Selamat Hari Guru, Sang Mercusuar Generasi Masa Depan

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Wartawan Kantor Berita MINA (Mi’raj News Agency)

Menjadi seorang guru merupakan panggilan jiwa, hati nurani, yang dengannya ia tergerak dan bergerak untuk mengajar anak-anak didik tanpa memandang berapa jumlahnya, dari latar belakang apa saja, betapa pun dikatakan ‘bodoh dan nakal’ serta tak mengharap seberapa besar ia mendapat imbalan. Walaupun ia mendapatkan gaji atau honor (bisyarah) dari mengajarnya, tapi itu bukanlah tujuan. Hanya penggembira (basyirah).

Guru mengajar berarti manifestasi ibadah dan memenuhi amanah Allah atas ilmu yang dimilikinya agar bermanfaat untuk masa depan umat. Karena itu, seorang guru dalam mengajar, menyampaikan nilai-nilai kehidupan, mentransfer ilmu pengetahuan, betul-betul berkeinginan agar murid-muridnya tumbuh menjadi manusia-manusia yang tunduk dan taat kepada Allah yang telah menciptakan manusia dan alam seisinya.

Karena mendidik adalah panggilan jiwa, maka ia menjadikan profesinya itu sebagai media dakwah menanamkan nilai-nilai di dalam jiwa anak didiknya, apapun mata pelajaran yang diajarkannya.

Guru pun akan mengajar dengan jiwanya, bukan hanya dengan fisik dan otaknya saja. Ia senang melihat anak didiknya berkembang keilmuannya, dan ia semakin bahagia melihat perkembangan akhlak murid-muridnya. Walaupun mungkin ia bukan guru akidah akhlak misalnya. Guru itu ingin memberikan pengajaran dan ingin mensucikan jiwa-jiwa muda generasi mendatang.

Karena itu, format utama pendidikan dalam Islam adalah pengajaran pensucian jiwa (tazkiyatun nafs). Baru kemudian pengajaran keilmuan. Dengan format tazkiyatun nafs, berlandaskan Al-Quran dan As-Sunnah, pendidik mengembangkan seluruh potensi kemanusiaan anak-anak didik yang utama. seperti tumbuhnya sifat-sifat dekat pada Allah, menjalani hidup dengan aturan-Nya, kuat mental menghadapi kehidupan, berjiwa sosial serta mampu memahami fenomena alam.

Guru tidak hanya mendidik aspek intelektual, tapi juga aspek fisikal, emosional, sosial, hingga spiritual. Karena pendidikan pada dasarnya adalah proses menyiapkan manusia shalih yang seimbang dalam potensi, tujuan, ucapan dan tindakan. Sebuah proses memanusiakan manusia pada fithrahnya sebagai manusia hamba Allah (hablum minallah) dan manusia bersosial (hablum minann naas).

Mercusuar Generasi

Seorang guru adalah manusia mulia yang berjasa besar dalam mengeluarkan manusia dari kegelapan dan kebodohan menuju cahaya ilmu pengetahuan. Karena itu seorang guru adalah sosok yang penuh kesungguhan dan dedikasi besar yang memberikan bekal kehidupan untuk mempersiapkan masa depan generasi.

Maka, jika dunia tanpa guru, kebodohan dan keterbelakangan akan merajalela di antara manusia, dan penyebaran pengetahuan akan terbatas pada kelompok yang sangat kecil. Begitulah, keberadaan profesi guru merupakan mercusuar cahaya yang menyinari semua orang. Apapun pangkat dan kedudukannya, seberapapun terkenal dan hebatnya seseorang, ia bukanlah apa-apa kalau tidak dari didikan guru-gurunya.

Dari gurulah seseorang mendapatkan bimbingan dan nasihat dalam hidup mereka dan dari guru pulalah ia memperoleh dasar-dasar ilmu pengetahuan, pengalaman kehidupan dan potensi untuk menjadi manusia di masyarakat.

Guru jualah yang menjadi sumber energi positif yang mendorong siswa untuk mencintai mata pelajarannya dan berkreasi dengannya. Jika siswa merasa jenuh, bosan apalagi hendak frustasi atau mundur, tampillah guru yang membimbingnya dengan wawasannya.

Jika pun dalam bimbingannya, bisa saja mungkin guru ‘marah’ karena ‘kelakuan anak-anak didiknya’, maka ketahuilah sang guru bukan sedang melampiaskan emosinya. Akan tetapi guru ingin anak-anak didiknya disiplin, teguh dan berprinsip. Juga kalau guru memberikan tugas ‘memberatkan dan merepotkan’, sebenarnya dia sedang menghendaki anak-anak didik itu memanfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk membekali dirinya dengan ilmu dan hal-hal positif.

Terlepas dari sifat manusia biasa seperti itu, bagaimanapun guru adalah profesi terbaik. Mengutip pandangan Atika Ziyad Al-Hussan, dari Philadelphia University Yordania, yang mengatakan, guru adalah pemilik profesi terbaik dan tertinggi, serta adalah harapan bangsa untuk mencapai kemajuan dan pembangunan.

“Karena guru mampu membangkitkan ruh generasi, mengisi pikiran, dan membuat orang terpelajar, dan itu adalah mata air murni yang menjadikan murid-muridnya cerdas,” lanjut Atika dalam artikelnya Ungkapan Keutamaan Guru (ta’bir ‘an fadhlil mu’allim) pada Mawdoo3.

Ia menambahkan, para gurulah yang mempersenjatai generasi masa depan dengan usaha, tekad, dan keteguhan. Para guru pulalah yang memberikan amunisi ilmu pengetahuan dan keterampilan hidup ke benak anak-anak didiknya.

Tanpa kehadiran guru, sains tidak akan mendapat tempat dan orang-orang akan tetap tenggelam dalam ketidaktahuan dan keterbelakangan mereka.

Itulah sebabnya pemilik profesi besar nan mulia guru ini layak menempati posisi yang utama sejak dahulu kala, dan menerima cinta, penghargaan, dan rasa hormat dari semua orang.

Karena guru memainkan peran penting dalam pembentukan dan penyempurnaan kepribadian siswa-siswanya, maka kepribadian guru pun harus terus meningkat seiring bertabahnya ilmu dan pengalaman hidupnya. Sehingga ia merasa dituntut untuk menjadi teladan bagi semua orang dan setiap saat. Guru adalah mercusuar agama, akhlak, budaya dan ilmu pengetahuan.

Bertepatan dengan Hari Guru Nasional, 25 November 2021 ini, guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, teruslah menjadi guru bagi generasi emas masa depan umat dan bangsa. Teruslah “Bergerak dengan Hati, Pulihkan Pendidikan,” pantang surut ke belakang.

“Selamat Hari Guru Nasional. Jasamu dikenang, berkahmu berkembang, pahalamu menjulang”.  (A/RS2/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)