Sekarang Mindanao Jadi Model Perdamaian Dunia

Manila, MINA – “Sekarang Mindanao bukan lagi daerah konflik tapi jadi model perdamaian dunia,” demikian dinyatakan dalam  Konferensi Perdamaian Antar-Benua di Manila untuk membahas peran pendidikan perdamaian.

Konferensi digelar secara virtual diikuti lebih dari 2.400 peserta pra-registrasi dari 70 negara, termasuk Filipina, Amerika Serikat, Jerman, Afrika Selatan, China, dan Korea Selatan. Demikian siaran pers yang diterima MINA, Selasa (26/1).

Konferensi yang digelar via Zoom Meeting pada Ahad (24/1) ini diselenggarakan oleh LSM perdamaian internasional yang berbasis di Korea, Heavenly Culture, World Peace, Restoration of Light (HWPL) di bawah naungan DGC PBB dan ECOSOC PBB.

Agenda ini sekaligus dalam rangka Perayaan 7 Tahun Hari Perdamaian HWPL 24 Januari.

Hari Perdamaian HWPL 24 Januari yang dideklarasikan oleh Provinsi Maguindanao di Filipina telah diperingati setiap tahun sejak Perjanjian Damai Mindanao dibuat oleh pemerintah daerah dan para pemimpin masyarakat sipil pada tanggal 24 Januari 2014.

Hari Perdamaian dinamai HWPL karena perjanjian tersebut disarankan oleh Ketua HWPL Man Hee Lee, yang dikenal sebagai seorang veteran perang Korea, untuk mengatasi konflik selama 50 tahun yang menelan sekitar 120.000 korban di wilayah tersebut.

Kegiatan perayaan tahun ini dengan mengusung tema “Peran Pendidikan Agama dalam Membangun Perdamaian Dunia”, bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pendidikan perdamaian di seluruh dunia dan membentuk platform global bagi para pendidik perdamaian untuk mengimplementasikan pendidikan perdamaian dalam sistem pendidikan di negara masing-masing.

Diikuti dengan ucapan selamat dari tokoh-tokoh sosial, pendidikan, agama, dan politik termasuk Ketua Pengadilan Tinggi Kairo, Mantan Presiden Dewan Hak Asasi Manusia PBB, Mantan Penasihat Kementerian Pendidikan Guatemala, Uskup Agung Emeritus dari Keuskupan Agung Davao Filipina, Ketua HWPL Man Hee Lee menyampaikan pesan-pesannya.

“Sekarang, Mindanao bukan lagi tempat konflik; sebaliknya, ini telah menjadi model perdamaian yang dilihat dunia. Dulu, orang-orang di daerah ini biasa menodongkan senjata ke satu sama lain — sekarang, mereka berbagi makanan sambil duduk di meja yang sama, meski berbeda agama dan ideologi. Siswa yang dulunya dilatih membunuh kini belajar tentang nilai hidup dan perdamaian yang berharga melalui Pendidikan Damai HWPL, ”ujarnya.

Dr. Ronald Adamat, Komisaris Komisi Pendidikan Tinggi Filipina (CHED), yang telah berupaya untuk melaksanakan Pendidikan Perdamaian HWPL dengan mengintegrasikan pendidikan perdamaian ke dalam kurikulum pendidikan tinggi yang relevan, membahas nilai Hari Perdamaian HWPL dan kemajuannya tentang pendidikan perdamaian di Filipina.

“Pemuda akan berjuang untuk perdamaian tetapi belum diberi keterampilan, pemahaman, atau kesempatan yang cukup untuk berbicara mengenai perdamaian. Saya dengan sepenuh hati mendukung Pendidikan Perdamaian HWPL,” kata Adamat.

Menurutnya, Kurikulum Pendidikan HWPL meningkatkan kesadaran bagi kaum muda  untuk menjadi pembawa damai – nilai-nilai yang sangat dibutuhkan kaum muda saat ini.

“Pemimpin masa depan harus melakukan perubahan untuk transformasi positif dunia. Anak-anak kita perlu dididik tentang bagaimana pembangunan perdamaian bekerja secara efektif. Melalui pendidikan, pembangunan dunia yang benar-benar damai suatu hari bisa menjadi kenyataan,” tambahnya.

Pendidikan Perdamaian HWPL yang terdiri dari 12 pelajaran bertujuan untuk melatih para pendidik dan peserta didik dengan nilai perdamaian dengan meningkatkan kesadaran akan pentingnya menumbuhkan budaya damai.

Sejak 2016, lebih dari 200 lembaga pendidikan di 34 negara, termasuk India dan Filipina, telah ditetapkan sebagai Akademi Perdamaian HWPL. Selain itu, Kementerian Pendidikan dari sembilan negara telah menandatangani MOA untuk implementasi pendidikan perdamaian.

Firoza Muradi, seorang pendidik dari Afghanistan, mengatakan, Perjanjian Damai Mindanao pada 2014 lalu menjadi model yang hebat bagi negara-negara seperti Afghanistan yang mengalami perang dan konflik.

“Saya berharap keajaiban perdamaian di Mindanao terjadi di Afghanistan, dan dimulai dari pendidikan perdamaian,” kata Muradi.

Dia berharap melalui Pendidikan Perdamaian HWPL, siswa mencari jawaban untuk mencapai perdamaian dengan berbagai cara, termasuk keharmonisan dengan alam, nilai kerjasama, dan cara melindungi hak-haknya.

“Saya yakin semua siswa saya yang menerima pendidikan perdamaian akan tumbuh menjadi pembawa pesan perdamaian,” imbuh Muradi.

Pada acara tersebut, pengurus HWPL mempresentasikan rencana tahun 2021 seperti Program Pelatihan Pendidik Perdamaian Online, Program Relawan Pendidikan Perdamaian, dan Proyek Pertukaran Cinta Perdamaian Pemuda Online yang sebagian besar dirancang sebagai program online sesuai dengan situasi pandemi.(R/R1/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)