Sekjen PBB: Pandemi Covid-19 Jangan Picu Teori Konspirasi Liar

New York, MINA – Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan sebelum Sidang Umum PBB, masa pandemi Covid-19 jangan sampai memicu teori konspirasi liar.

“Negara-negara justru perlu bersatu untuk menekan penularan Covid-19,” ujar Guterres. The Kashmir Images melaorkan, Kamis (18/9).

“Dengan penyebaran virus, kami melihat penyebaran informasi yang salah tentang vaksin masa depan. Ini memicu keraguan vaksin dan memicu teori konspirasi liar. Ketidakpercayaan pada vaksin sedang meningkat di seluruh dunia,” lanjutnya.

Guterres menekankan, agar vaksin apa pun jika berhasil, orang di seluruh dunia harus bersedia menerimanya.

Guterres mencatat dengan prihatin laporan mengkhawatirkan dari sebagian besar populasi di beberapa negara yang menunjukkan keengganan atau bahkan penolakan untuk mengambil vaksin Covid-19. “Dalam menghadapi penyakit mematikan ini, kami harus melakukan yang terbaik untuk menghentikan informasi yang salah,” imbuhnya.

Dia menggambarkan virus Corona sebagai “ancaman keamanan global” nomor satu yang dihadapi dunia saat ini.

Dia menekankan negara-negara perlu secara besar-besaran memperluas alat baru dan yang sudah ada untuk menanggapi kasus baru dan memberikan perawatan penting menekan penularan dan menyelamatkan nyawa, terutama selama 12 bulan ke depan.

Guterres menyuarakan keprihatinan bahwa wabah itu di luar kendali dan dunia akan segera melewati “tonggak paling menyedihkan” dengan satu juta nyawa hilang karena virus.

“Pandemi COVID-19 adalah krisis yang tidak seperti krisis lainnya dalam hidup kita, jadi sidang Majelis Umum PBB tahun ini juga tidak seperti tahun lalu,” katanya.

Guterres menggarisbawahi pentingnya membuat vaksin virus Corona terjangkau dan tersedia untuk semua. “Mulai sekarang, vaksin harus dilihat sebagai barang publik global, karena Covid-19 tidak mengenal batas. Kami membutuhkan vaksin yang terjangkau dan tersedia untuk semua rakyat,” katanya.

Sesi ke-75 Sidang Umum PBB dimulai Selasa (22/9) dan untuk pertama kalinya para pemimpin dunia tidak akan melakukan perjalanan ke New York untuk berpidato pada sesi tingkat tinggi tahunan karena pandemi virus corona.

Sebaliknya, negara-negara akan mengirimkan rekaman video pernyataan Kepala Negara dan Pemerintahan mereka yang akan diputar di aula Sidang Umum, dimulai dengan Debat Umum yang dimulai pada 22 September. (T/RS2/R1)

Mi’raj News Agency (MINA)