Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan-nya Rasulullah SAW

(Suasana I’tikaf)

Oleh Bahron Ansori, jurnalis MINA

HAL penting yang harus menjadi perhatian dari setiap muslim dalam bulan Ramadhan ini adalah melihat dan mengkaji lagi bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya dalam mengisi hari-hari Ramadhan di sepuluh hari yang akhir. Berikut ini adalah beberapa penjelasan singkat yang menggambarkan ibadah, dan semangat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam selama mengisi sepuluh hari Ramadhan yang akhir.

Dalam Shahihain disebutkan, dari Aisyah radhiallohu ‘anha, ia berkata :”Bila masuk sepuluh (hari terakhir) bulan Ramadhan, Rasulullah ShallAllahu ‘Alaihi Wasallam mengencangkan kainnya menjauhkan diri dari menggauli istrinya, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.” (HR.Bukhari).

Adapun lafazh Muslim berbunyi, “Menghidupkan malam(nya), membangunkan keluarganya, dan bersungguh-sungguh serta mengencangkan kainnya.

Dalam riwayat lain, Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah radhiallohu ‘anha  “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersungguh-sungguh dalam sepuluh (hari) akhir (bulan Ramadhan), hal yang tidak beliau lakukan pada bulan lainnya.”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengkhususkan sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dengan amalan-amalan yang tidak beliau lakukan pada bulan-bulan yang lain, di antaranya sebagai berikut.

Menghidupkan malam. Ini mengandung kemungkinan bahwa beliau menghidupkan seluruh malamnya, dan kemungkinan pula beliau menghidupkan sebagian besar daripadanya. Dalam Shahih Muslim dari Aisyah radhiallohu ‘anha, ia berkata: “Aku tidak pernah mengetahui Rasululloh shallallohu alaihi wasallam shalat malam hingga pagi. ”

Diriwayatkan dalam hadits marfu’ dari Abu Ja’far Muhammad bin Ali, “Siapa mendapati Ramadhan dalam keadaan sehat dan sebagai orang muslim, lalu puasa pada siang harinya dan melakukan shalat pada sebagian malamnya, juga menundukkan pandangannya, menjaga kemaluan, lisan dan tangannya, serta menjaga shalatnya secara berjamaah dan bersegera berangkat untuk shalat Jum’at; sungguh ia telah puasa sebulan (penuh), menerima pahala yang sempurna, mendapatkan Lailatul Qadar serta beruntung dengan hadiah dari Tuhan Yang Mahasuci dan Maha tinggi. ” Abu Ja ‘far berkata: Hadiah yang tidak serupa dengan hadiah-hadiah para penguasa.
(HR. Ibnu Abid-Dunya).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membangunkan keluarganya untuk shalat pada malam-malam sepuluh hari terakhir, sedang pada malam-malam yang lain tidak.

Dalam hadits Abu Dzar radhiallahu ‘anhu disebutkan, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melakukan shalat bersama mereka (para sahabat) pada malam dua puluh tiga (23), dua puluh lima (25), dan dua puluh tujuh (27) dan disebutkan bahwasanya beliau mengajak (shalat) keluarga dan isteri-isterinya pada malam dua puluh tujuh (27) saja.”

Ini menunjukkan bahwa beliau sangat menekankan dalam membangunkan mereka pada malam-malam yang diharapkan turun Lailatul Qadar di dalamnya.

At-Thabarani meriwayatkan dari Ali radhiallohu ‘anhu, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membangunkan keluarganya pada sepuluh akhir dari bulan Ramadhan, dan setiap anak kecil maupun orang tua yang mampu melakukan shalat. ”

Dan dalam hadits shahih diriwayatkan, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengetuk (pintu) Fathimah dan Ali radhiallahu ‘anhuma pada suatu malam seraya berkata:Tidakkah kalian bangun lalu mendirikan shalat ?”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa memberikan kemudahan bagi kita untuk menghidupkan malam-malam kita di sepuluh hari Ramadhan ini, wallahua’lam.(RS3/P1)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)