SHALAT ISTISQA MINTA HUJAN YANG PENUH MANFAAT

Ali Farkhan Tsani

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Tausiyah Kantor Berita Islam MINA (Mi’raj Islamic News Agency)

Beberapa bulan ini, beberapa daerah sedang mengalami musim kemarau panjang.Banyakdaerah yang kekeringan,susah mencari air bersih, bahkan terjadi kebakaran hutan.

Ada beberapa upaya mengatasi kekurangan air tersebut, seperti dengan menggali/mengebor tanah lebih dalam lagi hingga ratusan meter, menyediakan tangka air keliling, hingga mengadakan hujan buatan.

Namun sesungguhnya, ada satu lagi upaya yang tidak hanya mengandalkan kekuatan tenaga dan pikir semata.Tetapi upaya ibadah, memohon kepada Allah Sang Maha Kuasa, Yang Maha Segalanya, Yang menciptakan musim kemarau dan yang mengirimkan hujan, yakni mengadakan shalat istisqa, shalat minta hujan.

Pengertian Istisqa

Istisqa secara bahasa artinya meminta air minum dari orang lain untuk diri sendiri atau untuk orang lain.

Di dalam Kitab Fathul Bari Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menyebutkan, shalat istisqa adalah shalat meminta hujan kepada Allah, ketika terjadi kekeringan, dengan aturan dan tata cara tertentu.

shalat istisqa
Shalat Istisqa (entitashukum)

Waktu dan Tempat Shalat Istisqa

Pada kitab al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Muyasarah dinyatakan bahwa shalat istisqa dilakukan pada waktu kapanpun, selain waktu yang terlarang untuk shalat.

Adapun tempatnya dilakukan di tanah lapang, sebagaimana shalat id, kecuali di Mekah, dilakukan di Masjidil Haram.

Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abdullah bin Zaid Radhiyallahu ‘anhu  disebutkan, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam keluar menuju tanah lapang kemudian shalat istisqa, beliau menghadap kiblat dan membalik kain pakaian atasan beliau.

Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘Anhu menambahkan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ketika keluar untuk melaksanakan shalat istisqa, beliau berjalan dengan tunduk, tawadhu, khusyu, dan penuh perendahan diri kepada Allah.

Ini berbeda ketika keluar untuk shalat Idul Fitri dan Idul Adha dalam keadaan bersuka cita.

Hukum Shalat Istisqa

Shalat istisqa hukumnya sunnah muakkadah (Sunnah yang sangat dianjurkan, seperti shalat id), ketika terjadi musim kering/kemarau panjang.

Ibnu ‘Abdil Barr menyimpulkan bahwa para ulama telah bersepakat bahwa keluar beramai-ramai untuk shalat istisqa  dengan doa dan memohon kepada Allah untuk menurunkan hujan ketika musim kemaran hukumnya adalah sunnah, yang telah disunnahkan oleh Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wasallam.

Tata Cara Shalat Istisqa

Pelaksanaan shalat istisqa hampir sama dengan pelaksanaan shalat id, tidak diawali dengan adzan maupun iqamah. Hanya diumumkan saja kepada umat bahwa akan dilaksanakan shalat istisqa jam berapa dan di tempat mana.

Ulama ahli fiqih menganjurkan, agar tiga hari sebelum  shalat istisqa dilaksanakan, terlebih dahulu seorang pemimpin atau ulama setempat menyerukan kepada masyarakat agar melaksnakan puasa (shaum) sunah dan bertaubat meninggalkan segala bentuk kemaksiatan serta kembali beribadah, menghentikan perbuatan yang zalim dan mengusahakan perdamaian.

Kaum Muslimin dan muslimat yang melaksanakan shalat istisqa, sebaiknya memakai pakaian yang sederhana, tidak berhias dan tidak pula memakai wewangian.

Hal ini seperti disebutkan di dalam hadits :

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: خَرَجَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَوَاضِعاً مُتَبَذِّلاً مُتَخَشِّعاً مُتَرَّسِلاً مُتَضَرِّعاً فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَمَا يُصَلِّيْ فِى الْعِيْدِ

Artinya: Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam keluar dengan penuh tawadhu’, berpakaian sederhana, penuh kekhusyuan, tidak tergesa-gesa, lalu memohon dengan penuh kesungguhan, kemudian beliau melakukan shalat dua rakaat seperti Shalat pada hari raya.” (H.R. Imam Ibnu Majah).

Setelah semua berkumpul di tanah lapang, imam shalat yang sekaligus khatib berdiri di depan makmum, kemudian shalat dua rakaat. Setelah itu dilanjutkan dengan khutbah.

Pada rakaat pertama setelah takbiratul ihram (takbir pertama), dilanjutkan bertakbir 7 (tujuh) kali dan pada rakaat kedua setelah bangkit dari sujud, bertakbir 5 (lima) kali.

Setelah takbir ketujuh, kemudian membaca doa iftitah, surat al-fatihah, dan surat. Tidak ada surat tertentu yang dianjurkan untuk dibaca, sehingga bisa membaca surat apapun.

Ruku’, i’tidal, sujud, dan seterusnya sampai berdiri pada rakaat kedua, sama dengan shalat seperti biasanya. Begitu juga pada rakaat kedua, setelah takbir 5 (lima) kali, membaca al-fatihah, surat, begitu setersunya sampai salam. Setelah itu imam shalat melaksanakan khutbah.

Namun sebagian ulama ahli fiqih juga berpedapat bahwa tata cara shalat istisqa adalah sebagaimana shalat sunnah biasa, yaitu sebanyak dua rakaat tanpa ada tambahan takbir dan lainnya sebagaimana pada shalat id.

Hal ini didasari hadits dari Abdullah bin Zaid, yang menyebutkan bahwa “Nabi Shallallahu ’Alaihi Wasallam keluar menuju lapangan. Beliau meminta hujan kepada Allah dengan menghadap kiblat, kemudian membalikan posisi selendangnya, lalu shalat dua rakaat. (pada hadits riwayat Bukhari dan Muslim).

Ini juga menunjukkan beliau khutbah dan berdoa terlebih dahulu, baru kemudian shalat istisqa.

Ibnu Qudamah Al-Maqdisi setelah menjelaskan dua tata cara ini mengatakan bahwa mengerjakan yang mana saja dari dua cara tersebut adalah boleh dan baik.

istisqo 2
Mendengarkan khutbah shalat istisqa (abuazmashare2014)

Khutbah Istisqa

Khutbah shalat istisqa sendiri memiliki beberapa ciri atau ketentuan tersendiri antara lain: Khatib disunahkan memakai selendang/sorban.

Pada khutbah pertama hendaknya membaca  istighfar 9 (sembilan0)  kali sedangkan pada khutbah kedua 7 (tujuh) kali. Isi khutbah berupa anjuran untuk memperbanyak beristighfar dan merendahkan diri kepada Allah, serta berkeyakinan bahwa permintaannya akan dikabulkan oleh-Nya.

Pada khutbah kedua khatib berpaling, dari yang sebelumnya menghadap jamaah, kemudian berpaling menghadap ke arah kiblat (membelakangi makmum) dan berdoa bersama-sama, dengan mengangkat tangan tinggi-tinggi. Di samping itu, khatib mengubah posisi sorban yang diletakkan pada bahu/pundak, yaitu dengan meletakkan posisi yang di atas dibalik ke bawah, serta yang kanan dibalik ke kiri dan sebaliknya. Hal tersebut sebegai tanda pengharapan kepada Allah agar mengubah kondisi kemarau menjadi penuh hujan rahmat dan manfaat.

Seperti disebutkan di dalam hadits:

    عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: خَرَجَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْماً يَسْتَسْقِيْ، فَصَلَّى بِنَا رَكْعَتَيْنِ بِلاَ أَذَانٍ وَلاَ إِقَامَةٍ، ثُمَّ خَطَبَنَا وَدَعَا اللهَ، وَحَوَّلَ وَجْهَهُ نَحْوَ الْقِبْلَةِ رَافِعاً يَدَيْهِ، ثُمَّ قَلَّبَ رِدَاءَهُ: فَجَعَلَ اْلأَيْمَنَ عَلَى اْلأَيْسَرِ وَاْلأَيْسَرِ عَلَى اْلأَيْمَنِ

Artinya: Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata : “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam keluar pada hari beliau meminta hujan (istisqa), kemudian beliau shalat bersama kami tanpa adzan dan tanpa iqamah. Beliau berkhutbah dan berdoa kepada Allah dan menghadapkan wajahnya ke kiblat serta mengangkat kedua tangannya, kemudian beliau membalikkan sorbannya yaitu dengan meletakkan yang kanan di kiri dan yang kiri di kanan.” (HR. Imam Ibnu Majah).

Adapun anjuran untuk memperbanyak istighfar pada hari istisqa, sesuai dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bahwa persyaratan agar Allah menurunkan hujan adalah banyak memohon ampun.

اِسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً * يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَاراً

Artinya: “Mintalah ampun kalian kepada Tuhan kalian, sesungguhnya Dia Maha Pengampun, Dia-lah yang menurunkan hujan dari langit untuk kalian dengan begitu derasnya.” (QS. Nuh : 10-11).

Dianjurkan bagi mereka yang menghadiri pelaksanaan shalat istisqa’ untuk membawa anak-anak kecil, orang tua dan binatang ternak. Sebab  musibah kemaraupanjang tersebut mengenai mereka semua.

Contoh Teks Khutbah Istisqa

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

 9x اَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ

اَلَّذِىْ لاَ اِلهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَاَتُوْبُ اِلَيْهِ.

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِىْ خَلَقَ السَّموَاتِ وَاْلاَرْضَ فِى سِتَّةِ اَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَآءِ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلاً.

أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ خَيْرُ مَبْعُوْثٍ حَوى شَرَفًا وَفَضْلاً.

اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى مُحَمَّدٍ وَعَلى الِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ نَالُوْنَ الْمَقَامَ الْعُلى.

اَمَّا بَعْدُ : فَيَآ اَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Hadirin dan hadirat jamaah Istisqa’ rahimakumullah

Dalam suasana keprihatinan musim kemarau panjang ini, marilah kita selalu bertafakur secara mendalam, melihat ke dalam diri kita masing-masing tentang sampai di manakah kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah. Lebih-lebih pada saat ini kita sedang diuji oleh-Nya, dengan musim kemarau dan kekeringan yang berkepanjangan, hujan pun belum kunjung turun.

Oleh sebab itu marilah kita segera bertobat, memperbaiki diri, memperbanyak istighfar, mengisi sisa hidup ini dengan amal shaleh dan nilai-nilai ketakwaan. Sehingga dengan demikian, semoga Allah selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada kita, dan segera mengirim dan menurunkan hujan ke bumi. Amin.

Hadirin dan hadirat rahimakumullah

Dalam kondisi keprihatinan seperti, bertobat adalah menjadi hal penting yang harus dilakukan secara serius dan sungguh-sungguh oleh kita semua. Bertobat kepada Allah, menyesali kelalaian, kesombongan, serta perilaku kita yang bertentangan dengan ajaran-Nya, perilaku saling bercerai-beraih, permusuhan dan pertikaian, yang harus segera diakhir sebagai ummatan wahidah. Lalu kita mengisi kehidupan ini dengan kebajikan dan amal shaleh.

Allah mengingatkan kita di dalam firman-Nya :

يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْا تُوْبُوْا اِلَى اللهِ تَوْبَةً نَصُوْحًا عَسى رَبُّكُمْ اَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنّتٍ تَجْرِىْ مِنْ تَحْتِهَا اْلاَنْهَارُ يَوْمَ لاَ يُخْزِى اللهُ النَّبِيَّ وَالَّذِيْنَ امَنُوْا مَعَهُ

Artinya : ”Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dia.” (QS. At-Tahrim : 6).

Sadar ataupun tidak, musim kemarau panjang dan kekeringan yang sedang menimpa kita ini, sesungguhnya sebagai akibat dari perbuatan kita sendiri yang telah menyimpang dari sunnatullah.

Allah lagi-lagi menegur kita dalam ayat-Nya:

مآ اَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللهِ وَمَآ اَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ وَاَرْسَلْنكَ لِلنَّاسِ رَسُوْلاً وَكَفى بِاللهِ شَهِيْدًا

Artinya : ”Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS. An-Nisa :79).

Oleh karena itu, hadirin dan hadirat yang sama-sama mengharap ridha dan ampunan Allah

Marilah kita segera memohon ampun secara bersungguh-sungguh kepada-Nya dan mengisi setiap kesempatan dengan amal shaleh.

Ingatlah akan firman-Nya:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ اِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا. يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا. وَيُمْدِدْكُمْ بِاَمْوَالِ وَبَيْنَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنّتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ اَنْهرًا

Artinya : ”Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh : 10-12).

Semoga cobaan yang kita hadapi, berupa kemarau panjang dan kekeringan ini segera berakhir, dan Allah segera menurnkan hujan membasahi bumi, sebagai rahmat dan manfaat yang memberkahi kehidupan kita ini. Amin.

Khutba kedua, posisi imam/khatib berbalik menghadap kiblat.

 7x اَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ

, اَلَّذِيْ لاَ اِلٰهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَاَتُوْبُ اِلَيْهِ.

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ غَفَرَ ذُنُوْبَ التَّائِبِيْنَ وَمَنْ اَنَاب.

وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةَ عَبْدٍ يَرْجُوْ مِنْ رَبِّهِ خَيْرَ الثَّوَابِ.

وَاَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْهَادِىْ اِلَى الصَّوَابِ.

اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ اُوْلِى اْلاَلْبَابِ.

اَمَّا بَعْدُ : فَيَا اَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. وَتُوْبُوْا اِلَى اللهِ تَوْبَةً نَصُوْحًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ.

وَاسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ اِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا. وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالِ وَبَنِيْنَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ اَنْهَارًا.

وَقَالَ اللهُ تَعَالَى : اِنَّ اللهَ وَمَلٰئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اٰلِ اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اٰلِ اِبْرَاهِيْمَ. فِى الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ جَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اْلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ.

اَللّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيْثًا هَنِيْئًا مَرِيْئًا مَرِيْعًا غَدَقًا مُجَلَّلاً سَحًّا طَبَقًا دَائِمًا اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ وَلاَ تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِيْنَ. اَللّهُمَّ اِنَّا نَسْتَغْفِرُكَ اِنَّكَ كُنْتَ غَفَّارًا فَأَرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْنَا مِدْرَارًا. اَللّهُمَّ اِنَّ بِالْعِبَادِ وَالْبِلاَدِ مِنَ الْجَهْدِ وَالْجُوْعِ وَالضَّنْكِ مَالاَ نَشْكُوْا اِلاَّ اِلَيْكَ.

اَللّهُمَّ اَنْبِتْ لَنَا الزَّرْعَ وَاَدِرَّلَنَا الضَّرْعَ وَاَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ وَأَنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ اْلاَرْضِ وَاكْشِفْ عَنَّا مِنَ الْبَلاَءِ مَالاَ يَكْشِفُهُ غَيْرُكَ.

اَللّهُمَّ اِنَّا نَسْتَغْفِرُكَ مِنَ الْمَعَاصِى الَّتِىْ تُزِيْلُ النِّعَمَ وَنَسْتَغْفِرُكَ مِنَ الْمَعَاصِى الَّتِىْ بِهَا تَحُلُّ النِّقَمَ وَنَسْتَغْفِرُكَ مِنَ الْمَعَاصِى الَّتِىْ بِهَا تُثِيْرُ اْلاَذٰى وَنَسْتَغْفِرُكَ مِنَ الْمَعَاصِى الَّتِىْ بِهَا تَحْبِسُ غَيْثَ السَّمَاءِ.

اَللّهُمَّ اِنَّكَ اَمَرْتَنَا بِدُعَائِكَ وَوَعَدْتَنَا بِإِجَابَتِكَ, وَقَدْ دَعَوْنَاكَ كَمَا اَمَرْتَنَا فَأَجِبْنَا كَمَا وَعَدْتَنَا.

اَللّهُمَّ فَامْنُنْ عَلَيْنَا بِمَغْفِرَةِ مَا قَارَفْنَا وَاِجَابَتِكَ فِيْ سُقْيَانَا وَسَعَةٍ فِى رِزْقِنَا.

لاَ اِلٰهَ إِلاَّ اللهُ الْحَلِيْمُ لاَ اِلٰهَ إِلاَّ اللهُ رَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ.

لاَ اِلٰهَ إِلاَّ اللهُ رَبُّ السّمٰوَاتِ وَرَبُّ اْلاَرَضِيْنَ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ.

رَبَّنَا اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ  إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَخْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْئَلُوْا مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ.

Do’a Istisqa

Di antara doa shalat istisqa lainya yang bisa juga dibaca oleh khatib dan diaminkan makmum adalah:

اَللَّهُمَّ اجْعَلْهَا سُقْياَ رَحْمَةٍ، وَلاَ تَجْعَلْهَا سُقْياَ عَذَابٍ، وَلاَ مَحْقٍ وَلاَ بَلاَءٍ، وَلاَ هَدْمٍ وَلاَ غَرْقٍ.

اَللَّهُمَّ عَلَى الظُّرَّابِ وَاْلآكَامِ، وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ وَبُطُوْنِ اْلأَوْدِيَةِ،

اَللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلاَ عَلَيْنَا.

اَللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثاً مُغِيْثاً، هَنِيْئاً مَرِيْئاً مُرِيْعاً، سَحاً عَاماً غَدْقاً طَبَقاً مُجَلَّلاً، دَائِماً إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللَّهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ وَلاَ تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِيْنَ،

اَللَّهُمَّ إِنَّ بِالْعِبَادِ وَالْبِلاَدِ مِنْ الْجُهْدِ وَالْجُوْعِ وَالضَّنْكِ، مَا لاَ نَشْكُوْ إِلاَّ إِلَيْكَ.

اَللَّهُمَّ أَنْبِتْ لَنَا الزَّرْعَ وَأَدِرَّ لَنَا الضَّرْعَ، وَأَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ، وَأَنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ اْلأَرْضِ، وَاكْشِفْ عَنَّا مِنَ الْبَلاَءِ مَا لاَ يَكْشِفُهُ غَيْرُكَ،

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَغْفِرُكَ إِنَّكَ كُنْتَ غَفَّاراً، فَأَرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْنَا مِدْرَاراً

Artinya: “Ya Allah jadikanlah curahan ini sebagai rahmat dan jangan engkau jadikan curahan ini sebagai siksa, bukan kehancuran, bahaya, kerusakan dan bukan pula ketenggelaman bagi kami.

Ya Allah turunkanlah hujan pada bukit-bukit, tumbuh-tumbuhan dan lembah-lembah.

Ya Allah turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan hujan yang berakibat buruk atas kami.

Ya Allah turunkanlah hujan yang melepaskan kami dari paceklik, tanpa disertai kesusahan, baik akibatnya, subur dengan kesegaran, deras dan lebat yang menyeluruh pada permukaan bumi terus-menerus manfaatnya sampai hari Kiamat.

Ya Allah turunkanlah hujan untuk kami dan jangan Engkau jadikan kami orang-orang yang berputus asa karena hujan yang belum turun.

Ya Allah sungguh hamba-hamba-Mu serta negeri-negeri mereka tertimpa kesulitan, kelaparan dan paceklik yang dahsyat, sungguh tiada kami mengadu melainkan hanya kepada-Mu.

Ya Allah tumbuhkanlah kebun-kebun untuk kami dan perbanyaklah susu kambing, turunkanlah barakah dari langit, tumbuhkanlah barakah-barakah bumi, keluarkanlah kami dari bahaya yang tiada seorangpun yang bisa mengeluarkannya melainkan hanya Engkau.

Ya Allah sesungguhnya kami memohon ampun kepada-Mu, sesungguhnya Engkau maha pengampun, maka turunkanlah hujan dari langit untuk kami.”
(H.R. Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Sebagai catatan, tentu khutbah tidak harus persis seperti tersebut. Bisa lebih disederhanakan lagi, yang pada intinya adalah mengingatkan manusia untuk memperbanyak ampunan serta memohon hujan yang barakah.

Kalaupun tata caranya ada yang tidak sama persis, misalnya takbirnya dalam hitungan ternyata tidak sembilan kali, hanya delapan kali, atau lupa tidak membawa sorban, atau lainnya, shalatnya tetap sah selama dikerjakan dua rakaat.

Penulis ketika mendapat amanah (tugas) di Pesantren Al-Fatah Muhajirun, Natar, Lampung Selatan, beberapa tahun lalu, diminta memimpin shalat istisqa di lapangan pesantren. Dihadiri jamaah dari kalangan orang tua, hingg anak-anak, laki-laki perempuan, hingga binatang ternak dibawa ke lapangan.

Allah Maha Mendengar perimntaan masyarakat setempat, sore hari setelah shalat istisqa, langit mulai mendung pertanda hujan akan segera datang. Keesokan harinya hujan pun turun dengan cukup lebat, dan insya Allah hujan yang membawa manfaat dan barakah. Begitu hari-hari selanjutnya, sehingga warga sekitarnya menikmati kembali guyuran hujan setelah ditimpa musim kemarau yang cukup panjang.

Saat hujan turun itulah, kita dianjurkan berdoa:

اَللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا

Artinya: “Ya Allah semoga hujan membawa manfaat”. (HR. Bukhari).

hujan berkah
Semoga hujan membawa manfaat. (Misbah/MINA

Pada waktu hujan turun itulah, kita pun dianjurkan untuk memuji Allah, membesarkan nama-Nya, dan memohon kebaikan pada-Nya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyebutkan di dalam sabdanya yang artinya,“Dua doa yang tidak pernah ditolak Allah, doa ketika waktu adzan dan doa ketika waktu hujan”. (H.R. Al-Hakim).

Penyebab Terjadinya Kemarau

Sebab terjadinya kekeringan atau kemarau yang berkepanjangan, bencana alam serta musibah-musibah lain secara umum adalah karena banyaknya manusia yang telah berbuat maksiat kepada Allah.

Allah mengingatkan di dalam firman-Nya :

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ

Artinya:Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).(QS. Asy Syuraa: 30).

Selain merebaknya maksiat secara umum, juga banyaknya orang-orang yang enggan membayar zakat serta banyaknya kecurangan dalam jual beli, menjadi penyebab khusus kekeringan dan masa-masa sulit. Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wasallam mengingatkan umatnya dalam sebuah hadits, yang artinya :

Wahai sekalian kaum muhajirin, kalian akan diuji dengan lima perkara dan aku memohon perlindungan Allah agar kalian tidak ditimpa hal-hal tersebut.

(1)Ketika perbuatan keji merajalela di tengah-tengah kaum hingga mereka berani terang-terangan melakukannya, akan menyebar penyakit menular dan kelaparan yang belum pernah mereka alami sebelumnya.

(2)Ketika orang-orang gemar mencurangi timbangan, akan ada tahun-tahun yang menjadi masa sulit bagi kaum muslimin dan penguasa berbuat jahat kepada mereka.

(3)Ketika orang-orang enggan membayar zakat, air hujan akan ditahan dari langit. Andaikata bukan karena hewan-hewan ternak, niscaya hujan tidak akan pernah turun.

(4)Ketika orang-orang mengingkari janji terhadap Allah dan Rasul-Nya, Allah akan menjadikan musuh dari selain mereka berkuasa atas mereka, kemudian mengambil sebagian apa yang ada di tangan mereka,

(5)Ketika para penguasa tidak berhukum dengan Kitab Allah dan mereka memilih selain dari apa yang diturunkan oleh Allah, Allah akan menjadikan kehancuran mereka dari diri mereka sendiri”. (HR. Ibnu Majah).

Semoga Allah mengampuni segala dosa-dosa kita dan berkenan menurunkan hujan yang membawa manfaat dan barakah untuk manusia. Aamiinya robbal ‘alaamiin. (P4/R02)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Comments: 0