Seruan “Lir Ilir” Untuk Pejuang Pembebasan Masjid Al-Aqsha

Oleh: Nurhadis, Kepala MINA Biro Sumatera  

Lir-ilir, lir-ilir
tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane
Yo surako… surak iyo…

Lirik lagu Lir Ilir di atas merupakan tembang Jawa yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga pada abad 15-16 M untuk berdakwah menyebarkan agama Islam di pulau Jawa. Lir Ilir pada zaman itu sangat populer di kalangan anak-anak dan masyarakat di pulau Jawa.

Di masa sekarang ini tembang lir-ilir sudah jarang dinyanyikan di kalangan anak-anak bahkan sudah tidak pernah terdengar lagi. Padahal jika dihayati makna lirik yang ditulis oleh sunan Kalijaga pada lagu lir Ilir ini sangatlah luas.

Melalui lirik lagu Lir ilir ini, penulis mencoba memaknainya sebagai upaya yang harus dilakukan pejuang pembebas Masjid Al-Aqsha yang sampai saat ini masih dikuasai zionis-israel.

Lagu ini berisikan rasa optimis kepada seseorang yang sedang melakukan amal saleh. Rasa optimis inilah yang diperlukan pejuang-pejuang pembebas Masjid Al Aqsa. Karena jalan jihad panjang ini memerlukan kesabaran, optimisme, dan keistiqomahan sehingga tercapai tujuan yang dicita-citakan.

Lir ilir, lir ilir bermakna bangunlah bangunlah. di tengah keterpurukan umat, perpecahan di mana-mana kezaliman yang dirasakan umat Islam di berbagai belahan dunia diperlukan kebangkitan umat dari tidur yang panjang. bangkit juga dimaknai agar kita tidak terlena pada kehidupan dunia yang hakikatnya adalah senda gurau. Ada tugas mulia bagi kita umat Islam untuk memikirkan bagaimana caranya kiblat pertama umat Islam ini bisa kembali ke pangkuan kaum muslimin. Kebangkitan umat dalam satu wadah, dan satu pimpinan adalah upaya pertama dan utama bagi umat Islam yang menginginkan terbebasnya Masjid Al-Aqsha dari penjajahan Zionis Israel.

Tandure wis sumilir, bermakna benih yang ditanam sudah mulai tumbuh. Yang dimaksud benih disini adalah iman yang telah tumbuh dan berkembang. apabila benih iman dirawat dengan baik maka akan tumbuh subur, sebaliknya jika tidak dirawat maka benih iman itu akan rusak dan mati. Keyakinan kita terhadap kembalinya Masjid Al-Aqsha kepangkuan kaum muslimin sangatlah kuat, bahkan semakin tumbuh dan berkembang sesuai dengan isyarat dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Keyakinan ini perlu terus dipupuk. Zionis-yahudi saja sangat yakin untuk mendirikan kuil Solomon setelah nanti merobohkan Masjid Al-Aqsha. Maka bagi kita yang sudah menyatakan diri siap berjuang membebaskan kiblat pertama umat Islam ini, keyakinan atau keimanan menjadi syarat mutlak untuk dimiliki.

Tak Ijo Royo-royo, keyakinan atau keimanan yang kita miliki untuk terbebasnya masjid Al-Aqsha sehingga tercipta kedamaian di sekelilingnya, tentu begitu menyejukkan atau menyegarkan jiwa. Karena jika Al-Aqsha terbebas maka kedamaian akan tercipta di Palestina juga di Timur tengah dan seluruh dunia pada umumnya. Hal ini sejalan dengan teori heartland dari seorang ahli geopolitik Yahudi Jerman dari Universitas Munich bernama Karl Ernst Haushofer. Siapapun yang menguasai heartland maka ia akan menguasai dunia.

Penguasaan zionis-yahudi terhadap tanah Palestina telah menegasikan kedamaian di sana dan berdampak kepada ketidakdamaian di seluruh dunia. kedamaian di bumi Palestina inilah yang harus kita kembalikan sehingga tercipta kedamaian di seluruh dunia. hal ini sejalan dengan tagline Kantor Berita Islam MINA, kantor berita yang didirikan dari hasil Konferensi Al-Quds dan Palestina pada 2012 di Bandung. Peace in Palestine, Peace in the World.

Hal ini sesuai dengan lirik setelahnya, Tak sengguh temanten Anyar, bisa dimaknai kebahagiaan yang dirasakan sepasang pengantin baru. Tentu bahagia yang dirasa ketika kebangkitan umat kemudian membuahkan hasil terbebasnya Masjid Al-Aqsha sehingga tercipta kedamaian di Palestina yang secara otomatis akan menciptakan kedamaian di seluruh dunia.

Pada lirik berikutnya, Cah angon cah angon, dimaknai sebagai pemimpin yang punya kemampuan leadership yang baik. Mampu memimpin dirinya juga orang lain. Untuk membebaskan Masjid Al-Aqsha tentu perlu panglima terbaik yang memahami strategi dengan baik, karena perjuangan ini bukan perjuangan yang mudah, perlu kerja keras.

Karenanya, pada lirik berikutnya, Penekno blimbing kuwi, kita diminta untuk memanjat pohon belimbing. Buah belimbing memiliki 5 sisi. angka 5 dalam aqidah Islam memiliki banyak makna diantaranya kewajiban Shalat 5 waktu sebagai seorang muslim dan melaksanakan rukun Islam yang ada 5. Meski harus bersusah payah, sebagaimana lirik berikutnya, Lunyu-lunyu penekno, meskipun licin meskipun susah kita harus tetap memanjat pohon belimbing tersebut. Artinya harus berusaha sekuat tenaga.

Cah angon atau pengembala, pemimpin yang punya kemampuan kepemimpinan yang baik dan ruh pengamalan syariat Islam yang yang termaktub dalam lima rukun Islam harus berusaha maksimal bersungguh-sungguh dalam upaya jihad membebaskan Masjid Al Aqsa. Meski tidak mudah, harus bersusah-payah, namun mujahid harus tetap memaksimalkan kemampuannya sehingga tercapai tujuan terbebasnya Masjid Al-Aqsha dan merdekanya bangsa Palestina. Sebab jihad maksimal tersebut akan mencuci dosa-dosa kita yang banyak sebagaimana dikatakan dalam lirik berikutnya yakni Kanggo Mbasuh Dodot Iro.

Lalu pada lirik berikutnya, Kumitir Bedah Ing Pinggir, Dondomono Jlumatono, diartikan yang terkoyak di bagian samping, jahitlah dan benahilah. Pahala jihad yang kita dapat diharapkan bisa merajut, menyulam menutupi dosa-dosa kita yang banyak. Sebab bekal pahala inilah yang nanti akan kita bawa menghadap di kemudian hari sesuai dengan lirik berikutnya Kanggo Sebo Mengko Sore, artinya untuk menghadap nanti sore saat bertemu dengan yang Maha Kuasa.

Mumpung Padhang Rembulane, mumpung jembar kalangane, bisa diartikan selagi Allah memberikan kesempatan dan ladang jihad yang terbuka lebar bagi kita, maka berada di shaf terdepan pembebasan Masjid Al Aqsa merupakan kesempatan yang tidak datang dua kali, karenanya perlu digunakan semaksimal mungkin meski harus bersusah payah untuk menggapainya.

Akhirnya, pada lirik terakhir lagu, Yo surako surak iyo, artinya marilah kita sambut seruan jihad pembebasan Masjid Al-Aqsha ini sebagai tanda kebahagiaan, karena Allah berikan kesempatan kepada kita untuk berada di shaf terdepan. Tentu diperlukan kesungguhan, keseriusan, serta istiqomah dalam berjuang mencapai kemenangan dan kebahagiaan, yakni kembalinya Masjid Al-Aqsha ke pangkuan kaum muslimin dan merdekanya bangsa Palestina dari penjajahan Zionis Israel.

Apalagi, akhir-akhir ini, kondisi saudara kita di sana semakin terpuruk. Di tengah-tengah pandemi Covid-19, Zionis Israel terus mengupayakan penguasaan penuh terhadap tanah suci para Nabi ini dengan menormalisasi hubungan negara ilegal Israel dengan negara-negara Timur Tengah. Hal ini semakin mempersempit dada saudara kita di Palestina. Dengan kondisi seperti ini, maka diperlukan upaya Extra Ordinary untuk mengembalikan Al-Aqsha ke pangkuan kaum Muslimin.

Semoga lagu lir-ilir ini menginspirasi Mujahid-mujahid pembebas Masjid Al-Aqsha untuk bangkit dari tidur panjang, dan mengupayakan gerakan Extra Ordinary dan tetap istiqomah untuk mengembalikan kiblat pertama umat Islam ini kepada Umat Islam sebagai pemilik sah tanah wakaf ini dalam waktu dekat. Aamiiin. (A/B03/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)