Oleh Hudzaifah Abdurrahman, Mahasiswa KPI STIBA Ar-Raayah
ISTILAH self-love atau mencintai diri semakin populer di masyarakat terutama di kalangan remaja. Banyak orang yang berbicara tentang pentingnya menghargai dan menerima serta mengakui kekurangan, membuat batasan dengan orang lain, hingga tidak membandingkan diri sendiri dengan orang lain.
Bagaimana konsep ini dalam kacamata Islam? Apakah self-love sejalan dengan ajaran Islam? Jawabannya adalah, ya, tetapi dengan pemahaman yang lebih mendalam dan bermakna.
Islam adalah agama yang sempurna yang mencakup semua hal yang dibutuhkan manusia di kehidupannya, termasuk hal dalam mencintai diri sendiri. Rasulullah SAW bersabda,
Baca Juga: Peluang Indonesia di Forum Ekonomi Internasional Rusia-Dunia Islam 2025
إِنَّ لِبَدَنِكَ عَلَيْكَ حَقًّا
“Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atasmu” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hal ini menunjukan bahwa kesehatan fisik, mental dan spiritual adalah bentuk tanggung jawab seorang Muslim terhadap dirinya sendiri. Islam memaknai mencintai diri dengan merawat diri sebagai amanah dari Allah SWT, bukan hanya sekadar memuaskan hawa nafsu atau mementingkan diri secara berlebihan.
Qana’ah: Perasaan Cukup
Baca Juga: Zakat Produktif: Solusi Mandiri untuk Pengentasan Kemiskinan
Salah satu prinsip penting dalam islam yang berkaitan dengan self-love adalah qana’ah, yaitu merasa cukup dengan apa yang Allah SWT berikan. Rasulullah SAW bersabda,
لَيسَ الغِنى عَن كَثرَةِ العَرَضِ، وَلَكِنَّ الغِنى غِنى النَّفس
“Kekayaan bukanlah banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya hati” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dengan memiliki sifat qana’ah, seseorang dapat mencintai dirinya sendiri tanpa dikekang oleh belenggu iri dan dengki terhadap orang lain. Sederhana tapi Bahagia, tidak silau dengan gaya hidup orang lain, puas dengan rezeki yang ada, dan menerima kekurangan diri sendiri adalah contoh kecil qana’ah dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Proyeksi Penerapan Hidup Berjamaah di Masa Depan
Qana’ah juga mengajarkan kita untuk menghindari sikap serakah serta menghargai apa yang ada dan tidak sibuk dengan yang tidak ada. Sifat ini menjadi bentuk self-love yang mendalam karena membebaskan hati dari egoisme, tekanan sosial, dan sifat materialisme.
Syukur: Menghargai Nikmat Allah SWT
Menurut Islam, selain qana’ah syukur juga menjadi landasan penting dalam konsep self-love. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an,
لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِیْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِیْ لَشَدِیْدٌ
Baca Juga: Pengaruh Shaum Dalam Membangun Kepribadian
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim:7).
Bentuk Syukur tidak hanya mengucapkan terima kasih, tetapi juga menghargai nikmat Allah SWT dengan menjaga diri dan memanfaatkan nikmat-Nya untuk berbuat kebaikan.
Bentuk Syukur dalam konteks self-love bisa diwujudkan dengan melakukan pola hidup sehat, menjaga hubungan sosial yang baik, dan mengisi waktu dengan hal-hal yang produktif serta bermanfaat. Dengan bersyukur, seorang Muslim akan lebih mencintai dirinya sendiri dan menambah kedekatan kepada Sang Maha Pemberi Rizki.
Berbeda halnya dengan self-love gaya Barat yang mengacu pada kepuasan diri tanpa adanya batasan dan aturan, Islam menawarkan perspektif yang lebih seimbang. Mencintai diri dalam Islam berarti merawat fisik, mental, dan spiritual secara harmonis, serta memahami bahwa cinta terbesar adalah cinta kepada Sang Pencipta.
Baca Juga: Kaum Muslimin Saatnya Berperan Bukan Baperan
Dengan menanamkan sifat qana’ah dan syukur, seorang muslim dapat membangun hubungan yang sehat dengan dirinya sendiri. Self-love tidak sebatas mengikuti tren, melainkan bentuk implementasi salah satu syiar Islam dan ibadah yang mengantarkan kepada ketenangan jiwa dan kebahagiaan hakiki.
Jadi, apakah self-love dalam Islam itu ada? Jawabannya, tentu ada. Namun, ia hadir dalam bingkai yang lebih indah dan penuh makna: mencintai diri sendiri sebagai bentuk rasa syukur yang tulus dan tanggung jawab yang besar kepada Allah SWT sebagai Pencipta. Dengan memahami konsep ini, kita dapat menjalani hidup dengan lebih tenang, seimbang dan penuh berkah. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Pesan Tabligh Akbar 1446H, Sambut Ramadhan dengan Kesucian Hati