MASJID Al-Aqsa adalah salah satu situs suci dalam Islam yang terletak di Kota Tua Yerusalem (Baitul Maqdis). Dalam Al-Qur’an, Allah menyebutkannya dalam surah Al-Isra ayat 1 sebagai tempat dimulainya perjalanan Isra’ Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya…” (Qs. Al-Isra: 1). Ayat ini menegaskan keagungan Masjid Al-Aqsa dalam pandangan Islam sejak masa awal kenabian.
Secara harfiah, “Al-Aqsa” berarti “yang paling jauh”, merujuk pada jaraknya dari Masjidil Haram di Makkah. Nama ini juga menunjukkan statusnya sebagai tempat suci ketiga dalam Islam setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Masjid Al-Aqsa berada dalam kompleks yang dikenal sebagai Al-Haram Asy-Syarif, yang mencakup Dome of the Rock (Qubbah Ash-Shakhrah) dan berbagai struktur lain yang sakral bagi umat Islam.
Sebelum Allah memerintahkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat untuk menghadap ke Ka’bah sebagai kiblat, umat Islam shalat menghadap ke Baitul Maqdis. Ini berlangsung selama sekitar 16 atau 17 bulan setelah hijrah ke Madinah. Dalilnya terdapat dalam QS. Al-Baqarah ayat 142-144 yang menyebutkan perubahan arah kiblat dari Masjidil Aqsa ke Masjidil Haram.
Penetapan Al-Aqsa sebagai kiblat pertama menunjukkan kesinambungan risalah para nabi sebelumnya, karena para nabi Bani Israil juga menjadikan Baitul Maqdis sebagai pusat peribadatan. Hal ini menegaskan bahwa Islam bukan agama baru, tetapi melanjutkan misi tauhid yang telah dibawa oleh para nabi terdahulu seperti Musa dan Isa ‘alaihimassalam.
Baca Juga: Ayah sebagai Teladan: Menginspirasi Generasi Berikutnya
Ketika Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam masih di Makkah, beliau tetap menghadap ke Baitul Maqdis, namun beliau menyelaraskannya dengan Ka’bah sehingga posisi beliau berdiri di antara keduanya. Setelah hijrah ke Madinah, posisi Ka’bah dan Baitul Maqdis saling membelakangi, sehingga tidak mungkin lagi menghadap keduanya sekaligus, dan ini menjadi faktor dalam perubahan arah kiblat kemudian.
Allah menurunkan wahyu dalam Qs. Al-Baqarah ayat 144, “Maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah wajahmu ke arahnya.” Ini menjadi titik penting dalam sejarah Islam karena menunjukkan identitas khusus umat Islam, terlepas dari dominasi budaya Bani Israil sebelumnya dalam kiblat dan pusat peribadatan.
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah kalian mengadakan perjalanan (ibadah) kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram, Masjidku ini (Masjid Nabawi), dan Masjid Al-Aqsa.” (HR. Bukhari dan Muslim). Ini menunjukkan bahwa Al-Aqsa memiliki nilai ibadah tersendiri dan merupakan tempat suci yang sangat dianjurkan untuk dikunjungi dalam rangka ibadah.
Masjid Al-Aqsa juga merupakan tempat di mana Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam diangkat ke langit dalam peristiwa Mi’raj. Dari tempat ini beliau naik ke Sidratul Muntaha dan menerima perintah shalat lima waktu. Peristiwa ini menambah dimensi spiritual dan teologis Al-Aqsa dalam sejarah Islam.
Baca Juga: Peran Media dalam Mengungkap Konflik Palestina
Masjid Al-Aqsa merupakan tanah para nabi. Di sinilah banyak nabi diutus dan dimakamkan, termasuk Nabi Dawud, Sulaiman, dan Isa ‘alaihimassalam. Ini menjadi bukti bahwa Al-Aqsa bukan hanya milik satu umat, tetapi merupakan warisan kenabian yang berujung pada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai penutup para nabi.
Pada tahun 637 M, Khalifah Umar bin Khattab membebaskan Baitul Maqdis dari kekuasaan Bizantium. Umar menunjukkan toleransi luar biasa dengan memberi perlindungan kepada penduduk non-Muslim dan menjaga situs-situs keagamaan mereka. Beliau juga membangun masjid di dekat situs suci tersebut, yang menjadi cikal bakal Masjid Al-Aqsa modern.
Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa Syam (termasuk Palestina) adalah negeri yang diberkahi. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Akan tetap ada sekelompok dari umatku yang senantiasa berada di atas kebenaran… mereka berada di Baitul Maqdis dan sekitar Baitul Maqdis.” (HR. Ahmad). Ini menunjukkan pentingnya Al-Aqsa dalam perjuangan dan keteguhan iman umat Islam hingga akhir zaman.
Selama berabad-abad, Al-Aqsa mengalami banyak penaklukan, termasuk oleh pasukan salib pada 1099, yang kemudian direbut kembali oleh Shalahuddin Al-Ayyubi pada tahun 1187 M. Shalahuddin memperbarui dan membersihkan Masjid Al-Aqsa, mengembalikannya sebagai pusat ibadah dan keilmuan.
Baca Juga: Mempertahankan Kefitrahan Manusia
Sejak pendudukan Israel atas Yerusalem Timur tahun 1967, Masjid Al-Aqsa menjadi simbol perlawanan dan keteguhan umat Islam. Umat Islam di seluruh dunia terus memperjuangkan hak mereka atas situs suci ini. Meskipun dijajah, status spiritualnya tetap tak tergoyahkan.
Menjaga Masjid Al-Aqsa adalah amanah umat Islam. Ia bukan hanya simbol sejarah, tapi juga identitas keislaman. Umat Islam harus menyuarakan dan membela kehormatannya dengan cara yang syar’i, termasuk melalui doa, advokasi, pendidikan, dan solidaritas dengan penduduk Palestina yang menjadi penjaga Masjid Al-Aqsa.
Masjid Al-Aqsa merupakan kiblat pertama, tempat Mi’raj, dan warisan para nabi. Ia adalah simbol tauhid, perjuangan, dan keagungan Islam. Dalam kondisi apa pun, umat Islam tidak boleh melupakannya. Mengingat Masjid Al-Aqsa bukan sekadar nostalgia sejarah, tapi bentuk kesadaran iman dan loyalitas terhadap rumah-rumah Allah yang diberkahi.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: 10 Sebab Kenapa Amerika Sering Bantu Israel