Sejarah Perkembangan Islam di Andalusia

Luis Ibrahim Hernandez Martinez, saat menyelenggarakan kegiatan perkuliahan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI)
Luis Ibrahim Hernandez Martinez, saat menyelenggarakan kegiatan perkuliahan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI)

Depok, 9 Jumadil Awwal 1437 / 17 Februari 2016 (MINA) – Vice President dari Seville Mosque Foundation (Fundación Mezquita de Sevilla) di Spanyol, Luis Ibrahim Hernandez Martinez mengatakan Islam di Spanyol bukanlah sesuatu yang baru ataupun sesuatu yang dibawa oleh imigran negara lain seperti negera tetangga Maroko.

Hal itu di sampaikan Ibrahim Hernandez saat menyelenggarakan kegiatan perkuliahan dengan tema “History of Islamic Civilization and Islam in Andalusia” di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) beberapa waktu lalu.

Ibrahim menyelesaikan pendidikannya di Granada dan Scotlandia. Ibrahim kembali ke Spanyol untuk membina Seville Mosque Foundation, sebuah yayasan yang bertujuan membangun masjid serta Islamic Cultural Centre pertama di Seville.

Selain itu, Muhsin Sierra, yang juga merupakan pengurus Seville Mosque Foundation dan Direktur Visit Al-Andalus, juga menjadi narasumber dalam kuliah tersebut.

Islam pertama kali datang ke Spanyol pada pertengahan abad ke-7. Akan tetapi, dalam perjalanan sejarah, Spanyol menjadi negara Katolik sehingga banyak di antara Muslim Spanyol yang kehilangan identitasnya atau bermigrasi ke negara lain.

Kebangkitan kembali Islam di Spanyol dimulai pada tahun 1970s. Ibrahim, yang juga pernah menjadi model di Afrika Selatan selama 9 tahun, juga menuturkan bahwa ia sendiri terlahir dalam sebuah keluarga Muslim Spanyol.

Saat ini, terdapat sekitar 2 juta umat Islam di Spanyol. Mereka hidup dengan aman dan damai serta bisa menjalankan aktivitas sebagaimana halnya warga Spanyol lainnya.

Kejayaan Islam di Spanyol, berlangsung sekitar abad 7-10 M ketika pemerintahan Islam berpusat di Andalusia. Andalusia pada masa itu merupakan pusat pendidikan dunia dan kebudayaan dunia.

Ibn Sina (Avicenna) ahli kedokteran, Ibn Rushd (Averroes) ahli astronomi dan matematika, serta Al-Kwarizmi (Algorizm) penemu angka 0 (nol) dan algoritma merupakan beberapa ilmuwan Muslim yang dididik di Andalusia.

Bangunan-bangunan bersejarah seperti Istana Al-Hambra, Masjid Raya Cordoba, dan Medinat Az-Zahra (Istana Khalifah) merupakan masterpiece arsitektur dunia saat itu. Pada periode yang bersamaan, negara-negara di Eropa justru tengah mengalami keterbelakangan dalam berbagai bidang, sehingga periode tersebut dikenal dengan “the Dark Age”.

Islam di Andalusia mulai mengalami kemunduran ketika Sultan Abdulrahman ke-3 meninggal dunia pada abad 11 M. Ia digantikan oleh putranya yang masih kecil dan belum berpengalaman. Hal ini memicu perebutan kekuasaan oleh berbagai pihak baik Muslim maupun non-Muslim.

Tercatat sekitar 20 kerajaan kecil berkuasa secara silih berganti di daerah Andalusia sesudah pemerintahan keluarga khalifah Abdurrahman berakhir. Islam di Spanyol pun mulai mengalami kemunduran. Demikian juga dengan pendidikan dan kebudayaan Islam.(T/ima/R02)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)