Sejarah Kedokteran Islam (Oleh: Imaam Yakhsyallah Mansur)

Dalam buku berjudul “Sains dan Peradaban di Dalam Islam” yang ditulis oleh Seyyed Hossein Nasr memberi definisi “Kedokteran” adalah satu cabang ilmu yang menangani keadaan kesehatan dan penyakit pada tubuh manusia, dengan menggunakan cara-cara yang sesuai untuk menjaga atau memulihkan kesehatan-kesehatan.

Sejak zaman Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, kedokteran merupakan ilmu yang cukup populer dan paling dikembangkan. Berbagai perkembangan dalam ilmu kedokteran pastinya tak lepas dari kontribusi para ilmuwan Muslim pada zaman dahulu. Berbagai penemuan atau karya para cendekiawan Muslim di bidang kedokteran tersebut hingga saat ini masih berguna bagi masyarakat luas.

Tidak sedikit ahli kedokteran Muslim yang muncul sejak masa nabi hingga masa dunia Islam mengemuka, yang ditandai dengan sosok Ibnu Sina. Berdasar catatan yang dibuat oleh Fuat Sezgin maupun Ibnu Abi ‘Ushaibi’ah, terdapat nama-nama dokter yang diulas oleh keduanya.

Ibnu Abi Ushaibi’ah dalam “Uyun al-Anba’ fi Thabaqat al-Anba” mengatakan, Abu Rimtsah merupakan seorang dokter yang hidup pada masa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam. Ia memiliki keahlian di bidang bedah. Sementara menurut Fuat Sezgin dalam Tarikh Turats Al-Araby vol III tentang ilmu kedokteran, ia menegaskan Abu Rimtsah adalah dokter Muslim pertama. Ia mengatakan:

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa di masa Nabi hidup cukup banyak orang-orang yang kerap disebut tabib. Sedangkan tabib Muslim pertama yang terkenal adalah Abu Rimtsah. Ia adalah salah satu sahabat Nabi. Setelah Nabi wafat, ia pindah ke Mesir, lalu ke Afrika Utara dan wafat di sana.”

Terjadi perbedaan penulisan nama mengenai tokoh ini. Ibn Abi Ushaibi’ah menulisnya dengan Ibn Abi Rimtsah, sementara Fuat Sezgin menamakannya Abu Rimtsah. Tanpa “Ibn”, (bermakna anak dari). Untuk itu, jika merujuk pada Ibn Abi Ushaibi’ah maka ada implikasi bahwa sang dokter Islam terawal ini adalah ibnu (putera) dari Abu Rimtsah.

Jika berpegang pada pendapat Fuat Sezgin, maka Abu Rimtsah yang dimaksud di sini adalah juga seorang periwayat hadis. Imam Ahmad bin Hanbal dalam Al-Musnadnya meriwayatkan sejumlah hadis yang bersumber darinya. Pendapat Sezgin ini juga didukung oleh Ahmad Muhammad Syakir, pensyarah kitab Al-Musnad, ia mengatakan:

Banyak terjadi perbedaan pendapat mengenai nama Abu Rimtsah ini. Menurutku, pendapat yang tepat adalah apa yang diamini oleh Imam Ahmad ini sebagaimana dalam kitab Musnad-nya. Abu Rimtsah, salah seorang sahabat Nabi yang terkenal dengan nama kuniah-nya (sebuah nama yang dinisbatkan kepada nama ayah atau puteranya) ini. Nama asli Abu Rimtsah menurut Abdullah bin Ahmad adalah Rifa’ah bin Yatsribi.” Nama ini diyakini juga oleh Imam Al-Bukhari dalam “Tarikh al-Kabir”-nya.

Di samping itu, wanita Islampun hadir sebagai dokter atau perawat memberlakukan sama antara wanita dan pria terutama di medan perang. Sejak di masa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam. Namun permasalahannya ketat diberlakukan antara wanita dan pria, atau tidak ada kontak dengan lawan jenis yang dirawat keluarga mereka.

Berikut ini adalah perawat atau dokter wanita yang hidup di masa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam.

1. Rufayda binti Sa’ad Al Aslamy  (570 M – 632 M)

Rufayda binti Sa’ad juga dikenal sebagai Rufayda Al-Aslamiyyah, dianggap sebagai perawat pertama dalam sejarah Islam, hidup pada masa Nabi Muhammad Shalallahu Alahi Wassalam. Dia merawat yang terluka dan sekarat dalam perang bersama Nabi Muhammad Shalallahu Alahi Wassalam pada pertempuran Perang Badar (13 Maret 624 H).

Rufayda belajar sebagian besar pengetahuan medisnya dengan membantu ayahnya, Saad Al Aslamy, yang adalah seorang dokter.

Di samping sebagai perawat yang baik, Rufaydah bekerja sebagai pekerja sosial, membantu menyelesaikan masalah sosial yang terkait dengan penyakit. Selain itu, dia juga membantu anak yatim, disabilitas dan orang miskin.

2. Syifa bin Abdullah

Syifa bin Abdullah  merupakan salah satu shahabiyah yang pandai membaca di tengah banyaknya wanita yang masih buta huruf. Karena kepandainya dia dilibatkan dalam kegiatan administrasi publik dan dunia kedokteran.

Nama aslinya adalah Laila, “syifa” sendiri berarti penyembuhan, karena profesinya sebagai perawat. Salah satu metodenya yang terkenal adalah pencegahan terhadap gigitan semut.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam menyetujui metodenya dan memilih dia untuk melatih wanita Muslimah yang lainya.

3. Nusayba binti Harits Al-Ansari

Nusayba binti Harits Al-Ansari, juga disebut Ummu Atia, merawat korban di medan perang dan memberi mereka air, makanan dan pertolongan pertama. Selain itu, dia juga bisa melakukan khitan (sunat).

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam Muslim dan Ibnu Majah dari Ummu Atia Radiyallahu Anha dia berkata,”Aku pernah keluar berjihad bersama Rasulullahu Shalallahu Alahi Wassalam sebanyak tujuh peperangan. Aku menunggu kemah-kemah, memasak makanan, mengobati yang luka dan dan membantu orang-orang tua yang sudah tidak berdaya.”

Diriwayatkan dalam beberapa hadits ketika Zainab putri Rasulullah Shalallahu Alahi Wassalam wafat, dia dipercaya untuk memandikan putri Beliau tersebut.

Masa Keemasan Kedokteran Islam

Seorang panglima pasukan Islam Al-Ahnaf bin Qais, seorang yang hidup selama masa yang hidup selama masa Nabi Muhammad Shallahu Alaihi Wasallam,  menekankan bahwa pengetahuan medis adalah salah satu dari tiga bidang penting yang harus dilakukan umat Islam. Al-Ahnaf ,”Tidak ada seorang berpengetahuan bisa mengabaikan tiga jenis pengetahuan, yakni pengetahuan untuk mempersiapkan dia di akhirat, pengetahuan untuk membantu hidupnya di dunia ini dan pengetahuan medis untuk melibatkanya mengobati penyakit.

Sementara Asy-Syafii berkata, “ Ilmu ada dua jenis: Ilmu Al-Adiyan (ilmu agama) yaitu fikih dan imu Al-Abdan (ilmu bedah) yaitu kedokteran .

Masa Keemasan Islam terentang antara abad ke-8 hingga 15, menunjukkan banyak kemajuan di bidang ilmu pengetahuan. Para ilmuwan Islam mengumpulkan berbagai macam sumber pengetahuan dari seluruh dunia dan menambahkan penemuan mereka adalah salah satu faktornya. Salah satu bidang penting adalah kedokteran Islam, yang metode pengobatannya mendekati kedokteran modern yang kini kita miliki. Jelas, selama periode ini mereka jauh lebih maju daripada Eropa yang masih berkubang dalam Abad Kegelapan.

Inti dari kedokteran Islam adalah kepercayaan terhadap Quran dan Hadist, yang menyatakan bahwa para Muslim memiliki tugas untuk merawat yang sakit dan ini biasa disebut sebagai “Pengobatan Rasul”. Menurut Hadist Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassallam, beliau percaya bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menetapkan obat bagi setiap penyakit. Tugas seorang Muslim untuk menjaga kesehatan jasmani dan rohani. Ini berarti meningkatkan kualitas dan fasilitas kesehatan dan memberikan aksesnya kepada siapa saja.

Pada awalnya, banyak perdebatan mengenai boleh tidaknya para dokter Muslim menggunakan teknik pengobatan dari Yunani, China, dan India, yang dipandang orang banyak sebagai praktek paganisme. Setelah perdebatan sengit, para dokter Muslim akhirnya diberikan kebebasan untuk mempelajari dan mengadopsi teknik-teknik yang diperlukan.

Pengobatan Islam, Rumah Sakit, dan Kualifikasi

Kontribusi besar Islam dalam sejarah dunia kedokteran adalah pendirian rumah sakit yang dibiayai oleh uang zakat. Ada bukti-bukti bahwa rumah sakit ini berdiri pada abad ke-8 dan dengan segera menyebar ke seluruh dunia Islam.

Rumah sakit itu tidak hanya merawat mereka yang membutuhkan, namun juga mengirim para dokter dan bidan ke daerah-daerah yang miskin dan padat penduduk, serta memberikan tempat bagi para dokter dan staff rumah sakit untuk melakukan penelitian dan eksperimen. Tiap rumah sakit memiliki spesialisasinya sendiri, seperti rumah sakit khusus lepra, orang cacat, dan mereka yang renta (lanjut usia).

Sistem pendidikan dokter tersusun dengan sangat baik, biasanya menggunakan sistem tutoring sebagai basis. Dan dengan banyaknya dokter spesialis terkenal di berbagai daerah membuat perjalanan para murid dari satu kota ke kota lain tidak sia-sia karena mereka belajar dari yang terbaik. Para dokter Islam sangat cermat dengan catatan mereka, sebagian karena catatan mereka akan digunakan untuk menyebarkan ilmu, namun juga dijadikan barang bukti kalau-kalau mereka dituduh melakukan malpraktek.

Para Dokter Muslim dan Penemuan Mereka

Sejak zaman Rasulullah Shalallahu Alahi Wassalam,  ilmu kedokteran merupakan ilmu yang cukup populer dan paling dikembangkan. Berbagai perkembangan dalam ilmu kedokteran pastinya tak lepas dari kontribusi para ilmuwan muslim pada zaman dahulu. Berbagai penemuan atau karya para cendekiawan muslim tersebut hingga saat ini masih berguna bagi masyarakat luas.

Banyak dokter Islam menghasilkan penemuan luar biasa pada segala bidang kedokteran selama Masa Keemasan Islam, dengan berdasar pada pengetahuan dari dokter Yunani, termasuk Galenus, lantas ditambah dengan penemuan mereka sendiri.

Terdapat beberapa tokoh ilmuwan Muslim di bidang kedokteran yang karyanya masih bisa dirasakan oleh masyarakat luas hingga saat ini. Berikut 5 ilmuwan Muslim yang paling berpengaruh karyanya di bidang kedokteran.

1. Bapak Kedokteran Islam: Muhammad ibn Zakariya Ar-Razi (865 M – 925 M)

Muhammad ibn Zakariya Ar-Razi dikenal di Eropa dengan nama Rhazes (850- 923 M), adalah peneliti Islam terdepan dalam bidang kedokteran. Seorang penulis produktif yang menghasilkan lebih dari 200 buku tentang kedokteran dan filosofi, termasuk sebuah buku kedokteran yang belum selesai, yang mengumpulkan seluruh ilmu kedokteran dalam dunia Islam ke dalam satu buku. Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan menjadi salah satu tulang punggung sejarah kedokteran Barat.

Ar-Razi juga terkenal akan hasil kerjanya dalam memperbaiki metode ilmiah dan mempromosikan eksperimen dan observasi. Aksi beliau yang paling terkenal adalah penentuan lokasi rumah sakit di Baghdad. Ketika Ar-Razi ditanya di manakah beliau akan membangun rumah sakit di Baghdad, beliau menggantung sejumlah daging di sekeliling Baghdad, dan memilih tempat di mana dagingnya paling tidak busuk. Beliau menyimpulkan bahwa para pasien akan memiliki lebih sedikit resiko terkena sejumlah penyakit dan pencemaran di tempat tersebut. Beliau menjabat sebagai direktur rumah sakit tersebut hampir sepanjang karirnya dan melakukan sebagian besar penelitian yang memajukan dunia kedokteran Islam.

Ar-Razi menulis secara ekstensif pada pentingnya hubugan antara pasien dan dokter, percaya bahwa dokter dan pasien harus membentuk hubungan yang berdasar pada kepercayaan. Jika tugas dokter adalah membantu pasien, maka tugas pasien adalah mengikuti petunjuk dokter. Seperti Galenus, beliau percaya bahwa pendekatan holistik dalam pengobatan adalah hal yang penting, dengan mempertimbangkan background pasien dan penyakit yang diderita oleh keluarga dekat sebagai bagian dari pengobatan modern.

Pencapaian beliau lainnya yang luar biasa adalah pengertiannya akan sifat sebuah penyakit, yang sebelumnya hanya melibatkan gejala, namun Ar-Razi membuat sebuah terobosan dengan melihat faktor apa saja yang menyebabkan gejala-gejala tersebut. Pada kasus cacar dan campak  beliau menyalahkan darah, dan karena saat itu mikroba belum ditemukan, maka ini adalah pernyataan yang masuk akal.

Ar-Razi menulis secara ekstensif mengenai fisiologi manusia dan memahami bagaimana otak dan sistem syaraf mengoperasikan otot. Sayangnya, Muslim di masa tersebut dilarang melakukan pembedahan sehingga mencegah Rhazes menyempurnakan studinya di area ini.

2. Ibnu Sina (370 M – 427 M)

Bagi pegiat dunia kedokteran, sudah tak asing lagi dengan sosok Ibnu Sina. Di dunia Barat, Ibnu Sina dikenal dengan sebutan Avicenna. Ia merupakan seorang filusuf sekaligus dokter. Dia lahir di Persia atau sekarang lebih dikenal dengan Iran.

Dia berhasil menciptakan setidaknya 450 buku dan kebanyakan bukunya berkaitan dengan ilmu kedokteran. Beberapa karyanya yang terkenal adalah Kitab Penyembuhan dan Qanun Kedokteran yang kebanyakan buah pikiran dari buku tersebut masih dipakai oleh banyak orang, khususnya di dunia kedokteran. Dia juga gemar menulis puisi dengan karyanya yang paling populer ialah “Al-Urjuzah fi Ath-Thibb” dan “Al-Qasidah Al-Muzdawiyyah”.

3. Abul Qasim Az-Zahrawi (936 M – 1013 M)

Abul Qasim az-Zahrawi merupakan seorang pakar di bidang kedokteran pada masa Islam abad pertengahan. Dia mempunyai beberapa sebutan lain seperti Abulcasis dan “Bapak Operasi Modern”. Karyanya yang paling terkenal ialah “Al-Tasrif”  yang merupakan kumpulan praktik kedokteran yang terdiri atas 30 jilid.

Al-Tasrif berisi berbagai topik mengenai kedokteran, termasuk buah pemikirannya mengenai gigi dan kelahiran anak. Buku ini berhasil diterjemahkan ke bahasa Latin pada abad ke-12 dan menjadi sumber utama bagi keilmuan bidang kedokteran di Benua Eropa sana.

4. Ibnu Al-Nafis (1213 M – 1288 M)

Ibnu Al-Nafis berhasil mendeskripsikan peredaran darah dalam tubuh manusia secara tepat dan akurat pada tahun 1242 M.

Dia juga merupakan orang pertama yang diketahui telah mendokumentasikan sirkuit paru-paru di dalam tubuh manusia. Alhasil, dia berhasil menerangkan secara akurat mengenai paru-paru beserta gambaran tentang saluran pernapasan dan juga interaksi antara saluran udara dengan darah di tubuh manusia. Dia merupakan orang pertama yang berhasil melakukan hal tersebut dan pengetahuannya tersebut sangat bermanfaat bagi perkembangan dunia kedokteran di masa sekarang.

5. Abu Zaid Al-Balkhi (850 M 934 M)

Abu Zaid Al-Balkhi adalah orang yang pertama memperlakukan konsep kesehatan mental di dunia kedokteran Islam. Dalam bukunya yang berjudul “Masalih al-Abdan wa an-Anfus,” dirinya berhasil menghubungkan antara penyakit tubuh dan jiwa.

Al-Balkhi mengelompokkan penyakit saraf dalam beberapa gangguan kondisi mental atau kejiwaan, yaitu ketakutan dan kegelisahan, amarah, kesedihan dan depresi, serta obsesi atau gangguan pikiran. Al-Balkhi juga sering mengkritik dokter-dokter di zamannya karena hanya fokus pada penyakit fisik serta mengabaikan penyakit mental dan kejiwaan para pasiennya.

Inilah  5 tokoh ilmuwan muslim di bidang kedokteran yang karyanya masih sangat berguna hingga saat ini. Mereka berperan penting dalam beberapa cakupan keilmuwan kedokteran, mulai dari bedah saraf hingga kesehatan mental.

Wallahu ‘Alam Bissoab

(A/R8/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)