Sebanyak 2.271 Kejadian Bencana Selama 2017

Data dan informasi dari BNPB

Jakarta, MINA – Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menyatakan, terjadi sebanyak 2.271 bencana selama tahun 2017.

“Tahun 2017 terdapat 2.271 kejadian bencana yang menyebabkan 372 orang tewas, 3,45 juta mengungsi dan menderita, 44.539 unit rumah rusak (9.935 rusak berat, 9.894 rusak sedang, 24.710 rusak ringan-red), 1.999 unit fasilitas umum rusak,” katanya saat taklimat media ‘Evaluasi Bencana 2017 dan Prediksi Bencana 2018’ di Graha BNPB, Jakarta Timur, Kamis (21/20).

Menurutnya, lebih dari 93 persen merupakan bencana hidrometeorologi yaitu puting beliung, longsor dan banjir yang paling dominan.

“Banjir adalah bencana yang paling banyak kejadiannya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, selama 2017 terjadi 762 kejadian banjir yang menyebabkan 131 jiwa meninggal dunia, 91 jiwa luka, 2,26 juta jiwa mengungsi dan menderita, serta 3.197 rumah rusak. Namun, longsor adalah bencana paling mematikan.

“Longsor adalah bencana yang paling mematikan selama 2017. Jenis bencana ini menyebabkan 156 jiwa meninggal dunia,” jelasnya.

Lebih lanjut ia mengemukakan, sejak tahun 2014-2016 longsor adalah bencana yang paling banyak menimbulkan korban jiwa meninggal dunia. Kerentanan yang tinggi menyebabkan longsor menjadi bencana yang paling banyak menimbulkan korban jiwa. Terdapat 40,9 juta jiwa masyarakat yang terpapar bahaya sedang-tinggi dari longsor.

Selain itu, puting beliung juga makin meningkat dan meluas, baik frekuensi, magnitude dan intensitasnya. Daerah-daerah di Indonesia makin terancam puting beliung.

“Ini disebabkan pengaruh perubahan iklim lokal dan global, perubahan penggunaan lahan dan kerusakan lingkungan,” paparnya.

Ia menambahkan, beberapa bencana yang menimbulkan korban jiwa terjadi di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Bali. Konsentrasi bencana tetap di Jawa karena terkait dengan besarnya jumlah penduduk di Jawa yang mencapai sekitar 155 juta jiwa dari 261 juta jiwa. Daya dukung dan daya tampung dibandingkan dengan bencana tahun 2016.

“Bencana berlangsung dari Januari hingga Desember, artinya kejadian bencana terjadi hampir sepanjang tahun. Itu lah tidak aneh Indonesia dikenal dengan Laboratorium bencana, bukan super market bencana,” tambahnya.

Sebaran kejadian per provinsi teradapat lima daerah penyumbang bencana terbanyak adalah Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Aceh, dan Kalimatan Selatan yang sebagian besar bencana berulang adalah banjir.

Begitu juga dari sebaran kejadian bencana per kabupaten/kota tedapat lima daerah yang paling sering terjadi bencana adalah Kab. Bogor, Cilacap, Ponorogo, Temanggung dan Banyumas. (L/R10/RI-1)

Mi’raj News Agency (MINA)