Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Shamsi Ali: Pembebasan Al-Aqsha Amanah Iman dan Islam

Septia Eka Putri - Jumat, 19 Februari 2016 - 11:43 WIB

Jumat, 19 Februari 2016 - 11:43 WIB

402 Views ㅤ

Imam Shamsi Ali (Foto: Arsip)
Imam Syamsi Ali. (Foto: Arsip)

Imam Syamsi Ali. (Foto: Arsip)

New York, 11 Jumadil Awwal 1437/19 Februari 2016 (MINA) – Pimpinan Masjid Al-Hikmah, New York, Shamsi Ali mengatakan bahwa pembebasan Al-Aqsha adalah amanah iman dan Islam manusia.

Dia mengatakan, karena dalam iman umat Islam mengajarkan kemerdekaan. Selama masih ada penjajahan kepada sesama manusia, maka hati yang punya iman tidak akan tenang.

Islam kita mengajarkan kemerdekaan. Karena makna pertama dari kalimah Tauhid adalah melepaskan diri dari setiap wujud perbudakan atau penjajahan selain kepada Pencipta langit dan bumi,” ujar Imam Shamsi Ali kepada Mi’raj Islamic News Agency (MINA), Jumat (19/2).

Imam Shamsi Ali melanjutkan, karena itu adalah amanah Ukhuwah Islamiyah kita. Umat ini bagaikan satu tubuh. Jika ada sebagian anggota tubuh yang merasakan sakit maka keseluruhan anggota tubuh ikut menderita.

Baca Juga: Presiden Venezuela: Bungkamnya PBB terhadap Gaza adalah Konspirasi dan Pengecut

“Jangan umat ini pernah tenang tidur selama saudara-saudara kita masih terjajah,”tegasnya

Imam mengatakan, membebasakna Al-Aqsha adalah amanah konstitusi. UUD 45 mengamanatkan kepada bangsa untuk ikut menghapuskan penjajahan di atas dunia dan menjaga ketertiban dunia. Selama masih ada penjajahan maka selama itu pula bangsa akan resah. Penjajahan manusia atas manusia lain adalah bentuk kezaliman dunia yang harus diperangi.

“Yang menjadi masalah kemudian adalah bahwa umat dan bangsa kita tidak mungkin melakukan kewajiban itu selama memiliki inferioritas kompleks. Tidak punya rasa percaya diri atau self confidence, atau dalam bahasa agama “al-izzah az-zatiyah” di hadapan bangsa-bangsa besar dunia,”ujarnya.

Berpecah belah karena egoisme atau ananiyah hizbiyah yang tinggi. Perjuangan telah kehilangan ruh “fii sabilillah” menjadi fii sabiili al-hizbi. Pijakan telah bergeser dari “lillah” kepada “lil-ahwa” wa “lil-hizb”. Umat kehilangan sense of priority. Maka yang terpenting dikorbankan demi memburu hal-hal yang secondary dalam perjuangan,”jelasnya.

Baca Juga: Protes Agresi Israel di Gaza, Mahasiswa Tutup Perpustakaan Universitas New York

Imam mengatakan, Penyakit “wahan” telah menjadi kanker kronis dalam kehidupan dunia Islam. Perebutan kekuasaan, khususnya di dunia Arab, menjadikan umat kehilangan kekuatan.

“Umat saat ini bagaikan sepotong daging yang diperebutkan oleh anjing-anjing lapar. Bagaikan buih di tengah laut yang terombang-ambing tanpa arah,”katanya.

Wakil Ketua Majelis Dialog Antar Peradaban dan Keyakinan Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) itu
menyatakan, Indonesia diperlukan kepemimpinan Soekarno yang punya keberanian dan ketegasan. Bangsa Indonesia adalah bangsa besar dan hebat. Tapi diperlukan pengendali yang mahir dan cekatan, serta visioner.

“Presiden Obama telah meminta Presiden Jokowi untuk mengambil inisiatif dalam perdamaian Timur Tengah. Jangan sampai momentum ini hilang begitu saja. Saatnya Indonesia maju ke depan mempelopori perdamaian dunia. Itu amanah konstitusi,”jelasnya.

Baca Juga: AS Pertimbangkan Hapus HTS dari Daftar Teroris

Indonesia sebagai bangsa dengan penduduk terbesar dunia memiliki tanggung jawab khusus. Apalagi memang Indonesia adalah negara demokrasi ketiga dunia. Masanya membuktikan bahwa Islam dan demokrasi mampu sejalan dan menjadi pelopor perdamaian dan kesejahteraan manusia.

“Saya juga ingin mengingatkan agar konflik Timur Tengah jangan lagi dijadikan sekedar komoditas kepentingan politik di dunia Islam. Jangan karena ingin mencari simpatik masyarakat Islam, ingin menjadi pahlawan di siang bolong, konflik palestina dijual untuk kepentingan kampanye semata,”tegasnya.

“Dari tahun ke tahun kita peringati hari pembebasan Masjid Al-Aqsha. Tapi sayang juga kita saksikan dari hari ke hari Al-Aqsha semakin terjatuh ke dalam pelukan zionis penjajah.”

“Bertahun-tahun kita mengumbar amarah, dengan berbagai slogan. Tapi hasilnya minim bahkan sebaliknya saudara-saudara kita di Palestina semakin menderita. Untuk bangsa Indonesia membantu kemerdekaan Palestina dan memerdekakan Al-Quds dan masjidil Al-Aqsa dari penjajahan menjadi kewajiban yang berlipat ganda,”tutupnya.(L/P007/R05)

Baca Juga: Mahasiswa Yale Ukir Sejarah: Referendum Divestasi ke Israel Disahkan

 

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Baca Juga: Israel Caplok Golan, PBB Sebut Itu Pelanggaran

Rekomendasi untuk Anda

MINA Preneur
Indonesia
Kolom