Selama Sebulan, Tercatat 7000 Lebih Operasi Persalinan di Gaza

Menjadi salah satu dari empat rumah sakit yang masih berfungsi di Gaza Selatan, RS An Najar menerima 1000 hingga 2000 pasien per harinya (foto: MER-C)

RAFAH, MINA – Selama sebulan tercatat lebih dari 7000 operasi persalinan, termasuk operasi Sectio Caesaria di Rumah Sakit Al Helal Al-Emirati, Rafah. Jumlah tersebut diketahui saat tim medis dari Medis Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) bertugas di rumah sakit yang diperuntukkan khusus untuk perawatan pasien melahirkan.

Sebelumnya, sebelas relawan MER-C berhasil memasuki Gaza pada Senin (18/3/2024). Mereka langsung ditempatkan dan bertugas di sejumlah rumah sakit untuk membantu warga Gaza di bagian Selatan.

Tim MER-C terdiri atas tim bedah yang ditempatkan di RS Abu Yousef Al Najjar di Rafah, tim bidan dan perawat ditempatkan di RS Bersalin Al-Helal Al-Emirati, dan Primary Care Team yang terdiri dari dokter umum dan perawat ditempatkan di Tall Al-Sultan Primary Health Clinic di Rafah yang cukup besar dengan fasilitas seperti X Ray dan laboratorium.

Baca Juga:  Slovenia Dukung Surat Penangkapan ICC Terhadap Pejabat Israel

Di fasilitas Kesehatan ini ada lima poli, satu poli spesialis anak (SpA), dua poli umum dan dua poli lain-lain. Tersedia juga fasilitas semacam IGD dengan 7 bed emergency room, dua diantaranya bisa digunakan sebagai High Care Unit (HCU) IGD. Pasien yang dilayani dalam satu hari bisa mencapai 1500 orang.

Relawan MER-C melaporkan bahwa dengan jumlah dokter, nakes, obat-obatan serta peralatan tidak cukup sehingga rumah sakit memerlukan bantuan tim medis pada tahap berkutnya. EMT MER-C merupakan tim Indonesia pertama yang memberikan pertolongan medis sejak agresi 7 Oktober terjadi. Tim membantu melakukan operasi pasien trauma, layanan maternal dan layanan umum. Tim akan bekerja selama dua pekan hingga maksimal satu bulan.

Baca Juga:  Rudal Al-Qassam Hantam Heli Apache Zionis

Pengiriman bantuan tim medis ini membutuhkan keberlanjutan. Oleh karena itu, Kementrian Kesehatan Gaza berharap Indonesia dapat mengirimkan bantuan tim medis secara berkelanjutan dengan kebutuhan dokter-doketer spesialis ortopedi traumatologi, obgyn, bedah saraf, bedah plastik, spesialis anestesi, spesialis anak, spesialis penyakit dalam dan dokter umum serta layanan bidan dan perawat.

Situs resmi MER-C melaporkan, saat ini Relawan yang bertugas di Rumah Sakit An Najjar di Rafah, Gaza Selatan, harus berjuang di tengah keterbatasan fasilitas dan obat-obatan.

Tidak ada lagi tempat di IGD untuk menangani pasien. Jadi tindakan terpaksa dilakukan di kursi-kursi yang ada di sekitar ruang IGD. Tempat tidur yang tersedia sudah penuh.

Baca Juga:  Militan Irak Targetkan Serang Pelabuhan Israel dengan Drone

Menjadi salah satu dari empat rumah sakit yang masih berfungsi di Gaza Selatan, RS An Najar menerima 1000 hingga 2000 pasien per harinya. Salah satu relawan MER-C yang bertugas di Rumah Sakit tersebut mengatakan, ia bisa melakukan tindakan penjahitan kepada 30-40 pasien per harinya atau bahkan lebih jika sedang terjadi serangan.

“Tantangan paling sulit karena lokasinya terbatas dan ada pasien yang cukup banyak. Di ruang ini hanya ada satu tempat tidur, yang bisa kami gunakan untuk 2-3 orang sekaligus. Kebutuhan medis juga tidak full di suplay hanya beberapa poin yang dipenuhi,” ujarnya.

Relawan MER-C mengungkap, di RS An Najjar mereka menangani banyak pasien kelelahan, beberapa pasien yang mengalami infeksi saat di pengungsian, demam serta pasien luka. []

Wartawan: Arif Ramdan

Editor: Widi Kusnadi