Setiap Muslim, Berharap Husnul Khatimah

Oleh Bahron Ansori, wartawan MINA

Bila hidup adalah pilihan, maka kematian pun pilihan. Bagi seorang muslin, pilihan mati dalam keadaan husnul khatimah (akhir kematian yang baik) adalah cita-cita utama. Berikut beberapa ikhtiar dan amal yang insyaallah semakin mendekatkan kita kepada akhir kehidupan yang baik (husnul khatimah).

Pertama, memperbanyak Doa. Untuk dapat menjalani kehidupan yang penuh dengan liku-liku diperlukan keteguhan hati untuk istiqomah pada agama Allah Swt. Rasulullah saw sering berdoa dengan doa di bawah ini.

“Syahr bin Hausyab ra mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Ummu Salamah, ‘Wahai ibu orang-orang beriman, doa apa yang selalu diucapkan Rasulullah saw saat berada di sampingmu? Ia menjawab, ‘Doa yang banyak diucapkan ialah, “(Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku berpegang pada agamamu). Nabi saw bersabda, ‘Wahai ummu Salamah, tidak ada seorang manusia pun, kecuali hatinya berada antara dua jari Tuhan yang Maha Rahman. Maka siapa saja yang Dia kehendaki, Dia luruskan, dan siapa saja Dia kehendaki, Dia biarkan dalam kesesatan”. (HR. At-Tirmidzi).

Setelah sahabat Mu’adz bin Jabal mendengar keterangan ini, dia membaca ayat yang artinya (Mereka berdoa), “Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (Qs. Ali-Imran: 8).

Kedua, Al-Khauf (Rasa Takut) kepada Allah Swt dari akhir kehidupan yang buruk. Rasulullah saw bersabda, “Siapa takut akan serangan musuh di akhir malam maka ia segera melakukan perjalanan di awalnya. Barangsiapa yang melakukan perjalanan awal malam maka ia akan sampai pada tujuan. Ketahuilah sesungguhnya dagangan Allah itu teramat mahal, (dagangan Allah itu adalah surga).” (HR. At-Turmudzi).

Ketiga, taubat dan mengiringinya dengan amal shalih. Rasulullah saw bersabda, “Orang yang bertaubat dari dosanya bagaikan orang yang tak berdosa.” (HR. Ibnu Majah).

Keempat, tidak panjang angan-angan. Rasulullah saw bersabda, “Bersegeralah beramal menghadapi tujuh perkara. Tiadalah yang kalian tunggu melainkan kefakiran yang membuat lupa; kekayaan yang menjadikan sewenang-wenang; sakit yang merusak; kerentaan yang membinasakan; kematian yang menyedihkan; dajjal, maka ia adalah seburuk-buruk perkara ghaib yang ditunggu; ataukah hari kiamat, maka itulah yang paling dahsyat dan paling getir.” (HR. At-Tirmidzi).

Kelima, benci terhadap maksiat dan menjauhinya. Perbuatan maksiat menjadikan hati semakin kotor dan berkarat. Hati semacam itu tidak akan pernah memancarkan hidayah Allah Swt. Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda, “Melakukan maksiat terus-menerus mengantarkan pelakunya kepada su’ul khatimah (akhir kematian yang buruk). Rasulullah saw bersabda, “Siapa meninggal dalam suatu keadaan (tertentu), niscaya Allah Swt akan membangkitkan (di hari kiamat) dalam keadaan seperti itu. (HR. Ahmad).

Keenam, sabar menghadapi cobaan dan musibah serta berbaik sangka (husnu zdhan) kepada Allah. Dunia adalah negeri cobaan. Manusia senantiasa diuji dan diberikan cobaan baik cobaan musibah atau cobaan kesenangan. Cobaan kesenangan dan kemudahan membutuhkan sikap bersyukur. Syukur atas nikmat kesenangan ini termasuk ketaatan yang juga membutuhkan kesabaran. Sehingga tidak bisa bersyukur kecuali dengan sabar dalam melaksanakan ketaatan.

Ketujuh, menyadari bahwa kehidupan dunia amat pendek, sementara akhirat dengansegala kenikmatannya adalah kekal. Allah Swt berfirman, “Tetapi kamu (orang-orang) kafir memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Qs. al-A’la: 16 – 17).

Rasulullah saw bersabda, “Sungguh perumpamaan dunia di akhirat ibarat seseorang di antara kamu mencelupkan tangannya ke laut lalu diangkat, maka hendaklah ia perhatikan dengan apa tangannya itu kembali?” (HR. Ibnu Majah). Bagaimana dengan kita? Inginkah kita meraih husnul khatimah? (A/RS3/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)