Sambut Ramadhan, Ada Bahagia dan Nestapa di Sana

Oleh Widi Kusnadi, wartawan MINA

Bulan Ramadhan bagi umat Islam sudah seharusnya disambut dengan suka cita. Betapa tidak, di bulan ini, Allah Subhanahu wa taala melimpahkan rahmat dan ampunan kepada siapa saja yang ingin mendapatkannya. Bahkan tidak hanya umat Islam, orang-orang non-Islam pun mendapatkan rahmat itu melalui bisnis yang mereka jalankan.

Betapa kita lihat dunia bisnis meliputi kuliner, fesyen, industri hiburan, bahkan digital pun berlomba-lomba menjadikan Ramadhan sebagai “ikon dagangan” mereka. Mereka sudah mempelajari dengan matang, betapa masyarakat Muslim di bulan ini memiliki tingkat konsumsi yang cukup tinggi dibanding bulan-bulan selainnya.

Namun, ternyata tidak semua masyarakat Muslim merasakan suka cita para Ramadhan kali ini. Kita menyaksikan melalui pemberitaan, pada awal Ramadhan ini saudara-saudara kita di Gaza, Palestina justru menghadapi ancaman serangan bom brutal dari Zionis.

Dari catatan terkini yang diterima MINA di hari ketiga Ramadhan ini sudah 27 warga Gaza yang menemui syahid dan sedikitnya 250 warga dalam perawatan di rumah sakit di Gaza. Israel telah melancarkan 320 kali serangan dalam dua hari. Banyak gedung apartemen dan perkantoran yang hancur.

Salah satunya adalah kantor Anadolu di Gaza yang luluh lantak akibat serangan itu. Sementara Kementerian Pendidikan di Gaza mengatakan, setidaknya ada 13 bangunan sekolah rusak, 5 diantaranya rusak total akibat bom Zionis itu.

Sementara itu, Pajuang Hamas dan jihad Islam mengklaim telah meluncurkan sedikitnya 620 roket ke wilayah pendudukan. Hasilnya, 4 warga pendudukan tewas dan puluhan lainnya terluka. Meskipun iron dome Israel berhasil menahan 420 roket pejuang, namun masih ada ratusan lainnya yang berhasil merangsek kantong-kantong permukiman illegal.

Tidak hanya itu, menurut AFP, Amerika Serikat (AS) mengerahkan Kelompok Serbu Kapal Induk USS Abraham Lincoln dan sebuah pasukan satuan pengebom ke wilayah Komando Sentral AS di kawasan laut Timur Tengah pada Senin lalu sebagai respons terhadap sejumlah indikasi dan peringatan yang mengganggu dan memicu eskalasi.

Muslim Xinjiang

Kabar duka juga datang dari saudara-saudara kita di Xinjiang, Cina pada Ramadhan ini. Menurut laporan media Inggris, The Guardian, yang merilis hasil temuannya berdasarkan analis citra satelit, ada 15 masjid dan situs umat Islam di Xin jiang yang dimusnahkan. Jadi, sejak 2016 sudah ada 31 masjid yang dihancurkan.

Di antara situs yang hancur total adalah bangunan masjid dan makam Imam Asim yang menarik ribuan peziarah Uighur setiap tahun. Saat ini, hanya makam yang tersisa dari situs itu.

Seorang sejarawan Islam di Universitas Nottingham, Rian Thum mengatakan, Cina ingin mencabut budaya mereka dan memutuskan hubungan mereka dengan leluhur dan tempat bersejarah mereka yang menjadi pusat penting dalam sejarah Uighur.

Seorang mahasiswa Uighur, Shalahuddin menulis sebuah surat yang mengabarkan kondisi umat Islam di Xin jiang menjelang Ramadhan ini. Ia mengatakan, tak ada Ramadhan bagi kami karena kami dilarang berpuasa. Itu tercermin dalam peraturan-peraturan sekolah yang mengharuskan murid-muridnya makan siang. Bagi yang kedapatan melanggar, maka diberi sanksi penjara, meskipun masih anak-anak.

“Kalau ada yang melanggar, konsekuensinya dipenjara. Sekalipun masih anak-anak. Untuk menebusnya, orangtua harus mengeluarkan uang yang sangat banyak,” katanya dalam wawancara pribadi melalui email. “Sehingga bisa dipastikan tak ada lagi anak-anak sekolah yang menjalankan puasa Ramadhan,” ujarnya lagi.

Lantas, bagaimana menyikapi hal itu? Shalahuddin mengatakan, mereka mengqadla puasa di hari yang lain agar tidak terlihat mencolok.

Melihat situasi yang terjadi di Cina itu, penulis bisa menyimpulkan bahwa pemerintah Cina di satu sisi membiarkan sebagian Muslim beribadah dengan baik, tetapi di sisi lain melakukan tindakan dzalim dan represif terhadap Muslim lainnya.

Muslim Rohingya

Belum lagi kondisi saudara kita di Rohingya yang belum jelas bagaimana masa depannya. Hingga kini, terhitung hampir satu juta lebih pengungsi Rohingya menempati kamp-kamp penampungan di Cox’s Bazar dan Kutupalong di Bangladesh. Mereka telah menyatakan tidak ingin kembali ke Rakhine, meski perjanjian repatriasi antara Myanmar dan Bangladesh telah ditandatangani.

Berita terbaru dari AFP pada Jumat (3/5) lalu, Tentara Myanmar menembak sedikitnya enam orang di Rakhine State. Selain itu, sebanyak 275 orang juga ditahan di sebuah sekolah dalam operasi pencarian anggota Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA).

Sementara kondisi di pengungsian Cox’ Bazar sendiri seperti dilaporkan The Daily Star bahwa kondisi udara di sana sangat tidak sehat akibat pencemaran asap kayu bakar dan kendaraan berat. Kandungan zat kimia seperti Nitrogen Dioksida mengancam kesehatan pengungsi di sana.

Para aktifis juga meneliti kondisi air di sana yang juga tercemar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 62 persen air di tempat itu mengandung Kolifirm, kelompok bakteri berbahaya yang hidup di limbah kotoran manusia. Ini masalah serius dan harus degera mendapat solusi jika tidak ingin korban lebih banyak.

Apa Yang Harus Kita Lakukan?

Mencermati kondisi sebagian Muslimin yang dilanda kesusahan itu, sudah seharusnya kita memanjatkan doa di bulan mulia ini agar Allah Subhanahu wa taala memberi kelapangan dan solusi terbaik bagi mereka. Jangan lewatkan dalam untaian doa kita agar saudara-saudara kita diberi ketabahan, kesabaran dan sekaligus dapat keluar dari musibah yang menimpanya.

Semoga Allah Subhanahu wa taala juga mengaruniakan lailatul qadar kepada mereka yang tertimpa bencana. Kiranya Allah Subhanahu wa taala mencatat takdir terbaik untuk kita dan juga saudara-saudara kita di sana, memenangkan umat Islam atas musuh-musuhnya dan melimpahkan rahmat dan keberkahanNya kepada seluruh umat Islam dan umat manusia sehingga dunia ini aman sentausa, umat Islam di manapun berada diberi pemimpin yang adil dan mampu membawa rakyatnya kepada kedamaian dan kemakmuran, aamiin ya rabbal aalamiin. (A/P2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)