SBY: BUKAN HANYA PEMERINTAHAN YANG BAIK, TAPI JUGA CERDAS

Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang YudhoyonoPresiden SBY menyampaikan pidato pada Forum Indonesia`s Reducing Emission form Deforestration and Degradation (REDD+) di Markas PBB, New York, AS
Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan pidato pada Forum Indonesia`s Reducing Emission form Deforestration and Degradation (REDD+) di Markas PBB, New York, AS (Foto:Presidenri.go.id)

New York, Amerika Serikat, 1 Dzulhijjah 1435/25 September 2014 (MINA) – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, bukan hanya pemerintahan yang baik diperlukan untuk mencapai tujuan pembangunan milenium atau The Eight Millennium Development Goals (MDG’s), tapi juga harus pemerintah yang cerdas, karena peran pemerintah sangat penting.

Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan hal tersebut dalam pidatonya pada sesi debat umum Sidang ke-69 Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), di Markas PBB, New York, Amerika Serikat, Rabu (24/9) siang waktu setempat atau Kamis (25/9) dini hari di Indonesia.

“Banyak negara dengan tingkat pembangunan rendah, sumber daya terbatas, dan dilanda konflik serta peperangan bisa mencapai target MDG’s. Syaratnya, mereka menerapkan kebijakan yang tepat, melakukan investasi yang cerdas untuk manusia, sumber daya, dan membangun institusi yang kuat,” kata Presiden SBY, seperti dilaporkan laman resmi Presiden yang dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

SBY mengatakan, pemerintahan yang cerdas, biasanya melibatkan kepemimpinan yang inovatif dan partisipasi aktif masyarakat. Tanpa setidaknya dua elemen tersebut, semua kerja keras tidak akan mendapatkan hasil diinginkan.

“Di Indonesia, di luar imajinasi terliar kami, kami telah berhasil meningkatkan pendapatan nasional per kapita sebesar 400 persen dalam hanya satu dekade singkat,” kata Presiden.

Sidang ke-69 Majleis Umum PBB dibuka oleh Sekjen PBB, Ban Ki-moon. Presiden Brasil, Dilma Roussef dan Presiden AS, Barack Obama mengawali sesi debat umum. Presiden SBY menyampaikan pidatonya pada urutan ke-14, setelah Presiden Finlandia Sauli Niinisto dan sebelum Presiden Argentina, Cristina Fernández de Kirchner.

SBY juga mengatakan, perlunya belajar dari pengalaman 15 tahun MDG’s dan kemitraan yang lebih kuat, namun hal itu tidak bisa terjadi di tingkat Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Protokol Kyoto, reformasi arsitektur keuangan global, dan mereformasi PBB.

“Semuanya berjalan lambat”, kata SBY yang akan mengakhiri masa jabatan presiden keduanya pada 20 Oktober mendatang, kurang dari sebulan lagi.

“Saya percaya, kita akan bisa mencapai MDG’s jauh lebih baik jika kita dapat meningkatkan kerja sama yang lebih komprehensif. Kita memiliki alat, sumber daya, pengalaman, dan infrastruktur untuk memanfaatkan kerja sama internasional tersebut. Yang kita butuhkan adalah kemauan politik,” kata Presiden SBY.

Sebagai awal pembangunan global yang baru, Presiden SBY mengajak agar semua fihak mengambil pelajaran dari masa lalu, agar tidak jatuh dalam janji dan perangkap pembangunan.

“Kami tidak ingin kemajuan pembangunan diukur berdasarkan jumlah aturan yang dibuat, yang akhirnya tidak manusiawi dan meminggirkan warga kami,” ujarnya.

“Negara-negara berkembang menginginkan pembangunan yang adil, pemberdayaan rakyat, mobilitas sosial-ekonomi, dan memperluas kesempatan tanpa diskriminasi. Kami ingin pembangunan itu merupakan jaminan kebebasan, martabat manusia, dan menyediakan kualitas hidup yang baik. Kami ingin pembangunan berkelanjutan yang melindungi dan memelihara lingkungan untuk generasi mendatang,” kata SBY menegaskan. (T/P010/P2)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Comments: 0