Setelah di Istanbul, Baru Terasa Manfaat Latihan Fisik

Oleh: Jafar Shidqi Al-Mubarok, Relawan Maemuna Center, Anggota Ukhuwah Al-Fatah Rescue

Tiba di Istanbul sejak (16/4), saya terbang dari Indonesia bersama Bang Rijal Abdul Latif. Kami berdua adalah Tim Konstruksi Pembangunan Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Indonesia di Gaza dari lembaga kemanusiaan Maemuna Center (Mae-C) lembaga kewanitaan, sayap dari Aqsa Working Group (AWG) untuk ikut dalam misi Freedom Flotilla Coalition (FFC) berlayar menembus blokade Gaza.

Sama seperti Bang Rijal, ini adalah misi pertama bagi saya. Pertama kali ke luar negeri, pertama kali naik pesawat, pertama kali terlibat langsung dalam misi besar yang diikuti 1000 lebih aktivis dari 40 negara, menggunakan kapal melintasi laut Mediterania membawa 5500 ton bantuan untuk warga Gaza.

Sejak awal tiba di Istanbul, kami langsung ditempatkan di penginapan kawasan Fatih Istanbul oleh Bang Nur Ikhwan dan Nurhadis yang sudah terlebih dahulu tiba. Sengaja memilih tempat dekat dengan Markaz lembaga IHH dan Mavi Marmara Foundation.

Baru saja tiba di penginapan, kami diajak keluar makan dan belanja kebutuhan makanan seperti beras, telur, sayur-sayuran, dan lain-lain untuk bekal beberapa hari ke depan.

Bang Nur Ikhwan berpesan, untuk menghemat biaya operasional, kami harus masak sendiri. Alhamdulillah ada warga negara Indonesia yang bersedia meminjamkan kami Mini Magicom yang kami gunakan untuk masak.

Belum hilang lelah selama penerbangan yang menghabiskan waktu kurang lebih 24 jam, karena transit dan delay, kami diajak jalan kaki ke daerah pasar di belakang komplek Masjid Sultan Fatih. Saya pikir hanya beberapa puluh meter saja dari penginapan, nyatanya hampir 1 KM. Menjelang waktu maghrib, usai makan dan belanja kami kembali ke penginapan untuk istirahat.

Baca Juga:  Khutbah Idul Adha: Teladan Nabi Ibrahim dan Kesatuan Umat

Namun panitia FFC rupanya menjadwalkan pertemuan bagi relawan yang telah tiba di Istanbul setiap sore pukul 19.00 waktu Istanbul. Tak terlalu jauh memang, kurang lebih 500 M dari penginapan, tapi ya lagi-lagi jalan kaki. Pulang pergi ya 1 KM juga.

Keesokan harinya, kami diundang oleh Syeikh Omar, ulama Palestina untuk silaturahim ke rumahnya, beliau bilang sudah menyiapkan Nasi Qidreh khas Palestina untuk kami. Semua relawan Indonesia yang berjumlah enam orang diundang hadir untuk makan bersama di rumahnya.

Untuk mencapai rumahnya, kami lagi-lagi harus berjalan kaki sejauh hampir 2 KM menuju stasiun trem Yusuf Pasa. Keringat mulai mengucur meski cuaca agak dingin. Tak apa pikirku, nanti di trem bisa duduk istirahat. Rupanya bagai pungguk merindukan bulan.

Saya harus berdiri di dalam trem kurang lebih satu jam. Tak cukup disitu, kami harus berjalan kaki lagi dari stasiun tujuan menuju rumahnya yang berjarak 1 KM.

Setelah kembali ke penginapan dan istirahat, keesokan harinya merasakan pegal-pegal di kaki. Memang selama beberapa hari berada di Istanbul, saya memperhatikan hilir mudik orang berjalan kaki bahkan dengan langkah cepat, dan dengan jarak yang tidak dekat. Seolah terbiasa jalan kaki dengan jarak tempuh yang jauh.

Baca Juga:  Di Tengah Konflik, Muslim Rohingya Diusir, Rumah pun Dibakar

Tentu berbeda dengan apa yang saya lakukan di Indonesia. Untuk sekedar ke warung berjarak 100 M, saya biasa menggunakan sepeda motor.

Belum lagi tubuh saya harus merasakan suhu di Istanbul yang mencapai 10-19°C sementara saat di Lampung suhu cuaca mencapai 34°C. Bagi warga Eropa tentu tidak terlalu dingin, bahkan saya melihat beberapa orang hanya menggunakan baju kaos saat keluar rumah.

Hari berikutnya kami harus berjalan kaki hampir sejauh 3 KM. Saya duduk sejenak di pinggir jalan sambil memegangi betis yang semakin kencang seperti betisnya Cristiano Ronaldo. Bang Hadis yang melihat saya memegangi betis kemudian bertanya,”Pegel ya far?’’ tanyanya sambil tertawa. “Ngk terlalu sih Bang,” jawabku.

“Itulah manfaat pelatihan Far, supaya kita punya ketahanan fisik yang baik saat misi-misi kemanusiaan seperti ini,” lanjut Bang Hadis.

Teringat dua bulan lalu, saya baru saja mengikuti pelatihan SAR yang digelar oleh Ukhuwah Al-fatah Rescue (UAR) Lampung yang diketuai Pak Sulaiman Abdullah. Terbayang wajah Pak Babinsa, Serda Ayatullah Khomaini dan Pak Bhabinkamtibmas, Aipda Heru Ismantoro yang melatih fisik kami dengan baris berbaris  atau PBB dan lainnya.

Saat itu terasa pegal-pegal kaki setelah sekitar dua jam latihan PBB. Tak cukup disitu, Pak Heru mengajak kami turun ke sungai, menyusuri sungai sejauh 1 KM, tak terlalu dalam memang, namun ada beberapa sisi lekukan sungai yang dalamnya setinggi leher.

Baca Juga:  Berqurban Mempererat Ukhuwah Islamiyah

Sampai di titik terakhir susur sungai, pak Heru dan Pak Ayat sudah menunggu, kami disimulasikan untuk mencari korban tenggelam di sungai tersebut. Tidak ada satu senti pun yang tidak basah dari tubuh kami. Bahkan sebelum usai simulasi, hujan turun. Kami diminta sholat di pinggir sungai dalam kondisi hujan deras. Dingin terasa di sekujur tubuh.

Saat di Istanbul inilah saya baru betul-betul memahami manfaat dari pelatihan yang selama ini saya jalani. Selama mengikuti pelatihan UAR, tentu kesal dengan para pelatih yang kadang dirasa tidak manusiawi memperlakukan kami. Berdiri berjam-jam latihan PBB, lalu turun dan berendam di sungai dalam kondisi hujan pula.

Inilah waktunya saya mengimplementasikan ilmu yang pernah saya dapatkan selama pelatihan di UAR. Kepedulian terhadap sesama yang membutuhkan pertolongan. Teringat juga apa yang dikatakan Kepala Bidang Diklat UAR Lampung, Mustofa kepada saya saat pelatihan. “Nte nanti ngerasain manfaatnya pelatihan seperti ini,” katanya.

Saya sadar, tidak ada yang sia-sia dari pelatihan yang saya dapatkan. Ilmu yang selama ini saya dapatkan, sangat berguna bagi saya ketika berada di Istanbul Turkiye bersiap berlayar menuju Gaza bersama dengan 1000 lebih relawan dari 40 negara ikut dalam misi kemanusiaan Freedom Flotilla to Gaza mengantarkan 5500 ton bantuan makanan dan obat-obatan. Terimakasih UAR. (A/jsm/B03/B04)

Mi’raj News Agency (MINA)

Wartawan: hadist

Editor: Zaenal Muttaqin