Sekularisme Akar Krisis Sosial Politik Perancis

Oleh:Rifa Berliana Arifin, Kared Bahasa Arab MINA

Publik internasional menyaksikan kegaduhan sosial di Perancis dan Dunia, bukan karena Menara Eifel runtuh, tapi lagi lagi terjadi pembunuhan bermotif agama. Kali ini menimpa Samuel Paty sampai karikatur penghinaan Nabi Muhammad Shallahu alaihi wassalam.

Bagi yang belum sempat mengikuti isu ini dari awal, saya dapat jelaskan ceritanya:

Seorang guru bernama Samuel Paty menampilkan kartun yang menghina Rasulullah Shallahu alaihi wassalam di kelasnya, Kartun terbitan majalah Charlie Hebdo.

Paty meminta kepada siswanya yang Muslim, apabila mereka merasa tidak nyaman dengan pelajaran itu, mereka boleh keluar meninggalkan kelas.

Tapi rupanya, apa yang dilakukan Paty terekam dan tersebar hingga membawanya menuju liang kubur. Ia tewas dibunuh oleh seorang  pemuda imigran Muslim asal Chechnya yang disinyalir geram dan kesal atas tindakan penghinaannya terhadap Nabi Shallahu alaihi wassallam.

Imigran itupun tewas ditembak mati oleh polisi Perancis.

Tindakan Paty memang mengundang masalah sosial, akan tetapi dia tidak hanya ingin membuat lelucon bodoh atau ingin menjadi tenar semata.

Samuel Paty adalah seorang guru yang meninggikan nilai dari kewarganegaraan Perancis.

Kewarganegaraan yang mengajarkan fondasi, nilai-nilai fundamental yang membentuk konstitusi dan negara Perancis. Salah satu pilar negara Perancis, selain kebebasan (liberté), kesamarataan (égalité) dan persaudaraan (‘fraternité’) adalah ‘laïcité‘ yang berarti sekularisme.

Sekularisme yang membawa pada pemisahan agama dari ruang publik seperti pemerintahan, sekolah, taman umum dan fasilitas sarana yang bersifat umum.

Di bawah pilar sekularisme ini, segala jenis tampilan dan simbol atau identitas agama yang berada di ruang publik adalah dilarang. Agama adalah hal privasi yang hanya boleh dilakukan di dalam rumah. Sekularisme juga berlaku di Amerika Serikat dan Kanada, tapi sekularisme ala laïcité Perancis selangkah lebih maju untuk memusuhi agama.

Sekularisme Bagi Warga Perancis

Mayoritas warga Perancis mengklaim bahwa kebebasan dalam berpendapat dan berekspresi termasuk di dalamnya kebebasan untuk mengutuk Agama adalah hal penting demi keberlangsungan sekularisme.

Konstitusi negara adalah hal mutlak dan suci, ketika negara menjadi sakral maka sekularisme adalah sebuah keharusan, termasuk keharusan untuk mengutuk agama.

Jadi mereka membela kartun Charlie Hebdo yang tidak hanya mengejek Islam tapi juga Katolik bahkan Yahudi. Dan Kartun Cahrlie Hebdo ini sudah masuk dalam silabus pelajaran sekolah, bukan semata-mata ide dari Paty sendiri.

Sekularisme lahir di era Revolusi Prancis tahun 1789-1799. Saat itu, agama mayoritas Perancis adalah Katolik di bawah otoritas Paus di Vatikan. Revolusi terjadi untuk menggulingkan raja yang melindungi agama Katolik sekaligus melahirkan Republik Prancis yang nantinya menjadi “musuh” bagi gereja Katolik.

Alasannya adalah keyakinan dan kepercayaan terhadap agama disinyalir akan memecahbelahkan kesetiaan rakyat Perancis terhadap negara dan merupakan ancaman bagi keberlangsungan jalannya republik.

Hal itu mendorong para pemimpin revolusi seperti Robespierre untuk mengurangi ketergantungan masyarakat pada agama dengan apa yang disebut ‘Cult of the Supreme Being’.

Undang Undang Sekularisme secara resmi berlaku pada tahun 1905. Agak unik karena di dalamnya tidak ada pelanggaran dan sanksi bagi penghina simbol agama akan tetapi apabila penghinaan terhadap simbol negara seperti bendera maka ada sanksi dan pidana.

Bagi orang yang sudah tinggal di Perancis selama beberapa generasi, mereka sudah terbiasa dan “pasrah” dengan sekularisme ala laïcité. Banyak Biarawati yang sengaja menggunakan pakaian agama ke tempat umum, tidak lama setelahnya datanglah teguran.

Berbeda dengan Imigran baru sekularisme menjadi masalah sosial, apalagi mereka yang dataing dari wilayah yang konservatif misalnya Chehcnya.

Dalam kasus banyaknya Imigran Muslim masuk ke Eropa termasuk Perancis, ada isu bangkitnya sekte kanan penentangnya yang dipelopori oleh Marine Le Pen, ketua Partai Front National (FN).

Bangkitnya sekte kanan berarti mengarah kepada ultra sekularisme. Dan tentunya menjadikan Islam menjadi momok bahwa sekularisme berada di bawah ancaman. Apalagi Le Pen ingin mengontrol masuknya imigran Muslim ke Perancis dan melarang Islam didakwahkan secara luas di Perancis.

Le Pen menganggap para imigran tidak memiliki nasionalisme. Tidak cinta tanah air. Termasuk sinisnya kepada pemain Perancis yang dianggapnya menyanyikan lagu kebangsaan Perancis bukan dari hati. Imigran bagi Le Pen adalah pangkal bala permasalahan sosial dan seterusnya. Pokoknya, yang buruk-buruk, ia nisbatkan pada warga negara Perancis keturunan imigran tersebut.

Padahal imigran juga makin banyak berperan dan berjasa. Misalnya Perancis pernah meraih Juara Dunia 1998 dan Juara Eropa 2000. Semua ini karena kontribusi besar para pemain Perancis keturunan imigran. Figur Zinedine Zidane (Zainuddin Zaidan), pemain andalan Prancis ketika itu, adalah keturunan imigran asal Aljazair. Lalu si tembok tegar bernama Lilian Thuram berasal dari Guadeloupe, sebuah daerah di Karibia yang merupakan wilayah koloni Prancis. Lalu siapa yang tidak kenal dengan Marcel Desailly yang memiliki darah Ghana serta Patrick Vieira keturunan Senegal. Lalu ada Trezeguet, Thierry Henry dan lainnya. Dengan dipimpin oleh pelatih Aime Jacquet dan Kapten Didier Deschamps, mereka para imigran membuat Perancis “terbang tinggi” dalam sepak bola dunia.

Tahun 2011, Perancis menjadi negara Eropa pertama yang melarang penggunaan cadar (niqab/burka) bahkan hijab dengan dalih melestarikan tradisi sekularisme.

Apalagi paska serangan ISIS di Paris pada tahun 2015 yang penyebabnya adalah karena kartun Charlie Hebdo juga, maka semakin deras sentiment anti-Islam yang dilakukan oleh Partai FN.

Namun Partai FN dihadang oleh partai La République En Marche (LREM) Partai yang didirikan oleh Emmanuel Macron tahun 2016.

Macron tidak setuju dengan FN yang terlalu Islamofobia. Sebaliknya Macron mengambil pendekatan yang lebih terbuka kepada Muslim. Macron menyambut para imigran Muslim, hanya yang dia inginkan adalah supaya mereka bisa ‘berintegrasi’ dengan kultur Perancis. Macron berhasil menjadi presiden 2017, mengalahkan Le Pen.

Selama tiga tahun berjalan, Macron tidak terlepas dari kebijakan-kebijakan yang kontroversial yang ia buat untuk Umat Muslim, diantaranya pelarangan semua bentuk homeschooling mulai tahun depan 2021, termasuk madrasah Islam swasta yang cukup banyak di Perancis.

Alasannya, ia ingin mengintegrasikan Muslim ke dalam masyarakat Prancis. Jadi pendidikan Islam harus mengikuti silabus kurikulum yang disetujui pemerintah.

Maka sebenarnya, ajaran dan agama apapun yang tidak disetujui oleh pemerintah Perancis adalah illegal dan terlarang, karena negara lebih besar dari agama.

Puncaknya adalah saat Macron memberikan penghargaan tertinggi kepada Paty yang terbunuh karena mengajarkan sekularisme.

Selain itu, ironisnya Macron dilabel Islamophobia atas statementnya yang mengatakan bahwa Islam dalam krisis dan memerlukan reformasi.

Presiden Turki Erdogan adalah yang paling awal menentang pernyataan Macron bahkan Erdogan tidak segan–segan mempertanyakan kesehatan mental Macron karena membela publikasi penghinaan terhadap Nabi Muhammad Shallahu alaihi wassalam. Selain karena Perancis dan Turki banyak berseteru dalam banyak isu geopolitik seperti di Libya masing-masing menyokong pihak yang berlawanan, di Laut Tengah Perancis mendukung Yunani melawan Turki dalam sengketa kepemilikan kawasan laut yang kaya gas.  Jadi ini momentum bagi Erdogan untuk mencetas Perancis.

Di Asia Tenggara, Presiden Indonesia Joko Widodo mengecam pernyataan Macron yan menghina agama Islam yang melukai perasaan Umat Islam di seluruh dunia, hal itu dapat memecah belah kerukunan antar umat beragama di dunia.

“Kebebasan berekspresi yang mencederai kehormatan, kesucian, serta kesakralan nilai-nilai dan simbol agama sama sekali tidak bisa dibenarkan dan harus dihentikan, Mengaitkan agama dengan tindakan terorisme adalah sebuah kesalahan besar. Terorisme adalah terorisme,” kata Presiden Jokowi.

Setelah Turki dan Indonesia, Malaysia, Pakistan dan negara-negara Islam lain ikut memboikot produk-produk Perancis sebagai langkah protes.

Melihat tragedi demi tragedi yang terjadi karena Sekularisme ala laïcité di Perancis yang sudah berumur ratusan tahun, perlu rasanya Sekularisme kembali ditinjau ulang. Karena pertanyaan berikutnya adalah masihkah itu relevan dengan situasi sosial masyarakat dunia yang kini terus berkembang.(A/RA-1/P1)

Miraj News Agency (MINA)