SEKJEN KEMENAG: PETUGAS HAJI HARUS SIAP DENGAN EMPAT SIAP

(Foto: Kemenag)
(Foto: Kemenag)

Jakarta, 25 Sya’ban 1436/12 Juni 2015 (MINA) – Pembekalan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 1436H/2015M sudah selesai.

Sekjen Kemenag Nur Syam meminta para petugas haji agar dalam menjalankan tugasnya memberikan pelayanan, pembinaan, dan perlindungan jamaah, benar-benar siap dalam empat siap.

“Pelatihan ini setidaknya harus menghasilkan empat siap, siap fisik, siap mental, siap spiritual, dan siap pelayanan. Empat siap ini harus diperhatikan betul dan direnungkan. Mulai dari pelatihan ini sampai nanti di Arab Saudi, empat siap ini harus terus kita pertahankan,” pesan Nur Syam saat memberikan sambutan pada penutupan pembekalan PPIH Arab Saudi 1436H/2015M di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Jumat (12/6).

Staf Ahli  Staf Ahli Menkes bidang Teknologi Kesehatan dan Globalisasi Khairur Rajab Nasution, Direktur Pembinaan Haji dan Umrah Muhajirin Yanis, Perwakilan Komisi Pengawas Haji Indonesia (KPHI) Syamsul Maarif, Perwakilan TNI, Perwakilan POLRI, serta 806 PPIH dari unsur Kemenag, Kemenkes, dan instansi terkait, demikian laporan Kemenag yang diterima Mi’raj Islamic News Agency (MINA).

“Kalau kita semua bisa memaksimalkan empat siap ini, saya punya keyakinan bahwa survei BPS untuk PPIH insya Allah akan meningkat, karena itu tergantung peran dan fungsi (PPIH) yang maksimal dalam pelaksanaan haji,” jelasnya.

Nur Syam menambahkan, pada tahun 2014, terjadi penurunan indeks kepuasan jamaah haji menurut survei BPS. Tahun 2014, indeks kepuasan jamaah 81.52, sedang pada tahun 2013, indeks kepuasan jamaah mencapai 82.69. Artinya, ada penurunan indeks 1.17 point.

“Inilah yang harus kita kejar untuk tahun 2015 ini. Jangan sampai hasil survei BPS nanti, justru tahun 2015 juga menurun,” tegas Nur Syam sembari  mengajak PPIH untuk maksimalkan tugas-tugas yang akan dilakukan.

Mantan Rektor IAIN Surabaya itu memandang pembekalan PPIH yang telah berlangsung selama 10 hari dari 3-12 Juni ini mempunyai peran yang sangat penting. Menurutnya, setidaknya ada empat hal strategis tentang mengapa pelatihan itu diperlukan.

Pertama, pelatihan tersebut bermakna untuk pelatihan fisik. “Pelatihan ini dilakukan agar secara fisik kita siap. Beribadah haji adalah ritual fisikal yang membutuhkan kesehatan dan kebugaran fisik. Apalagi sebagai petugas, harus mempersiapkan fisik secara memadai,” ujarnya.

Kedua, pelatihan itu bermakna persiapan mental. Menurut Nur Syam, selama pembekalan, mental petugas PPIH dilatih untuk membangun mental yang kuat. Dengan mental yang kuat, Nur Syam yakin tugas yang dibebankan, betapa pun beratnya, akan berhasil.

“Mental harus disiapkan. Niat harus dimantapkan. Jangan sampai kita salah niat. Kita datang sebagai petugas yang akan melayani jamaah haji. Kalau dapat melakukan umrah dan haji, itu adalah bonus,” terangnya.

“Ibadah haji dan umrah, serta ziarah ke tempat bersejarah adalah bonus. Tugas utama adalah melaksanakan kewajiban sebagai petugas yang akan melayani jamaah haji,” imbuhnya.

Ketiga, persiapan spiritual. Menurut Nur Syam,  petugas haji juga perlu persiapan spiritual. Sebab, saat menjalankan tugas di Tanah Suci, tidak jarang para petugas akan dihadapkan pada pengalaman-pengalaman spiritual, seperti misalnya saat pertama kali melihat Kabah dan lainnya.

“Orang yang pertama kali melihat Kabah, bisa bercucuran air mata. Karenanya persiapan spiritual menjadi sangat penting,” ujarnya.

Adapun hal keempat yang penting dari pembekalan ini adalah adanya persiapan pelayanan yang akan diberikan kepada jamaah haji Indonesia. (T/P011/R05)

 

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Comments: 0