SAAT KEHORMATAN MUSLIM TERKOYAK DI BULAN RAMADHAN

carOleh Nur Rahmi / Wartawan MINA

Saat 1,6 juta miliar umat Islam bergembira menyambut dan melaksanakan bulan penuh berkah dan segudang pahala yang secara pribadi Allah Subhana Wa Ta’ala akan membalasannya. Saat jutaan Muslim berbahagia dengan ibadah di bulan sejuta rahmat, namun ada hal yang mesti diketahui dan kita cermati pada sebagian saudara Muslim lain di seluruh dunia. Tahukah kita apa yang terjadi pada saudara Muslim kita di belahan dunia? Mereka, hari ini dalam keadaan diperlakukan sewenang-wenang, tertindas dan dibantai. Lalu dimana dan apa bentuk kepedulian kita?

Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam, “Orang Muslim adalah saudara Muslim lainnya, tidak berbuat zalim kepadanya dan tidak meghinakannya. Barangsiapa peduli pada kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya. Barangsiapa menghilangkan kesusahan seorang Muslim, maka Allah akan menghilangkan kesusahannya pada hari kiamat kelak. Dan barangsiapa menutup aib seorang Muslim, maka Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat kelak. (HR. Muttafakun ‘Alaih).

Namun sayangnya kegembiraan itu hanya dirasakan oleh beberapa Muslim di belahan dunia, sementara sebagian yang lainnya masih berjuang untuk memegang teguh keislaman mereka meski hanya sekedar menunjukkan identidas mereka sebagai seorang Muslim. Mereka dianiaya, dibunuh, diperkosa, diusir hanya karena mereka seorang Muslim.

Myanmar

Kita ketahui bersama Rohingya adalah minoritas Muslim yang berasal dari Bangladesh, di mana mereka tinggal di sebuah negara yang mayoritas beragama Budha dari Myanmar yang sebelumnya dikenal sebagai Burma (1989). Hal itu diperparah oleh pemerintah Myanmar yang tidak mengakui Rohingya sebagai warga negara (stateless) di Myanmar.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan, lebih dari 86.000 anggota etnis Muslim Rohingya   meninggalkan Myanmar Barat, Negara Arakan, menempuh perjalanan penuh bahaya dengan perahu, sejak pecahnya kekerasan antar-komunal pada pertengahan 2012.

Menurut catatan yang diposting secara online oleh juru bicara Badan Pengungsi PBB (UNHCR) Adrian Edwards dalam jumpa pers di Jenewa, Selasa, 615 orang dilaporkan telah meninggal ketika melakukan perjalanan pada 2013. Korban tewas tahun lalu lebih besar lagi dengan jumlah 730 orang tewas selama pertengahan 2012.

Kekerasan antara etnis Arakan Buddha dan Muslim Rohingya pecah pada Juni 2012 dan telah kembali terulang secara sporadis sejak itu. Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan ‘mengatakan angka terbaru untuk mereka yang tinggal di kamp-kamp untuk pengungsi internal di negara bagian sebanyak 137.000 orang, mayoritas dari mereka adalah Rohingya.

Republik Afrika Tengah (CAR)

Komisaris Tinggi PBB untuk mengungsi di New York, Antonio Guturres mengatakan ribuan Muslim telah melarikan diri dan terancam kehilangan nyawa akibat kekerasan yang melanda di Republik Afrika Tengah (CAR) dan ribuan warga sipil terancam dibunuh.

Konflik CAR yang terjadi antara pasukan Muslim Selaka dengan Kristen Balaka terjadi sejak penggulingan mantan presiden Francois Bozize, seorang Kristen dengan Muslim Michel Djotodia pada 2012.

Menurut angka UNHCR, 637.000 orang total mengungsi di dalam negeri, termasuk 207.000 di Bangui. Sementara 82.000 yang kebanyakan Muslim Afrika Tengah telah menyelamatkan diri ke negara-negara tetangga selama tiga bulan terakhir.

Cina

Orang-orang Uighur adalah minoritas Muslim Turki yang tinggal di wilayah otonomi Xinjiang yang dikenal sebagai Turkestan Timur di Cina. Mereka mendapat perlakuan diskriminasi agama dari pemerintah Cina.

Sejak berdirinya Republik Cina pada 1912 beberapa Muslim Uighur menuntut otonomi penuh dari pemerintah Cina.

Mantan pemimpin Cina Mao Zedong meluncurkan kampanye yang bertujuan untuk membersihkan para kritikus pemerintah dan diduga menargetkan Uyghur nasionalis. Selama kampanye tersebut (1958-1962) ratusan Uigur Xinjiang melarikan diri ke Uni Soviet karena kelaparan yang meluas.

Cina menuduh militan Uighur melancarkan kampanye kekerasan untuk sebuah negara merdeka. Namun Beijing sering dituduh melebih-lebihkan ekstrimisme Uighur untuk membenarkan tindakan keras terhadap agama minoritas Muslim.

India

Sekitar 50.000-200.000 Muslim diyakini telah meninggal dalam kerusuhan rasial di Hyderabad pada 1948. Jumlah korban terbesar adalah Muslim. Sejak kemerdekaan, India selalu mempertahankan komitmen konstitusional untuk sekularisme tapi konflik Muslim-Hindu yang terjadi pada 1992 menjadi awal ketegangan Antara komunitas Hindu dan Muslim.

Kerukunan antara Hindu dan Muslim runtuh ketika penghancuran Masjid Babri di Ayodhya. Pembongkaran berlangsung pada 1992 dan dilakukan oleh Nasionalis Hindu Bharatiya Janata Party (BJP).

Bulan lalu, Narendra Modi, yang menjadi pemimpin BJP telah dilantik sebagai perdana menteri baru India. Kelompok hak asasi manusia dan media menuduh Modi, telah memimpin kerusuhan di Gujarat pada 2002 yang mengobarkan kekerasan dan tidak melindungi komunitas Muslim.

Angola

Pada November 2013 Angola memerintahkan penutupan semua masjid karena dianggap tidak memiliki izin pembangunan. Menteri kebudayaan Rosa Cruz e Silva menyebut Islam sebagai aliran agama yang dilarang. Karena proses legalisasi Islam belum disetujui oleh Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Angola.

Keputusan itu diambil setelah Gubernur ibukota Angola, Luanda, Bento Bento dilaporkan mengatakan pada sebuah stasiun radio lokal, umat Islam tidak diterima di Angola dan pemerintah tidak akan melegalkan keberadaan masjid di negara itu.

Islam di Angola adalah agama minoritas, diperkirakan berjumlah antara 80 ribu-90 ribu Muslim (hasil survei 1998), merupakan dua setengah persen dari 18,5 juta penduduk Angola, yang sebagian besar memeluk kepercayaan adat tradisional (47 persen), sementara 38 persen penduduk Angola memeluk Katolik Roma dan 15 persen lainnya memeluk Kristen Protestan.

Jumlah penduduk muslim di Angola saat ini terus bertambah mengingat masuknya gelombang imigran yang besar dan banyak dari umat Islam di negara Afrika Barat maupun lainnya.

Banyak Muslim menetap di Angola setelah tiba dari negara-negara Afrika Barat sejak tahun 1992, ketika pemerintah Angola yang dipimpin Presiden Jose Eduardo dos Santos meninggalkan ideologi Marxisme.

Begitulah kondisi puasa Ramadhan yang dilaksanakan saudara Muslim diberbagai belahan dunia. Kita doakan semoga ujian yang menimpa mereka bisa menjadi wasilah untuk meraih ridha dan surga Allah kelak. Selain itu, apa yang menimpa saudara kita dibelahan dunia merupakan peringatan bagi setiap Muslim agar selalu waspada dan mempersiapkan diri dengan segala kekuatan bila sewaktu-waktu musuh-musuh Islam meluapkan kebenciannya.

Terlebih lagi di bulan suci ini, dimana setiap doa yang kita panjatkan akan diijabah oleh Allah SWT.  Maka, sempatkanlah berdoa dalam sujud-sujud panjang kita demi keselamatan saudara Muslim kita yang kini sedang teruji.(T/P08/R2)

 

Mi’raj Islamic News agency (MINA)

Comments: 0