Riyadh, MINA — Pemerintah Arab Saudi menjadwalkan pemantauan hilal Ramadhan 1447 Hijriah pada Selasa (17/2) bertepatan dengan 29 Sya’ban 1447 H. Hasil rukyatul hilal tersebut akan menjadi penentu awal puasa Ramadhan di Kerajaan.
Melansir theislamicinformation, keputusan resmi akan ditetapkan oleh Komite Pemantau Hilal Mahkamah Agung Arab Saudi setelah menggelar sidang pada malam itu, demikian keterangan HIMPUH (Himpunan Penyelenggara Umrah dan Haji), Jumat (13/2).
Jika hilal terlihat setelah matahari terbenam pada 17 Februari, maka 1 Ramadhan 1447 H ditetapkan jatuh pada Rabu (18/2), dan umat Islam mulai berpuasa sejak fajar hari tersebut. Namun, apabila hilal tidak berhasil dirukyat, maka bulan Sya’ban akan digenapkan menjadi 30 hari sehingga awal Ramadhan dimulai pada Kamis (19/2).
Pemerintah Saudi menegaskan bahwa penetapan awal Ramadhan didasarkan pada rukyatul hilal secara syar’i. Mekanisme ini dilakukan oleh para pengamat resmi yang telah terakreditasi di berbagai wilayah Kerajaan.
Baca Juga: Imam Saudi Safari Ramadhan di Bangladesh, Tekankan Pentingnya Tauhid
Dalam pernyataannya, otoritas setempat menyebutkan, “Penetapan awal bulan Hijriah dilakukan berdasarkan rukyatul hilal yang sah secara syariat, dengan dukungan data astronomi sebagai pendukung ilmiah.”
Perhitungan astronomi digunakan untuk membantu memprediksi posisi hilal, namun tidak menggantikan pengamatan visual. Dengan demikian, hasil rukyat tetap menjadi penentu utama meskipun data astronomi telah tersedia sebelumnya.
Sementara itu, Observatorium Astronomi Universitas Al-Majma’ah di Hautah Sudair memaparkan kondisi ilmiah pengamatan hilal pada Selasa (17/2). Berdasarkan perhitungan astronomi presisi dan Kalender Ummul Qura, ijtima’ diperkirakan terjadi pada pukul 15.03 waktu Riyadh.
Untuk wilayah Makkah, matahari diperkirakan terbenam pada pukul 18.19, sedangkan hilal terbenam pada pukul 18.23. Artinya, hilal hanya berada di ufuk selama sekitar empat menit setelah matahari terbenam.
Baca Juga: 195 WNI Tertahan di Doha Akibat Perang AS-Iran
Adapun di lokasi utama pengamatan Observatorium Universitas Al-Majma’ah, matahari diperkirakan terbenam pada pukul 17.52 dan hilal terbenam pada pukul 17.54. Selisih waktu yang sangat singkat tersebut, yakni sekitar dua menit, dengan ketinggian hilal sekitar 0,5 derajat dan elongasi 1,61 derajat dari matahari, menunjukkan peluang rukyat yang cukup menantang.
Pihak observatorium menyatakan kondisi tersebut menuntut ketelitian tinggi, dukungan peralatan optik yang memadai, serta cuaca yang ideal agar hilal dapat teramati.
Meski peluangnya terbatas, pengamatan tetap dilaksanakan sebagai bagian dari prosedur resmi penetapan awal bulan Hijriah di Arab Saudi. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Warga Iran Turun ke Jalan Berduka atas Meninggalnya Khamenei
















Mina Indonesia
Mina Arabic