Senjata Barat untuk Arab Saudi dan Kehancuran Yaman

Oleh Rudi Hendrik, jurnalis Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Pada Sabtu, 8 Oktober 2016, serangan udara koalisi pimpinan Arab Saudi menghantam sebuah upacara pemakaman di Sanaa, ibukota Yaman.

Serangan udara itu menghantam bangunan pemakaman Menteri Dalam Negeri pemerintahan oposisi bersenjata Houthi Yaman, Jalal Al-Roweishan, di lingkungan Haddah, Sanaa, sekitar pukul 14:00 waktu setempat.

Dilaporkan sedikitnya 140 orang tewas dan lebih dari 500 luka-luka.

Sementara di Inggris, serangan itu telah menghidupkan kembali perdebatan tentang mana yang lebih penting, moralitas atau legalitas kontrak senjata yang menguntungkan antara Inggris dengan Arab Saudi.

Koalisi negara Teluk pimpinan Arab Saudi yang saat ini sedang melakukan serangan udara terhadap sasaran-sasaran Houthi di Yaman secara luas, menjadi tersangka utama sebagai pelaku serangan.

Koalisi telah mendukung pemerintah Yaman yang diasingkan, Abd-Rabbo Mansour Hadi, dalam melawan Houthi.

Awalnya, Arab Saudi menyangkal bertanggungjawab atas serangan mematikan terhadap warga sipil itu. Namun,  kemudian menyatakan akan melakukan investigasi internal.

Sanaa Berkabung

Hussain Albukhaiti, seorang jurnalis Yaman dari kota Dhamar, terletak sekitar 90 km sebelah selatan dari Sanaa, mengatakan pada Senin (10/10) bahwa orang-orang di Yaman berada dalam keadaan syok.

“Ada banyak kemarahan, serangan ini telah mencapai setiap rumah di Sanaa dan di luar, setiap keluarga. Aula yang diserang itu penuh, itu sebuah acara terbuka. Setelah serangan pertama, orang keluar masuk untuk mencari korban selamat. Ini adalah saat serangan kedua terjadi,” kata Albukhaiti.

Menurut analis militer, serangan Sabtu itu adalah “double-tap“, yaitu pesawat perang melakukan sebuah serangan bom awal pada target, dan kemudian menunggu ada tanda-tanda korban selamat, atau petugas penyelamat tiba, kemudian melakukan pengeboman kedua atau lebih di titik yang sama.

Albukhaiti mengatakan, sebagian korban tidak bisa diidentifikasi karena kondisinya yang sangat buruk. Pelayat telah menjadi tulang, debu dan abu akibat panas yang dihasilkan bom dalam serangan itu.

“Kadang-kadang warga menyalahkan Inggris dan Amerika Serikat sebelum mereka menyebutkan Arab Saudi. Mereka tahu bahwa tanpa kontrak-kontrak (militer) dan mendukung, Arab Saudi tidak akan mampu meluncurkan serangan-serangan ini,” kata Albukhaiti.

Gedung tempat dilaksanakannya upacara pemakaman di Sanaa, ibukota Yaman, hancur oleh serangan udara, menewaskan sedikitnya 140 orang warga. (Foto: Reuters)
Gedung tempat dilaksanakannya upacara pemakaman di Sanaa, ibukota Yaman, hancur oleh serangan udara, menewaskan sedikitnya 140 orang warga. (Foto: Reuters)

Bisnis yang Menguntungkan

Sejak awal konflik, Inggris telah menjual lebih dari £ 3,3 miliar senjata ke Arab Saudi, jumlah yang hanya diungguli oleh Amerika Serikat.

Nilai sebesar £ 3,3 miliar termasuk pembayaran senilai £ 2,2 miliar untuk pembelian pesawat, helikopter, dan drone; £ 1,1 miliar untuk pembelian granat, bom, rudal dan penanggulangannya; dan £ 430.000 untuk pembelian kendaraan lapis baja dan tank.

Kelompok-kelompok hak asasi manusia dan kelompok advokasi internasional telah lama berpendapat bahwa perangkat berat militer Inggris telah digunakan dalam serangan yang menargetkan warga sipil di Yaman.

“Perjanjian saat ini dengan Arab Saudi adalah melanggar hukum internasional,” kata Andrew Smith, juru bicara media organisasi Kampanye Melawan Perdagangan Senjata (CAAT) yang berbasis di Inggris kepada The New Arab.

Pada bulan Juli, Pengadilan Tinggi Inggris memutuskan mendukung kasus yang diajukan oleh CAAT menentang berlanjutnya penjualan senjata oleh Inggris ke Arab Saudi. Peninjauan kembali kasus ini akan dilakukan pada Februari 2017.

Namun, diskusi lebih lanjut tentang ekspor tetap berlangsung.

BAE Systems, kontraktor utama yang menawarkan senjata Inggris ke Arab Saudi, mengungkapkan pekan lalu bahwa fihaknya  sedang dalam pembicaraan dengan Riyadh atas kontrak senjata baru bernilai multi-miliar pound.

Selama periode 20 tahun, antara tahun 1985 hingga 2005, perusahaan pertahanan Inggris menerima lebih dari £ 43 miliar dari Riyadh melalui penawaran Al-Yamamah.

Sebagai imbalannya, Arab Saudi membayar  perangkat keras militer BAE itu dengan pengiriman minyak mentah per hari hingga 600.000 barel (95.000 m3) kepada pemerintah Inggris.

Amnesty International mengatakan bahwa sisa-sisa senjata bom produksi Inggris atau Amerika Serikat (AS) ditemukan di tempat rumah sakit di Yaman yang hancur oleh serangan udara. Tapi penyelidikan terhadap serangan udara koalisi di Yaman, yang dilakukan oleh Arab Saudi pada awal tahun ini menyimpulkan bahwa mereka telah “mentaati hukum kemanusiaan internasional”.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel Al-Jubeir mengklaim bahwa pejabat Inggris dan Amerika hadir di pusat kontrol serangan udara Saudi di Yaman, tapi tidak memainkan peran dalam memilih target mereka.

Pembelaan Perdana Menteri Theresa May

Pada bulan September, setelah keberatan diajukan terhadap kesepakatan senjata Inggris-Arab di parlemen, Perdana Menteri Inggris Theresa May membela kesepakatan itu dengan menyatakan “sebenarnya, yang penting adalah kekuatan hubungan kita dengan Arab Saudi.”

“Ketika mengacu kepada kontra-terorisme dan berurusan dengan terorisme, ini adalah hubungan yang telah membantu menjaga orang-orang di jalan-jalan Inggris menjadi aman,” kata May.

Berbeda dengan £ 3,3 miliar dalam bentuk penjualan senjata ke Arab Saudi sejak Maret 2015, Inggris pun telah memberikan £ 100 juta dalam bentuk bantuan ke Yaman selama periode waktu yang sama.

Menurut PBB selama periode 19 bulan ini, 10.000 orang telah tewas, dan lebih dari tiga juta orang mengungsi. Sekitar 60 persen dari semua kematian warga sipil telah dikaitkan dengan serangan udara koalisi.

Laporan tambahan menunjukkan bahwa setengah dari warga Yaman yang 28 juta orang, sudah mengalami kekurangan makanan. Sebanyak 370.000 anak kekurangan gizi berkesinambungan yang sebagian besar akibat blokade yang diberlakukan oleh Arab Saudi.

“Saya tidak mengerti bagaimana orang bisa membenarkan menjual senjata padahal mereka mengetahui betul  bahwa warga sipil ditargetkan dan yang pada gilirannya melanggar hukum kemanusiaan internasional. Ekonomi tidak bisa merasionalisasi kejahatan perang,” kata Dr Riaz Karim, pendiri Mona Relief, sebuah lembaga amal di Inggris yang terlibat dalam bantuan darurat di Yaman.

Setelah serangan mematikan pada Sabtu di Sanaa itu, Amerika Serikat selaku pemasok terbesar di dunia senjata kepada Arab Saudi, mengatakan akan memulai “segera meninjau ulang” dukungan militernya dan mengatakan bahwa kerjasama dengan Riyadh “bukan cek kosong”. (P001/P2)

Sumber: The New Arab

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)