Serbia dan Kosovo Akui Israel di Bawah Dorongan Trump

Washington, MINA – Serbia dan Kosovo mengumumkan bahwa mereka telah menormalisasi hubungan ekonomi sebagai bagian dari diskusi yang ditengahi AS, termasuk Pemerintah Beograd akan memindahkan kedutaan Israelnya ke Yerusalem dan Pemerintah Pristina mengakui Israel.

Setelah dua hari pertemuan dengan pejabat administrasi Trump, Presiden Serbia Aleksandar Vucic dan Perdana Menteri Kosovo Avdullah Hoti pada hari Jumat (4/9) sepakat bekerja sama dalam berbagai bidang ekonomi guna menarik investasi dan menciptakan lapangan kerja.

Pengumuman Gedung Putih memberi Presiden AS Donald Trump kemenangan diplomatik menjelang pemilihan presiden November nanti dan semakin mendorong pemerintahnya untuk meningkatkan kedudukan internasional Israel.

“Sungguh, ini bersejarah,” kata Trump, berdiri di samping dua pemimpin di Ruang Oval, Washington, demikian dikutip dari TRT World. “Saya berharap untuk pergi ke kedua negara dalam waktu yang tidak terlalu lama.”

Vucic mengatakan kepada wartawan masih ada banyak perbedaan antara Serbia dan Kosovo yang memisahkan diri itu. Namun ia mengatakan, kesepakatan Jumat menandai kemajuan besar.

Penasihat Keamanan Nasional AS Robert O’Brien, yang berpartisipasi dalam pertemuan tersebut mengatakan, kesepakatan tentang perluasan hubungan ekonomi dapat membuka jalan bagi solusi politik di masa depan.

Keputusan Serbia untuk memindahkan kedutaannya dari Tel Aviv ke Yerusalem sama dengan persetujuan Israel dan Amerika Serikat. Pemerintahan Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel pada akhir 2017 dan memindahkan kedutaan AS ke sana pada Mei 2018.

Washington telah mendorong negara-negara lain untuk melakukan hal yang sama, tetapi telah dikritik secara luas oleh orang-orang Palestina dan banyak orang di Eropa karena konflik Israel-Palestina masih belum terselesaikan.

Kosovo, sebuah negara berpenduduk mayoritas Muslim, belum pernah mengakui Israel dan Israel juga tidak pernah mengakui Kosovo.

Pengakuan terhadap Israel adalah bagian dari dorongan pemerintahan Trump untuk meningkatkan kedudukan internasional Israel.

Baru-baru ini, Washington menjadi perantara kesepakatan bagi Israel dan Uni Emirat Arab untuk menormalisasi hubungan. Itu diikuti oleh penerbangan komersial pertama antara Israel dan UEA, dengan negara tetangga Arab Saudi dan Bahrain memungkinkan penerbangan semacam itu melewati wilayah udara mereka.

Negara-negara Arab lainnya, termasuk Sudan, Bahrain dan Oman, telah diidentifikasi sebagai negara-negara yang mungkin segera juga akan menormalkan hubungan dengan Israel. (T/RI-1/RS1)

Mi’raj News Agency (MINA)