Shenzhen, Kota Pertama di Cina yang Larang Warganya Konsumsi Kucing dan Anjing

Shenzhen, MINA – Kota Shenzhen di Cina mulai 1 Mei mendatang melarang warganya memakan anjing dan kucing sebagai bagian dari tindakan keras menghadapi wabah COVID-19.

Para ilmuwan menduga, COVID-19 ditularkan ke manusia dari hewan. Beberapa infeksi paling awal ditemukan pada orang-orang yang terpapar pasar satwa liar di pusat kota Wuhan, di mana kelelawar, ular, musang dan hewan lainnya dijual. Channel News Asia melaporkan, Sabtu (4/4).

Saat ini, COVID-19 telah menginfeksi lebih dari 935.000 orang di seluruh dunia dan membunuh sekitar 47.000 orang.

“Anjing dan kucing sebagai hewan peliharaan telah menjalin hubungan yang jauh lebih dekat dengan manusia daripada semua hewan lain, dan melarang konsumsi anjing dan kucing serta hewan peliharaan lainnya adalah praktik umum di negara-negara maju dan di Hong Kong dan Taiwan,” kata pemerintah kota itu dalam sebuah pernyataan.

Pemerintah provinsi dan kota di seluruh China telah bergerak untuk menegakkan keputusan tersebut, tetapi Shenzhen menjadi kota pertama yang paling eksplisit memperluas larangan itu.

Liu Jianping, Pejabat Pusat untuk Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Shenzhen, mengatakan,  persediaan unggas, ternak, dan makanan laut bagi konsumen sudah cukup.

“Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa satwa liar lebih bergizi daripada unggas dan ternak,” kata Liu seperti dilaporkan oleh media pemerintah, Shenzhen Daily.

Kampanye kota itu untuk menghentikan makan satwa liar mendapat pujian dari kelompok-kelompok kesejahteraan hewan.

“Shenzhen adalah kota pertama di dunia yang menganggap serius pelajaran dari pandemi ini dan membuat perubahan yang diperlukan untuk menghindari pandemi lain,” kata Teresa Telecky, Wakil Presiden Departemen Satwa Liar untuk Humane Society International.

“Langkah berani Shenzhen untuk menghentikan perdagangan dan konsumsi satwa liar ini adalah model yang harus ditiru oleh pemerintah di seluruh dunia,” ujarnya. (T/R7/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)