Sejak Dulu Indonesia Sudah Selesaikan Konflik karena Suku, Bahasa, dan Agama

Bandar, Lampung, MINA – Sejak dulu Indonesia sudah menyelesaikan konflik yang disebabkan karena isu suku, bahasa, dan agama.

Pandangan itu disampaikan oleh Wakil Ketua MPR RI H. Ahmad Muzani pada Kuliah Umum Sekolah Tinggi Shuffah Al-Qur’an Abdullah bin Mas’ud (SQABM) di gedung Pusiban, Komplek Kantor Gubernur Lampung, Selasa (17/9).

“Jangan dikira bahwa bahasa, agama, dan suku tidak menjadi sumber pertikaian. Seperti halnya negara Brussels Ibu Kota Uni Eropa, yang sekarang telah terbagi menjadi dua kelompok besar, yaitu Belanda dan Perancis itu karena penduduknya berbeda, sebagian dari Belanda, sebagian lagi dari Perancis,” jelasnya.

Tak hanya Uni Eropa, Yugoslavia pecah menjadi tujuh negara karena perbedaan suku dan agama. Bosnia juga kemudian memisahkan diri dari Yugoslavia karena beda agama dan suku. Begitu juga Uni Soviet yang komunis.

“Maka begitulah jadinya kalau ikatan ideologinya tidak kuat, Uni Soviet berideologi komunis, sehingga terjadi pecahnya suatu negara,” ujarnya.

Contoh lain yaitu India yang terbagi menjadi India Utara dan India Selatan. Di selatan india sukunya Tamil, warna kulitnya berbeda, begitu juga bahasanya.

“Maka kita negara Indonesia merupakan Negara yang sudah sukses dalam menyatukan bahasa, suku, dan agama,” katanya.

Indonesia Mayoritas penduduknya Jawa, tapi tetap menjadikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, yang diambil dari bahasa Melayu, padahal Melayu hanya sekitar 5 persen saja.

“Keluarga di Lampung saja saat ini di desa-desa sudah banyak yang tidak menggunakan bahasa Lampung ke anak-anaknya, ini menunjukkan mereka bangga dengan menjadikan bahasa Indonesia menjadi bahasa nasional, bahasa persatuan,” katanya.

Selain itu dalam catatan sejarah Piagam Jakarta,  Indonesia mayoritas Muslimnya tidak memaksakan menerapkan UU sesuai syariat Islam.

“Karena agama Islam merupakan rahmat bagi seluruh alam, di dalamnya tidak terdapat paksaan dalam menganutnya,” jelasnya.

Jadi, tegas Muzani, Indonesia sudah final dengan penyebab pertikaian antar sesama dengan penyebab suku, bahasa, agama.

Muzani menutup kuliah umumnya dengan imbauan kepada mahasiswa untuk mempelajari Al-Quran secara komprehensif (mendalam).

“Kearifan memahami Al-Quran, memahami nash, termasuk mengaplikasikannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” pesannya. (L/hbb/B01/RI-1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)