SALUT UNTUK BRUNEI

Oleh Bahron Ansori*

“Hai orang-orang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Qs. Muhammad: 7).

Petikan terjemah ayat Qur’an dalam surat Muhammad ayat 7 di atas adalah salah satu ungkapan yang disampaikan Sultan Brunei Darussalam Hassanal Bolkiah dalam pidatonya beberapa waktu lalu terkait dengan pengumuman penerapan syariat Islam di negaranya. Menurutnya, penerapan syariat Islam di negaranya adalah salah satu wujud menolong agama Allah.  

Kecaman berbagai kalangan internasional dan Barat atas penerapan hukum Islam di Brunei Darussalam atau Kanun Hukuman Jenayah (KUHP) Syariah 1 Mei 2014 lalu membuat  berbagai kalangan menjawab keraguan Barat. Sebuah situs Brunei United, mengemukakan jawaban Sultan Brunei Sultan Hassanal Bolkiah menjawab berbagai keraguan pihak asing atas penerapan syariah tersebut.

Inilah jawaban bagi para peragu syariat yang dimuat di Brunei United (BU), Kamis (08/05/2014) lalu.

“Di negara-negara Anda, Anda menjalankan kebebasan berbicara, kebebasan pers, kebebasan beragama, dan lain sebagainya. Itu semua terdapat dalam konstitusi Anda. Itu sistem politik, identitas nasional, hak dan cara hidup Anda. Di negara saya, kami menjalankan sistem Melayu, Islamis dan Monarkis dan kami akan memulai menjalankan hukum-hukum Islam, Hukum Syariah. Islam ada di dalam konstitusi, identitas nasional, hak-hak dan cara hidup kami.”

“Kami dapat menemukan celah dalam hukum-hukum dan sistem peradilan Anda dan Anda mungkin telah menemukan celah dalam hukum-hukum dan sistem peradilan kami, tapi ini adalah negara kami. Seperti halnya Anda menjalankan hak Anda untuk menjadi gay, dan lain sebagainya demi kehidupan dunia ini di mana Anda tinggal saat ini, kami menjalankan hak kami untuk menjadi Muslim demi kehidupan dunia dan akhirat.”

“Negeri ini adalah negara Islamis yang menerapkan hukum Islam. Mengapa Anda tidak prihatin atas anak-anak Anda yang ditembak mati di sekolah-sekolah, prihatin atas penjara Anda yang tidak mampu menampung narapidana, prihatin atas tingginya tingkat kejahatan dan jumlah pengemudi di bawah pengaruh obat-obatan terlarang, prihatin atas tingginya tingkat bunuh diri dan tingkat aborsi, prihatin atas apapun yang seharusnya Anda prihatinkan.”

“Banyak agama menentang homoseksualitas, itu bukan hal baru. Saat Anda mendengar Islam dan Kaum Muslim mempertahankan diri dan berusaha menguatkan kembali iman mereka, Anda menghakimi, memboikot dan mengatakan itu salah, bodoh dan biadab.”

“Sekali lagi, kembalilah kepada keprihatinan-keprihatinan yang semestinya Anda fokus seperti yang telah saya sebutkan di atas. Apakah tidak salah melegalkan senjata mematikan, apakah tidak salah mengijinkan pembunuhan bayi yang belum lahir, apakah tidak salah memperbolehkan gaya hidup yang menimbulkan AIDS dan memutus rantai generasi berikutnya?”

“Mengapa Anda sangat peduli pada apa yang terjadi di sini di sebuah negara Islam, tapi pada saat yang sama Anda tidak menolehkan muka ke Suriah, Bosnia, Rohingya, Palestina dan lainnya. Ribuan orang dibunuh di sana dan Anda tidak peduli, tidak ada seorangpun yang tewas di sini di bawah hukum Syariah ini, dan Anda membuat keributan besar, bahkan ketika warga di sini yang langsung terkena dampaknya, menerimanya dengan damai.”

“Hukuman boleh jadi keras tetapi itu tidak berarti lebih mudah dilakukan. Ada proses yang harus dilalui sebelum penjatuhan hukuman yang sebenarnya. Kami baik-baik saja dengan hal itu dan kami bahagia.” Demikian Sultan Hassanal Bolkiah.

Tak mau ketinggalan, sejumlah tokoh dan bintang Hollywood menyerukan pemboikotan Hotel Beverly Hills milik kelompok investasi yang dipimpin oleh Sultan Brunei Darussallam, karena bulan lalu memberlakukan hukum Islam. Dikutip AFP, sejumlah selebriti Amerika seperti Jay Leno , Ellen DeGeneres dan miliarder Richard Branson sebelum ini juga mendesak boikot terhadap jaringan Beverly Hills Hotel.

Pembawa acara Jay Leno mengatakan ini bukan masalah politik, melainkan sesuatu yang tidak lagi diperdebatkan. Bintang televisi Ellen DeGeneres mengatakan dirinya tidak akan lagi menggunakan hotel manapun yang dimiliki kelompok Sultan tersebut. Sejumlah kelompok usaha pertunjukan bahkan secara sengaja telah membatalkan beberapa acara yang dijadwalkan akan diadakan di hotel tersebut.

Bahkan pejabat di Beverly Hills, California, telah meluluskan resolusi yang menuntut agar Sultan Brunei menjual sahamnya pada Beverly Hills Hotel yang bersejarah, yang sering didatangi orang-orang kaya dan terkenal serta bintang-bintang dan elit Hollywood. Hotel yang dibuka pada 1912, bahkan sebelum Hollywood menjadi ibukota perfilman dunia. Kepala jaringan Dorchester Collection , Christopher Cowdray mengatakan ini adalah satu kesalahan dan hanya akan mempengaruhi staf hotel.

“Tindakan yang ingin diambil harus dipertimbangkan secara serius karena akan mempengaruhi kehidupan semua orang, ” katanya pada satu pertemuan dengan dewan kemarin malam.

Bagaimana dengan Indonesia?

Brunei Darussalam adalah satu-satunya negara di Asia Tenggara yang dengan berani dan tegas menjadikan syariat Islam sebagai hukum negaranya. Lalu bagaimana dengan Indonesia yang katanya berpenduduk Muslim terbesar di dunia?

Meski negeri ini mempunyai penduduk Muslim mayoritas di dunia, namun tidak mudah untuk menerapkan hukum syariat Islam. Jangankan menerapkan syariat Islam, sekedar menggolkan Undang-Undang Jaminan Produk Halal (UU JPH) yang jelas-jelas akan menguntungkan Muslim dan non Muslim saja masih membutuhkan pro kontra yang tak kunjung padam.

Negeri ini benar-benar aneh. Pertama, bagaimana tidak, katanya mayoritas penduduknya beragama Islam, tapi lihatlah betapa banyak tempat-tempat lokalisasi ang sengaja dipelihara dengan alasan lebih baik ditampung di satu lokasi dari pada dibiarkan bertebaran kemana-kemana. Sungguh, ini adalah logika setan yang jauh dari cara berfikir yang dituntun oleh wahyu Allah SWT.

Itu baru lokasi yang dilokalisasikan. Belum lagi tempat remang-remang lain yang tak kalah menariknya bagi para lelaki hidung belakang untuk memuaskan syahwat hewaninya. Ditambah lagi pergaulan bebas muda mudi mulai sekolah tingkat pertama hingga mahasiswa. Pergaulan bebas yang berujung seks bebas itu hari ini terus saja terjadi dan meningkat.

Tak kalah hebat baru-baru ini dari negeri yang katanya mayoritas penduduknya beragama Islam ini muncul seorang predator pedofilia asal dengan nama Andri Sobari alias “Emon.” Melihat namanya, ia adalah orang Sunda. Suku Sunda yang selama ini identik kuat memegang teguh ajaran Islam tiba-tiba sirna karena prilaku bejat di Emon.

Pelaku yang sudah melakukan pelecehan seksual terhadap 100 anak lebih sejak 6 Mei 2005 itu semakin memustahilkan Indonesia untuk menerapkan syariat Islam. 

Kedua, lihatlah betapa banyaknya pengonsumsi minuman keras dan korbannya setiap tahun semakin meningkat. Untuk mengatasi peredaran miras saja pemerintah negeri ini tak mampu. Jangankan untuk membumihanguskan produk haram tersebut, sekedar untuk mengurangi peredarannya saja tak mampu. Justeru yang terjadi sebaliknya, banyak pemuda negeri ini yang tewas karena over dosis mengonsumsi miras.

Sepertinya, keberkahan negeri ini sudah hilang. Gelar sebagai negara mayoritas berpenduduk Muslim ibarat gundukan pasir yang sewaktu-waktu akan hilang terhempas badai; keropos, dan mandul. Negeri ini terlampau bangga dengan slogan kejayaan masa lalu saat dimana nenek moyang dengan gigih berjuang mengusir para penjajah.

Keberkahan itu hilang bisa jadi karena penduduk mayoritas Muslim di negeri ini kurang bersyukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan segala kekayaan alam. Saking kayanya negeri ini, tak heran group band lawas Koes Plus mengatakan dalam bait syairnya “Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman”, luar biasa bukan?

Tapi slogan itu tak menunjukkan kenyataan sebenarnya. Kenyataaannya, negeri kaya ini hanya bisa dinikmati oleh segerombolan pejabat yang gila harta, takhta dan wanita saja. Menindas kaum lemah, menyogok para pejabat atas, menginjak yang bisa diinjak dan melakukan korupsi sekehendak hati dan sederet prilaku bejat lainnya seolah menjadi pertanda umur negeri ini akan segera berakhir.   

Jadi, dengan situasi Indonesia hari ini yang mayoritas penduduknya beragama Islam, mungkinkah syariat Islam bisa ditegakkan? (T/R2/IR)

*Redaktur MINA 

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Comments: 0