Shalat Tahajud Penyebab Kemenangan dalam Jihad Melawan Musuh

Oleh: Imaamul Muslimin, Yakhsyallah Mansur

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasalam bersabda:

لَا تَنَافُسَ بَيْنَكُمْ إِلَّا فِى اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ أَعْطَاهُ اللّٰهُ عَزَّ وَجَلَّ قُرْآنًا فَهُوَ يَقُوْمُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءً النَّهَارِ وَيَتَّبِعُ مَا فِيْهِ، فَيَقُوْلُ رَجُلٌ: لَوْ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَعْطَانِي مَا أَعْطَى فُلَانًا فَأَقُوْمَ بِهِ كَمَا يَقُوْمُ، وَرَجُلٌ أَعْطَاهُ اللّٰهُ مَالًا فَهُوَ يُنْفِقُ وَيَتَّصَدَّقُ، فَيَقُوْلُ رَجُلٌ مِثْلَ ذٰلِكَ. (رواه الطبراني وأحمد وأبو يعلى من أبي سعيد بسند جيد)

“Janganlah di antara kalian berlomba-lomba kecuali dalam dua hal, yaitu pertama, Seseorang yang diberi Al-Qur’an oleh Allah kemudian dia membacanya dalam shalat pada beberapa waktu di malam dan siang hari, dan ia mengikuti apa yang ada di dalamnya. Kemudian seseorang yang mengatakan: “Seandainya Allah memberiku sebagaimana yang diberikan kepada si fulan maka aku akan melakukan amalan sebagaimana yang dia lakukan.” Kedua, Seseorang yang diberi oleh Allah harta kemudian dia menafkahkan dan mensedekahkan sebagiannya, dan seseorang yang mengucapkan seperti di atas” (Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Kabir, Ahmad dalam al-Musnad, Abu Ya’la dari hadis Abi Sa’id dengan sanad bagus sebagaimana dikatakan oleh al-Mundziri dalam at-Targhib wa at-Tarhib, al-Albani menilai sanadnya bagus dalam Sahih at-Targhib wa at-Tarhib, I: 261)

Pohon jihad fi sabilillah hanya bisa disirami dengan air mata orang-orang yang mengerjakan shalat tahajjud di kegelapan malam. Pohon itu hanya akan tumbuh dan berbunga dengan raka’at-raka’at dan sujud-sujud orang yang ta’at, merendahkan diri dan bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Taala.

Para peniti malam itu adalah pasukan berkuda yang handal pada siang harinya. Pasukan berkuda tidak akan menang melawan musuhnya selama ia tidak menjadi peniti malam, karena orang yang bangun pada malam hari untuk bermunajat kepada Allah Subhanahu wa Taala, merendahkan diri di hadapan-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, dan memohon kedudukan yang tinggi di bumi, adalah orang yang berhak mendapatkan pertolongan dari Allah Subhanahu wa Taala.

Ia akan diberi kekuatan oleh Allah Subhanahu wa Taala pada siang harinya. Qiyamul Lail adalah kunci kemenangan melawan musuh. Ini adalah pemahaman orang-orang saleh terdahulu. Seharusnya kita juga memahami dan menghubungkan antara kedua hal itu seperti pemahaman mereka.

Inilah metode yang paling utama apabila kita menginginkan kemenangan dan mendapatkan kedudukan yang mulia di hadapan umat manusia.

Nabi Muhammad Shallallahu Alahi Wasalam sebagai penghulu bagi para mujahid, dan imam bagi para pemimpin dan pembebas, telah membimbing kita untuk melakukan ajaran dasar ini. Beliau memberikan ajaran kepada kita dengan terlebih dahulu mengamalkannya sendiri, tidak hanya mengucapkannya saja.

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib , ia mengatakan: “Pada diri kita tidak ada prajurit berkuda pada perang Badar selain Al-Miqdad, dan aku melihat (pada malam perang Badar) tidak ada dalam kelompok yang tidak tertidur, kecuali Rasulullah Shallallahu Alahi Wasalam yang berada di bawah pohon mengerjakan shalat dan menangis sampai pagi.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, An-Nasa’i, Ibnu Huzaimah dan ia mensahihkannya, dan hadis ini juga disahihkan oleh Al-Albani dalam Shuha at-Targib wa at-Tarhib).

Ibnu Katsir menggambarkan yang dilakukan Nabi Shallallahu Alahi Wasalam pada malam perang Badar dengan mengatakan: “Rasulullah melewati malam itu dengan mengerjakan shalat di samping sebatang pohon, dan ketika bersujud beliau banyak mengucapkan: Ya Hayyu Ya Qayyum (Wahai Dzat Yang Maha Hidup kekal dan terus menerus mengurus makhluk-Nya). Beliau mengulang-ulang kata-kata tersebut dan dengan tekun mengerjakan Qiyamul Lail, menangis, berdoa, dan memohon untuk dibeli kemenangan. Beliau melakukan hal ini sampai pagi. Nabi Shallallahu Alahi Wasalam dalam doanya selalu mengucapkan:

اللّٰهُمَّ إِنِّي أَنْشُدُكَ عَهْدَكَ وَوَعْدَكَ، اللّٰهُمَّ إِنْ شِئْتَ لَمْ تُعْبَدْ

“Ya Allah, sesungguhnya aku mengingatkan-Mu akan jaminan dan janji-Mu. Ya Allah, jika Engkau menghendaki maka Engkau tidak akan disembah.”

Beliau dalam doanya selalu mengucapkan:

اللّٰهُمَّ لَا تُوَدِّعْ مِنِّى، اللّٰهُمَّ لَا تَتِرِرْنِى، اللّٰهُمَّ لَا تَخْذُلْنِى، اللّٰهُمَّ هَذِهِ قُرَيْشٌ قَدْ أَتَتْ بِخُيَلَائِهَا وَفَخْرُهَا تُجَادِلُ وَتُكَذِّبُ رَسُوْلَكَ، اللّٰهُمَّ فَنَصْرُكَ الَّذِي وَعَدْتَنِي.

“Ya Allah, janganlah meninggalkan diriku, ya Allah, janganlah terlambat memberi pertolongan kepadaku, ya Allah, janganlah Engkau tidak memberi petunjuk kepadaku. Ya Allah, orang-orang Quraisy ini telah datang dengan kesombongan dan kebanggaannya, mereka mendebat dan berbuat bohong kepada utusan-Mu. Ya Allah, pertolongan-Mu-lah yang Engkau janjikan kepadaku.”

Nabi Shallallahu Alahi Wasalam berdoa sampai selempangnya jatuh. Abu Bakar  datang dan mengambilnya dan meletakkan di pundaknya. Abu Bakar  berada di belakangnya dan berkata: “Wahai Nabi Allah, sudah cukup tuntutanmu kepada Tuhanmu. Allah akan memenuhi janji-Nya kepadamu.” Kemudian Allah Subhanahu wa Taala menurunkan firman:

إِذْ تَسْتَغِيْثُوْنَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّـي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِيْنَ. (الأنفال [٨]: ٩)

“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” (Q.S. Al-Anfal [8]: 9)

Kemudian Allah Subhanahu wa Taala menurunkan para malaikat kepada Nabi Shallallahu Alahi Wasalam (Ibnu Katsir, al-Bidayah wa an-Nihayah)

Ibnu Mas’ud mengatakan: “Aku tidak pernah mendengar doa yang sangat menuntut sesuatu (yang belum terwujud) melebihi doa Nabi Muhammad Shallallahu Alahi Wasalam kepada Tuhannya pada perang Badar: “Ya Allah, sesungguhnya aku mengingatkan-Mu atas apa yang Engkau janjikan kepadaku.” (Diriwayatkan oleh ath-Thabrani, hadis ini dipandang hasan oleh Ibnu Hajar)

Perilaku ini juga dilakukan oleh para sahabat ketika mereka berjihad melawan orang-orang kafir dan menaklukkan negeri-negeri dan kota-kota. Kemenangan mereka dalam menaklukkan negeri-negeri tersebut telah merendahkan musuh-musuh Islam.

Ketika pasukan Romawi kalah melawan orang-orang Islam, Hiraclius –raja Romawi– bertanya kepada pasukannya: “Menurut kalian, apa yang menyebabkan kalian kalah? (padahal jumlah pasukan orang Islam lebih sedikit)” Seorang yang tua dari pembesar Romawi mengatakan: “Karena mereka mengerjakan shalat pada malam hari dan puasa pada siang hari.” (Ibnu al-Qayyim bin Asakir, Tarikh Dimasyq)

Ketika pasukan Romawi terpukul mundur di negeri Syam dan Hiraclius melarikan diri dari Suriah menuju ibukota kerajaannya, ia berhenti melihat ke Suriah dengan mengucapkan selamat tinggal. Ia mengatakan: “Alaikassalam hai Suriah, ini ucapan selamat tinggal dan tidak akan bertemu lagi.” Ketika dalam perjalanan ke ibukota kerajaannya ia menanyakan kepada salah seorang pasukan Romawi yang telah menjadi tawanan orang Islam dan telah dibebaskan. Ia berkata: “Beri tahukan kepadaku tentang orang-orang Islam itu!” Pasukan Romawi tersebut menjawab: “Aku akan memberi tahukan kepada Tuan seakan-akan Tuan melihat mereka. Mereka adalah pasukan berkuda yang handal di siang hari dan menjadi pendeta pada malam hari. Mereka tidak makan kecuali sangat membutuhkan, mereka tidak masuk kecuali dengan mengucapkan salam, mereka berdiri menghadapi orang yang memeranginya sampai musuh datang kepada mereka.” Hiraclius berkata: “Jika benar yang kamu katakan, sungguh ia akan merebut tempat kedua kakiku ini.” (Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah)

Perilaku seperti ini juga dilakukan oleh para pemimpin pasukan Islam dan para pembebas pada masa-masa sesudahnya. Allah Subhanahu wa Taala memberikan kemenangan kepada mereka, juga memberikan kedudukan dan keunggulan di hadapan para musuhnya.

Shalat Tahajjud dan Pembebasan Masjidil Aqsha

Pasukan Salib memberikan komentar tentang Nuruddin Zanki, komandan pasukan Islam dalam merebut Masjidil Aqsha, sebelum Shalahuddin Al-Ayyubi mengatakan: “Al-Qasim bin Al-Qasim (yang dimaksudkan adalah Nuruddin Zanki) memiliki hubungan rahasia dengan Tuhannya. Ia mengalahkan kita tidak dengan pasukan dan tentara yang banyak, tetapi ia mengalahkan kita dengan doa dan shalat malam. Ia selalu mengerjakan shalat malam dan mengangkat tangannya kepada Tuhannya untuk berdoa. Tuhannya menjawab dan memberikan permintaannya sehingga Nuruddin dapat mengalahkan kita.” (Ibnu Katsir, al-Bidayah wa an-Nihayah)

Renungkanlah! Bagaimana orang kafir mengetahui rahasia ini, semen-tara orang-orang Islam sekarang ini banyak yang tidak mengetahui-nya. Mereka mencari kemuliaan, pertolongan dan mencari kedudukan tapi mengabaikan taat kepada Tuhan. Bagaimana perbuatan mereka itu?

Shalahuddin al-Ayyubi yang menjadi murid Nuruddin yang juga berjihad juga melakukan hal yang sama. Allah Subhanahu wa Taala memberikan kemenangan dan kedudukan yang tinggi kepadanya.

Al-Qadhi Bahauddin mengatakan: Ketika Shalahuddin mendengar bahwa musuh telah mendekat dan pertempuran pada peperangan melawan pasukan Salib akan segera dimulai, ia semalaman bersedih hati sambil memikirkan nasib kaum Muslimin. Ia melaksanakan shalat tahajjud dan berdoa dalam sujudnya dengan mengatakan: “Ya Tuhan, sumber-sumber alam telah terputus untuk menolong (mempertahankan) agama-Mu. Yang tertinggal padaku hanyalah berdiam dan menunggu pertolongan-Mu, memegang teguh tali Mu dan bergantung pada anugerah-Mu. Cukuplah Engkau menjadi Penolongku dan Engkau adalah sebaik baik Penolong.” Al-Qadhi Bahauddin mengatakan: “Aku melihat dia sujud dan air matanya mengalir di atas ubannya. Kemudian mengalir di atas tempat sujudnya dan aku tidak mendengar apa yang diucapkan. Keesokan harinya sebelum sore dia telah mendapat khabar kemenangan orang-orang Islam melawan musuh.” (Abdul-lah Alwan, Shalahuddin al-Ayyubi).

Akhirnya Masjidil Aqsha kembali ke tangan umat Islam pada Jum’at, 27 Rajab 583 H/2 Oktober 1187 M.

Salat Tahajud dan Pembebasan Konstantinopel

Shalat Tahajud, ini pula senjata utama Muhammad al-Fatih dalam mengarungi kehidupan di dunia yang fana ini. Inilah Pedang Malam, yang selalu diasahnya dengan tulus ikhlas dan khusyuk, ditegakkannya setiap malam. Dengan Pedang Malam ini timbul energi yang luar biasa dari pasukan Muhammad al-Fatih. Sejarah mencatat Muhammad al-Fatih yang baru berusia 21 tahun berhasil menggapai sukses besar, menerobos benteng Konstantinopel, setelah dikepung beberapa bulan maka takluklah Konstantinopel, pukul 05.37, Selasa 20 Jumadil Ula 875 H (1453 M).

Suatu hari timbul persoalan ketika pasukan Islam hendak melaksanakan shalat Jum’at yang pertama kali di kota itu. “Siapakah yang layak menjadi imam salat Jumat?” Tak ada jawaban. Tak ada yang berani menawarkan diri. Lalu Muhammad al-Fatih tegak berdiri, kemudian ia bertanya. “Siapakah di antara kalian yang sejak remaja hingga hari ini pernah meninggalkan shalat wajib lima waktu, silahkan duduk!” Tak seorangpun pasukan Islam yang duduk. Semua tegak berdiri. Dari sini kita bisa memahami bahwa tentara Islam pimpinan Muhammad al-Fatih sejak remaja hingga hari ini, tak seorang pun yang meninggalkan shalat fardhu. Tak sekalipun mereka melalaikan salat Fardhu.

Muhammad al-Fatih kembali bertanya, “Siapa di antara kalian yang sejak remaja hingga hari ini pernah meninggalkan shalat sunnah rawatib? Kalau ada yang pernah meninggalkan shalat sunnah sekali saja silahkan duduk! “Sebagian lainnya segera duduk. Artinya, pasukan Islam sejak remaja mereka ada yang teguh hati, tidak pernah meninggalkan shalat sunnah setelah Maghrib, dua rakaat sebelum Shubuh dan shalat rawatib lainnya. Namun ada yang pernah meninggalkannya. Betapa kualitas karakter dan keimanan mereka sebagai muslim sungguh bernilai tinggi, sungguh jujur pasukan Islam al-Fatih.

Dengan mengedarkan matanya ke seluruh rakyat dan pasukannya, Muhammad al-Fatih kembali berseru lalu bertanya, “Siapakah di antara kalian yang sejak masa akil baligh sampai saat ini pernah meninggalkan Shalat Tahajjud di kesunyian malam? Yang pernah meninggalkan walau hanya sekali silahkan duduk!” Apa yang terjadi. Terlukislah pemandangan yang menakjubkan, semua yang hadir dengan cepat duduk, hanya tinggal satu orang saja yang tetap tegak berdiri. Siapakah orang itu? Ia adalah Sultan Muhammad al-Fatih, sang pembebas benteng Super Power Konstantinopel. Ia adalah orang yang pantas menjadi imam shalat Jum’at hari itu. Karena hanya al-Fatih seorang yang sejak remaja selalu mengisi butir-butir malam sunyinya dengan bersujud kepada Allah Subhanahu wa Taala, tak kosong semalam pun.

Sejak abad kedelapan sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasalam berusaha merebut benteng Konstantinopel. Salah satunya Abu Ayyub al-Anshari namun gagal. Baru setelah enam abad kemudian benteng ini berhasil direbut dibawah kepemimpinan Muhammad al-Fatih. Karena jasanya inilah beliau diberi gelar al-Fatih (sang pembuka) yaitu membuka kota Byzantium yang dulunya adalah Konstantinopel. Ia adalah seorang pemberani, ahli strategi militer, juga istiqamah dalam salat Tahajud-nya.

Hikmah di balik kisah ini, salat Tahajud adalah wujud cinta kepada Allah Subhanahu wa Taala. Bayangkan saja, saat orang lain tengah terlena dalam dekapan malam dan buaian mimpi yang indah, kita bangun untuk menghadap Allah Subhanahu wa Taala, memanjatkan doa-doa dan memuji-Nya. Ini adalah pekerjaan yang berat, hanya orang-orang yang cinta kepada Allah Subhanahu wa Taala saja yang dapat melakukan ini.

Semoga kita termasuk orang-orang yang cinta kepada Allah Subhanahu wa Taala Aamiin. (A/R8/RS3/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)

Sumber:

Bersujud di Keheningan Malam, Muhammad Shalih Ali Abdillah Ishaq