Sang Mutiara Itu – 6 (Oleh: Shamsi Ali*)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam terpuji dalam segala aspek kehidupannya. Aspek fisik beliau begitu digambarkan dengan segala keindahannya. Dari postur tubuh, bentuk hidung, bahu, mata, hingga digambarkan tubuh beliau yang atletis. Menggambarkan betapa beliau adalah seorang insan, seorang makhluk Allah yang begitu sempurna.

Secara fisik beliau selalu sehat. Diriwayatkan beliau hanya sekali memgalami sakit dalam hidupnya. Dan itulah yang mengantarkannya menuju kembali ke sisi Rabbnya. Selain sehat beliau juga disebutkan memiliki kekuatan fisik di atas rata-rata. Bahkan di saat berumur di atas 54 tahunan beliau mengalahkan seorang pegulat non Muslim di Madinah saat itu. Bisa dibayangkan di saat-saat beliau berumur 20-30-an tahun.

Ibadah-ibadah beliau sudah pasti mencapai kesempurnaan tertinggi. Secara syariat beliau memang menjadi rujukan semua ubbad (para ahli ibadah). Maka sudah pasti semua yang beliau lakukan dalam hal ubudiyah sempurna sesuai yang dikehendaki Rabbul ‘Alamin.

Secara hakikah (batin) beliau memiliki kesempurnaan ibadah tertinggi. Disebutkan oleh isteri beliau bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam biasa bermain dan bersenda gurau dengan istri-istrinya. Namun dalam keadaan demikian dan tiba-tiba azan dikumandangkan, beliau menjadi fokus (khusyu’) kepada Rabbnya. Seolah terputus secara totalitas dari realita dunianya.

Kesempurnaan dalam tatatan hati dan kejiwaan demikian halnya. Kesempurnaan iman dan tatanan kejiwaan terpancar dalam sikap hidup solid dalam kestabilannya. Hidup yang kokoh, tak pernah goyah, resah, ketakutan, apalagi frustrasi.

Tapi kesempurnaan beliau dalam semua itu justru tidak mendapat pujian secara khusus dalam Al-Quran. Bukan fisiknya. Bukan pula Ibadahnya. Tapi yang dipuji oleh Allah dalam Al-Quran adalah akhlak beliau yang begitu agung.

Pujian Ilahi itu menyebutkan: “Dan sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) memiliki karakter yang agung”.

Jika dibaca ulang sejarah baginda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam akan kita dapati bahwa catatan-catatan pujian itu sedari kecil memang ada pada sisi ini. Salah satu di antaranya adalah beliau begitu dikagumi sebagai orang yang dipercaya oleh orang-orang di sekitarnya. Kekaguman ini yang melahirkan gelar indah sejak kecilnya dengan “Al-Amiin”.

Kemuliaan akhlak Rasul ini sesungguhnya yang menjadi Sentra ajarannya. Beliau menegaskan itu dalam sabdanya: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak manusia”.

Dari masa ke masa kemuliaan akhlak (perilaku atau karakter) beliau inilah yang menjadikan manusia terkagum-kagum seolah melihat keindahan ajaran Allah di hadapan mata mereka.

Dengan melihat akhlak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam manusia di sekelilingnya seolah menyaksikan Al-Quran berjalan (Quraanan yamsyii). Karena memang karakter kemanusiaan (akhlak) beliau adalah perwujudan dari nilai-nilai tuntunan samawi (Al-Quran) itu sendiri.

Aisyah menegaskan hal itu: “Akhlak beliau adalah Al-Quran”.

Akhlak Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mencakup seluruh aspeknya. Sebab pada beliau memang ada ketauladanan yang sempurna itu. Al-Quran memberikan kesaksiannya: “Sungguh untuk kamu pada diri Rasulullah ketauladanan yang baik”.

Ketauladanan beliau dalam bentuk perilaku dan akhlak ini pulalah yang sesungguhnya menggoncang jiwa-jiwa manusia dan seluruh penjuru dunia. Tak terbilang mereka yang benci kepada beliau jatuh tersungkur di hadapan kebenaran Ilahi karena akhlak beliau.

Saya tidak lagi akan mengulangi kisah-kisah keindahan akhlak, keindahan karakter dan perilaku kemanusiaan beliau. Begitu banyak yang dicatat oleh riwayat-riwayat jujur dalam sirahnya. Baik ketika beliau di Mekah, dari masa kecil sekalipun, remaja dan pemuda, hingga setelah diangkat menjadi Rasul.

Selama kurang lebih 53 tahun beliau hidup di kota Mekah, orang membencinya bukan karena perangainya yang buruk. Bukan karena ada prilaku atau sikap yang kurang berkenan di hati manusia. Tapi karena ego dan keangkuhan manusia terhadap kebenaran yang dibawa bersamanya.

Setelah itu beliau kemudian ditakdirkan oleh Allah untuk pindah (hijrah) ke Madinah untuk pengembangan dakwah publik dan global beliau. Sekitar 10 tahunan lebih beliau mengkampanyekan kebenaran Ilahi kepada seluruh umat manusia. Kampanye kebenaran terutama beliau ada pada demonstrasi akhlak mulia yang mengagumkan mata-mata yang menyaksikannya.

Terlalu banyak kisah yang indah nan menakjubkan yang tergoreskan oleh tinta pena sejarawan tentang perilaku dan karakter baginda Rasul. Tapi sekali lagi saya tidak lagi akan menuliskan berbagai kisah yang mempesona itu.

Yang pasti bahwa ketauladanan karakter dan kepribadian yang agung itu terwarisi oleh para sahabat beliau. Merekalah yang kemudian bertebaran ke seluruh penjuru dunia untuk menyampaikan kebenaran ajaran itu.

Dan pada galibnya justeru mereka menyampaikan kebenaran bukan dengan konsep dan ceramah. Justru dengan karakter perilaku kemanusiaannya. Dengan demonstrasi keindahan akhlak yang diwarisi dari baginda seperti inilah misalnya yang menjadikan Indonesia saat ini menjadi negara Muslim terbesar dunia.

Sejarah menyampaikan bahwa Islam tiba di bumi Nusantara melalui para saudagar Yaman dan Gujarat para tahun-tahun selanjutnya. Mereka tidak menceramahkan agama ini. Mereka tidak menyampaikan konsep ajaran melalui mimbar-mimbar megah. Tapi melalui akhlakul karimah mereka dalam menjalani kehidupan riil di tengah-tengah masyarakat.

Akhirnya, sebagai seorang Muslim yang hidup di tengah-tengah non Muslim, di negara adidaya Amerika, saya berani bersaksi bahwa tiada metode dakwah apapun yang paling efektif dalam upaya mengenalkan Islam kepada masyarakat di sekitar kita lebih dari prilaku dan karakter kemanusiaan mulia (akhlak) kita.

Ketika Islam disampaikan dalam bentuk konsep dan teori, lalu menemukan kenyataan paradoks dalam kenyataan hidup, maka boleh jadi justru kebenaran itu tersembunyikan. Seperti yang pernah digambarkan oleh seorang ulama Mesir, Muhammad Abduh: “hampir saja Islam itu tersembunyi oleh perilaku (buruk) orang-orang Islam sendiri”.

Dan karenanya saya di mana-mana selalu mengingatkan bahwa “Sunnah” yang terpenting dalam dunia di mana Islam begitu salah dipahami (deeply misunderstood) adalah dengan menampilkan Islam yang hidup. Islam yang nyata dan dapat ditonton oleh manusia di sekeliling kita.

Dan Islam yang hidup itulah, sebagaimana juga dengan penggambaran Al-Quran yang berjalan, yang dimaksud dengan akhlakul karimah. Karena sejatinya memang jika ajaran Islam itu diperas, santannya atau intisarinya adalah perilaku dan akhlak manusia.

Tidaklah mengejutkan begitu banyak hadits-hadits yang kemudian menjamin surga bagi yang memiliki akhlak mulia. Satu diantaranya misalnya “barangsiapa yang bisa menjaga lisannya maka kujamin baginya surga”.

Bahkan hadits lain menegaskan: “faktor terbanyak yang menjadikan seseorang masuk surga adalah akhlak mulia. Dan faktor terbesar yang menjadikan banyak manusia masuk neraka adalah perilaku yang buruk”.

Bahkan dikisahkan bahwa ada manusia yang celaka dan bangkrut dari segala amal kebaikan di akhirat nanti karena perilakunya yang buruk. Dalam sebuah hadits yang dikenal dengan “haditsul muflis” diceritakan bagaimana seseorang yang ahli ibadah terpaksa masuk neraka karena telah banyak menzholimi sesama manusia selama hidupnya.

Semoga Allah menjaga kita. Aamiin!

(Bersambung)……

* Presiden Nusantara Foundation/Pendiri pesantren Nur Inka Nusantara Madani US.

(AK/Ais/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)