Shalawat Kunci Pamungkas Doa (Oleh: Ridwan Ansyori, Mahasiswa STISQABM)

Oleh: Ridwan Ansyori, Mahasiswa Sekolah Tinggi Shuffah Al-Qur’an Abdullah bin Mas’ud (STISQABM)

Pasti semua manusia pernah berdoa menurut keyakinannya masing-masing. Anda, saya, mereka pasti memiliki harapan atau impian yang tidak dapat diraih hanya dengan usaha saja, melainkan harus disertai dengan doa yang tulus dan ikhlas.

Apalagi dalam ajaran agama Islam, doa merupakan senjata orang-orang yang beriman. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

الدُّعَاءُ سِلَاحُ الْمُؤْمِنِ وَعِمَادُ الدِّيْنِ وَنُوْرُ السَّمٰوَاتِ وَالْأَرْضِ

Artinya: “Doa itu senjata orang mukmin, tiang agama, serta cahaya langit-langit dan bumi.”

Orang yang tidak mau berdoa, Allah Ta’ala mengancam dengan siksaan api neraka. Jika seorang Muslim hanya mengandalkan usaha tanpa berdoa, berarti ia telah menganggap remeh Allah sebagai Sang Pencipta, pemelihara serta pengatur alam semseta ini.

Dia secara tidak sadar telah berlaku sombong atas usahanya tanpa melibatkan Allah sebagai Sang Khalik. Dalam hal ini, Allah mengingatkan di dalam firman-Nya:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Artinya: “Dan Tuhanmu berfirman, Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60)

Doa merupakan perkara ghaib dan hanya Sang Penciptalah yang dapat mengabulkan harapan dan keinginan manusia. Allah sebagai Sang Pencipta lebih mengetahui hajat kebutuhan setiap hamba-hamba-Nya. Jadi Allah akan mengabulkan do’a setiap hamba dari apa yang paling dibutuhkan bagi hamba-Nya.

Iringi dengan Shalawat

Pernahkan kita berdoa lantas tidak atau belum kunjung Allah kabulkan? Barangkali ada yang salah dalam doa kita atau kurang khusyu dalam doa yang kita lafazkan. Ketahuilah bahwa doa itu memiliki kunci agar setiap doa Allah kabulkan. Doa memiliki senjata pamungkas yang akan mengantarkannya  sampai ke langit untuk dikabulkan. Senjata pamungkas tersebut adalah shalawat atas Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam.

Sebagaimana dikatakan Umar bin Khattab:

إِنَّ الدُّعَاءَ مَوْقُوفٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، لَا يَصْعَدُ مِنْهُ شَيْءٌ، حَتَّى تُصَلِّيَ عَلَى نَبِيِّكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Artinya: “Sesungguhnya doa itu tertahan antara langit dan bumi, tidak naik sedikitpun darinya sehingga kamu bershalawat atas Nabimu Shalallahu alaihi Wasallam.” (HR Tirmidzi, no. 486).

Dan dari hadis Anas bin Malik ia berkata bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

كُلُّ دُعَاءِ مَحْجُوْبٌ حَتَّى يُصَلِّى عَلَى النَّبِيّ صلى الله عليه وسلم

Artinya: “Setiap doa tertahan hingga dibacakan shalawat atas Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam.” (HR. Dailami dan Baihaqi).

Dalam kitab Tsawabul Amal dijelaskan bahwa tidak ada doa yang naik ke langit kecuali si pendoa membaca shalawat atas Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dan keluarganya.

Shalawat juga merupakan perintah Allah Ta’ala kepada orang-orang yang beriman, sebagaimana termaktub dalam Al-Quran:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS Al-Ahzab: 56).

Shalawat secara bahasa adalah sanjungan atau penghormatan atas Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam.

Sedangkan menurut Imam Ja’far Ash-Shidiq, pengertian shalawat adalah:

الصلاة من الله رحمة ومن الملائكة تزكية ومن الناس دعاء

Artinya: “Shalawat dari Allah itu rahmat, sedangkan dari malaikat itu penyucian, dan dari manusia itu doa.”

Mengapa Kita Harus Bershalawat 

Setidaknya ada tiga sebab mengapa kita harus bershalawat kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, yaitu:

Pertama, Allah meninggikan nama Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, di samping nama-Nya

ورفعنالك ذكرك

Artinya: “Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu.” (QS Al-Insyirah: 4).

Kedua, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, diutus untuk Rahmatan lil ‘Alamin

وما أرسلنك إلا رحمة للعلمين

Artinya: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS Al-Anbiya’: 107).

Ketiga, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, memiliki akhlak yang Agung

وإنك لعلى خلق عظيم

Artinya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS Al-Qolam: 4).

Keistimewaan Shalawat

Adapun shalawat itu sendiri memiliki banyak keistimewaan, di antaranya:

Pertama, tanda keimanan seseorang. Seperti disebutkan di dalam hadits:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ

Artinya: Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Maka demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, tidaklah beriman seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orangtuanya dan anaknya.” (HR Bukhari).

Orang yang mencintai Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam akan senantiasa mengingat dan menyebut namanya setiap saat. Dan mencintai Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, itu merupakan tanda sempurnanya iman seseorang.

Kedua, mendapatkan rahmat Allah berlipat ganda. Sebagaimana sabdanya:

عَنْ عَبْدِاللهِ بْنِ عَمْرٍو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا اَنَّهُ سَمِعَ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا

Artinya: Dari Abdullah bin Amru bin Ash bahwasanya ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaih WQasallam bersabda : “Barang siapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali.” (HR Muslim).

Ketiga, dikumpulkan di surga bersama Nabi, Rasulullah Salallahu Alaihi Wasallam bersabda:

وعن ابن مسْعُودٍ أنَّ رسُول اللَّهِ ﷺ قَالَ: أَوْلى النَّاسِ بِي يوْمَ الْقِيامةِ أَكْثَرُهُم عَليَّ صَلاَةً

Artinya: Dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah bersabda: “Manusia yang paling berhak bersamaku pada hari kiamat ialah yang paling banyak membaca shalawat kepadaku.” (HR. Tirmidzi)

Keempat, mendapatkan syafaat Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. Ini terdapat di dalam hadits:

وعن عبدِ الله بن عمرو بن العاص رضي الله تعالى عنهما أنّه سَمِعَ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم يقول: إذا سَمِعْتُمُ النِدَاءَ فقولوا مثلَ ما يقولُ، ثمَّ صَلُّوا عَلَيَّ، فإنّه مَنْ صَلّى عَلَيَّ صلاةً صلى اللهُ عليه بها عَشْرَا، ثمّ سلوا اللهَ ليَ الوَسِيْلَةَ، فإنّها مَنْزِلَةٌ في الجنّة لا تنبغي إلاّ لِعَبْدٍ مِنْ عباد الله، وأرجو أن أكونَ أنا هو، فَمَنْ سألَ لِيَ الوَسِيْلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَفَاعَةَ

Artinya: Dari Abdullah bin Umar, dia mendengar Rasulllah Sallahu Alaihi Wasallam, bersabda: “Jika kalian mendengar adzan, maka ucapkanlah seperti yang diucapkan muadzin, kemudian bershalawatlah kepadaku. Sesungguhnya orang yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali. Lalu, mintalah kepada Allah wasilah untukku karena wasilah adalah sebuat tempat di surga yang tidak akan dikaruniakan, melainkan kepada salah satu hamba Allah. Dan aku berharap bahwa akulah hamba tersebut. Barang siapa memohon untukku wasilah, maka ia akan meraih syafaat.” (HR Muslim).

Kelima, ditinggikan derajatnya. Sebagaimana hadits mengatakan:

مَن صلَّى عليَّ صلاةً واحدةً صلَّى اللَّهُ عليهِ عشرَ صلَواتٍ ، وحُطَّت عنهُ عشرُ خطيئاتٍ ، ورُفِعَت لَهُ عشرُ درجاتٍ

Artinya: “Barangsiapa di antara umatmu yang bershalawat kepadamu sekali, maka Allah menuliskan baginya sepuluh kebaikan, menghapuskan dari dirinya sepuluh keburukan, meninggikannya sebanyak sepuluh derajat, dan mengembalikan kepadanya sepuluh derajat pula.” (HR. Ahmad)

Keenam, tidak termasuk yang celaka. Di dalam sebuah hadits disebutkan:

عن ابي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ

Artinya: Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah bersabda: “Celaka seseorang yang namaku disebut di sisinya namun ia tak mau bershalawat kepadaku.” (HR. Tirmidzi)

Shalawat tidak terikat waktu, kapan saja boleh diucapkan sekalipun dalam shalat (bacaan doa tasyahud), ketika santai, maupun ketika bekerja. Akan tetapi shalawat memiliki waktu istimewa yang dikhususkan untuk memperbanyaknya, yaitu pada hari Jum’at.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

أَكْثِرُوا عَلَىَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ فَإِنَّ صَلاَةَ أُمَّتِى تُعْرَضُ عَلَىَّ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ ، فَمَنْ كَانَ أَكْثَرَهُمْ عَلَىَّ صَلاَةً كَانَ أَقْرَبَهُمْ مِنِّى مَنْزِلَةً

Artinya: “Perbanyaklah shalawat kepadaku (Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam) pada setiap Jumat. Karena shalawat umatku akan diperlihatkan padaku pada setiap Jumat. Barangsiapa yang banyak bershalawat kepadaku, dialah yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti.” (HR Baihaqi).

Jadi, sudah menjadi suatu kewajiban kita untuk memperbanyak bershalawat atas Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, agar hajat yang kita inginkan dapat Allah kabulkan. Dan sebagai bentuk rasa cinta dan rindu kita kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Semoga dengan banyak bershalawat sebagai kunci pamungkas doa, akan menjadikan kita sebagai hamba-hamba terpilih yang akan mendapatkan syafaat dari Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, di Yaumil Qiyamah kelak. Aamiin

اللَّهُمَّ صَلِّ علَى مُحَمَّدٍ، وعلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كما صَلَّيْتَ علَى آلِ إبْرَاهِيمَ، إنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ علَى مُحَمَّدٍ وعلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كما بَارَكْتَ علَى آلِ إبْرَاهِيمَ، إنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

(A/Rid/R12/RS2)

Mi’raj News Agency (MINA).